#47 Jual Derita, Kejar Passion

Tulisan ini mungkin bisa berguna untuk kita yang sedang kebingungan menemukan apa passion kita.

Passion selalu menjadi kosakata yang menimbulkan kegelisahan yang berlarut-larut di kalangan generasi milenial. Seakan-akan passion adalah mantra ajaib yang bisa membuat hidup orang berubah dengan drastis. Emang gitu po? Kalau kita mengutip apa yang dikatakan Paramita Mohamad dalam blognya, “Ide dasar dalam kultus renjana (passion) adalah bahwa dalam diri setiap orang, selalu ada passion yang sudah sejak lama hadir (“pre-existing”). Passion itu menanti kita, siap untuk ditemukan. Kultus kedua adalah bahwa jika kita berhasil menemukan passion itu, kita harus mengikutinya dalam pekerjaan atau karir. Hanya dengan bekerja sesuai dengan passion, kita bisa mendapatkan kebahagiaan dan keberhasilan.”  

Sedangkan Konfusius berpendapat, “Pilihlah pekerjaan yang Anda cintai dan Anda tidak akan pernah merasa seperti bekerja.” Dari kedua pernyataan tersebut sebenarnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa ketika seseorang menemukan passion-nya lebih dulu, maka orang akan berpikir bahwa “penderitaan” yang dialami akan lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang bekerja tidak dengan passion.

Jadi, di alam bawah sadar kita, mungkin ada pikiran bahwa melakukan sesuatu sesuai passion akan membuat kita hidup leha-leha, santai, nggak stres, bisa haha-hihi sepuasnya, dan berbagai macam kenikmatan hidup lainnya. Bahwa ketidaknyamanan hidup serta merta akan hilang bila kita bekerja sesuai dengan passion. Sehingga, kita akan rela-rela aja gitu mendedikasikan waktunya “terbuang sia-sia” karena tergoda mengejar passion demi mengurangi penderitaan yang mungkin terbayang di masa depan.

Yang lebih mengesalkan adalah, kita mungkin sering menjadikan “tidak sesuai passion” sebagai kambing hitam. Kalau terjerumus dalam suatu pekerjaan tertentu, lalu terbentur masalah yang bertubi-tubi, maka pikiran pertama yang keluar adalah “Ah, ya gini ini nih jadinya kalau kerja nggak sesuai passion” Dulu, pada ada kalanya saya mengeluh pada Nesya soal jalan hidup yang “tidak sesuai passion” ketika saya terbentur masalah. Jawaban dia cuma satu, “Pink, tiap jalan hidup yang kamu pilih pasti bakal banyak masalah, bahkan untuk jalan hidup yang kamu kira kamu pilih berdasarkan passion-mu. Hadepin aja dan jalan terus, nanti juga ketemu.” Sesederhana itu.

Banyaknya waktu yang dihabiskan untuk gelisah mencari passion cenderung menyebabkan kita untuk tidak fokus dan tidak memberikan usaha yang terbaik terhadap sesuatu yang sudah kita pilih. Nggak ada konsistensi dan kerja keras yang muncul gara-gara kita sibuk “menyerah” menggunakan dalih tersebut. Padahal, menemukan passion bukanlah prasyarat utama untuk bisa meraih keberhasilan.

Ada sebuah buku menarik tentang passion yang direview dalam blog yang sama. Dalam blog tsb ditulis “Buku ini menceritakan bahwa dalam setiap bidang, selalu ada karateristik yang mendefiniskan karya yang bermutu tinggi. Untuk mendapatkan keterampilan itu, kita harus membayarnya dng ketekunan dan kerja keras.

Image result for cal newport

Sikap inilah yang oleh Newport disebut sbg mentalitas pengrajin (“craftman mindset”). Orang yang mengadopsi mentalitas pengrajin selalu berpikir tentang bagaimana mereka bisa mjd lebih baik dalam bidangnya shng mereka bisa memberi nilai lebih.

Sedangkan, seseorang dng (“passion mindset”) sering mempertanyakan apa yg ditawarkan dunia buat mereka – seakan-akan dunia punya kewajiban membuka bidang pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka.

Buku tersebut juga mengatakan bahwa ada tiga atribut penting dalam melakukan pekerjaan kita yaitu kita merasa mempunyai otonomi dalam bekerja; kita bisa mengendalikan bagaimana kita bekerja (“sense of autonomy”), kita bisa merasa cakap dalam melakukan apa yang kita kerjakan, dan bisa terus meningkatkan kecakapan tersebut (“sense of mastery”), kita merasa bahwa pekerjaan kita memberi pengaruh atau berkontribusi pada dunia dan umat manusia (“sense of purpose”).”  

Mari kita coba breakdown pemikiran tersebut, misalnya saya sudah menemukan bahwa passion saya adalah menulis. Butuh lebih dari sekedar pernyataan bahwa “passion saya adalah menulis”. Akan ada lebih banyak waktu yang  dicurahkan untuk riset bagaimana menulis cerita yang menarik + unik (bila fiksi) dan mencari data (bila non-fiksi), menentukan perspektif, mencari sistematika penulisan, dan lebih banyak printilan-printilan lain yang harus dipelajari untuk pada akhirnya bila tampil sebagai seorang penulis yang handal dan bisa memberikan pengaruh pada banyak orang seperti Pramoedya Ananta Toer misalnya.

Menggerutu gara-gara harus bekerja keras tidak akan membawamu kemana-mana bahkan apabila kita sudah menemukan apa yang kita cari. Jangan harap bahwa penderitaan itu akan lepas begitu kita menemukan passion. Bahkan, penderitaan itu akan lebih mendera bila ternyata passion itu pada akhirnya tidak bisa menghasilkan kondisi finansial yang cukup memadai untuk hidup. Kalau kata Adriano Qalbi biasanya org “Jual derita, kejar passion”, hahaha. Makanya orang-orang yang bisa memanfaatkan passion-nya untuk bisa bertahan hidup (mungkin malah jadi org kaya) adalah orang-orang yang terberkati dan mendapatkan kemewahan tersendiri. It’s a luxury.

Salah satu contoh paling menarik dimana passion ditemukan dari arah sebaliknya adalah ibu. Beliau skrng dikenal sbg seorang dokter jantung yang punya concern besar terhadap penyakit jantung bawaan yang menyebabkan hipertensi paru. Passion ini baru muncul sekitar tahun 2012, di umur beliau yang sudah mencapai 51 tahun. Jadi sebelum itu ngapain? Ya, bekerja aja gitu sebagai dokter jantung dng sebaik-baiknya, mengambil kesempatan yang ada di depan mata untuk terus belajar dan mengeksplorasi. Kalau beliau bersungut-sungut terus dalam bekerja gara-gara ngerasa nggak menemukan passion dan melewatkan banyak kesempatan untuk memperoleh ilmu baru, tentu beliau tidak akan sampai di titik ini.

Nah, setelah ketemu passion-nya, setiap hari yang menjadi topik obrolan adalah bagaimana bisa memahami secara lebih dalam tentang masalah ini sehingga bisa menemukan solusi yang berguna untuk menyelamatkan jiwa banyak orang. Tentu akan ada konsekuensi waktu, finansial, tenaga, dan pemikiran yang dicurahkan setelah passion itu ditemukan. Jadi ya sama aja. Tetap harus kerja keras dan menderita.    

Jadi mana yang harus ditemukan lebih dulu? Nggak penting mana yang harus ditemukan lebih dulu tapi yang lebih penting adalah menyadari bahwa jalan manapun yang dipilih akan memaksa kita untuk mau bekerja keras, disiplin, konsisten, persisten dan menuntut komitmen yang tidak main-main untuk bisa pada akhirnya meninggalkan legacy kita di dunia ini. Tsah.

Note: Mungkin sedikit terlambat menyadari pentingnya pemikiran ini, tapi saya selalu percaya bahwa “It’s not about how you start, but it’s about how you finish”

Artikel lain yang juga menarik:

  1. Why Passion is Not Enough — bahwa passion juga harus didukung oleh etos kerja dan disiplin, persistense dan tidak gampang menyerah, choosing greatness over mediocrity, dan berada dalam lingkungan yang suportif. 
  2. Don’t Follow Your Passion — ada statistik menarik ttg passion dan lapangan kerja.
  3. Follow Your Passion Saran Yang Menyesatkan — blog rujukan tulisan ini
Advertisements

#46 The Shallows: What The Internet is Doing to Our Brains.

The_Shallows

Akhir-akhir ini, apakah ada yang mengalami kesulitan untuk membaca buku atau tulisan panjang? Apakah kita nggak pernah bisa fokus dan konsentrasi penuh membaca dalam kurun waktu 30 menit tanpa terdistraksi oleh apapun? Mungkin banyak yang mengalami fenomena serupa. Kehilangan kemampuan untuk bisa diam dan tanpa gangguan membaca buku atau tulisan panjang. Nah, kalau merasakan hal yang sama, buku ini cocok untuk dibaca. Premisnya adalah bahwa internet telah membuat perubahan dari cara otak kita berpikir, fokus, dan berkonsentrasi.

Di halaman-halaman awal, diceritakan tentang bagaimana penulis, Nicholas Carr, merasakan bahwa dengan masifnya konsumsi terhadap internet, dia lambat laun kehilangan kemampuan untuk bisa fokus dalam waktu lama. Pada awalnya, dia berpikir bahwa dialah yang aneh, tetapi ketika dia bercerita dengan beberapa orang temannya, mereka juga merasakan hal yang sama. Ada yang dulu bisa membaca  novel tebal, tetapi sekarang, bahkan dia hanya men-skimming blog post yang terdiri dari 3-4 paragraf. Sedangkan, teman lain merasa bahwa internet telah mengubah kebiasaan mentalnya. Org tsb merasa bahwa pikirannya skrng mjd staccato, gara-gara dia sering sekali membaca bacaan-bacaan pendek dari banyak sumber online.

Saya pernah membaca bahwa pada era sekarang, seseorang akan kehilang konsentrasi setelah 3 menit. Bayangkan. Informasi apa yang bisa mengendap hanya dengan 3 menit saja? Banyaknya gangguan seperti handphone, notifikasi, email, dll membuat kita semakin susah untuk bekerja tanpa adanya interupsi.

Buku ini menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana otak bisa beradaptasi dengan cara berpikir yang baru. Bahwa otak punya kemampuan, brain plasticity, yang akan terstimulasi secara positif atau negatif tergantung dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang. Kebiasaan surfing di internet jelas akan membuat perubahan dari cara si otak itu bekerja. Kondisi ini akan membuat informasi yang diterima oleh seseorang menjadi terpecah-pecah dan kadang-kadang sulit bagi seseorang untuk bisa mendapatkan pemahaman secara utuh tentang suatu topik. Ya itu, karena sumber online cenderung memberikan banyak distraksi dan stimulan ketika kita mulai membaca. Alhasil, banyak informasi yang terbuang sia-sia karena kita tidak terbentuk suatu koneksi di kepala kita.

Salah satu cara untuk bisa mengembalikan kemampuan kita untuk fokus adalah dengan membaca buku. Dengan membaca, kita akan melatih kedisiplinan mental kita untuk bisa mencerna bacaan yang ada di depan kita. Selain itu, membaca buku juga akan melatih kita untuk melawan natural habit manusia yaitu distractedness. Manusia adalah makhluk yang peka terhadap perubahan. Perubahan lingkungan sekitar bisa jadi merupakan sebuah tanda bahaya, maka dari itu, secara otomatis, pikiran manusia berada dalam kondisi yang amat peka bila ada perubahan apapun di sekelilingnya.

Membaca buku akan membuat kita mengalami apa yang namanya “deep reading”, dimana kita bisa membenamkan seluruh fokus dan konsentrasi terhadap satu objek bacaan serta secara otomatis menolak semua stimulan yang berujung pada distraksi. Dengan fokus membaca, maka kita bisa membuat asosiasi, inference, analogi ataupun ide tentang bacaan tersebut.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa deep reading dan aktivitas lain yang butuh konsentrasi susah dilakukan secara online. Jawabannya karena, ketika online, kita dalam kondisi butuh utk mengevaluasi links dan membuat pilihan-pilihan yang terkait dengan topik yg sedang dibaca. Sementara itu, kita juga secara bersamaan harus memproses multiple stimulus sensory. Kondisi ini membutuhkan koordinasi mental dan decision making yang konsisten, sehingga menginterupsi otak yang seharusnya bekerja menginterpretasi teks atau informasi lainnya. Nah, banyaknya informasi tentu akan mempengaruhi beban kognitif si otak. Bila beban ini melebihi kemampuan si otak untuk menyimpan dan memproses informasi, maka kita tidak akan bisa menyimpan informasi atau membentuk koneksi terhadap informasi tsb di memori jangka panjang kita. Lama-lama kita menjadi mindless consumers of data.

Ada banyak studi yang berusaha dijelaskan untuk memperkuat premis ini. Salah satunya adalah studi yang di publish di Media Psychology tahun 2007. Studi ini melakukan percobaan pada 100 orang yang dibagi dalam dua grup yang dipaparkan terhadap topik tertentu. Grup 1 hanya diberikan bahan bacaan pada layar komputernya, sedangkan grup 2 diberikan bahan bacaan dan presentasi audiovisual. Setelah itu, diberikan 10 pertanyaan, ternyata grup 1 mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan grup 2. Sehingga disimpulkan bahwa multimedia malah akan membatasi, alih-alih meningkatkan, kemampuan memperoleh informasi. Tentu hasil ini harus ditilik langsung ke jurnal tsb utk mengkritisi bias, metodologi dan aspek lainnya.

Saya kira di satu sisi apa yang dipaparkan dalam buku ini ada benarnya juga. Artikel-artikel pendek tentu akan sangat berguna bila kita membutuhkan informasi dalam waktu yang cepat. Tentu akan sangat tidak efektif bila kita harus membaca buku yang tebal-tebal dulu untuk mendapatkan secuplik informasi. Dua metode tsb harus diseimbangkan satu sama lain sih, bila ingin memahami konsep secara mendalam, maka membaca buku adalah pilihan terbaik. Tapi bila ingin menyerap informasi secara efektif, ringkas, dan singkat, maka artikel-artikel online bisa jadi pilihan yang cukup jitu.  

Sebagai salah seorang yang cukup gagap dan waswas terhadap perkembangan teknologi, buku ini ditutup dengan salah satu kalimat menarik yang diambil dari Kubrick’s dark propechy yang berbunyi: as we come to rely on computers to mediate our understanding of the world, it is our own intelligence that flattens into artifical intelligence. Wadidaw!!

Sumber bacaan lain:

https://www.goodreads.com/book/show/9778945-the-shallows

http://blog.sandglaz.com/the-science-behind-concentration/ — cara-cara untuk meningkatkan konsentrasi. Salah satunya dengan Podomoro Technique: 25 minutes on task, lalu 5 menit istirahat.

http://www.pewinternet.org/2010/02/19/part-1-a-review-of-responses-to-a-tension-pair-about-whether-google-will-make-people-stupid/ — studi yang kontra terhadap teori Nicholas Carr.  

#45 Susahnya Jadi Orangtua

20846

Baru-baru ini ada kejadian yang cukup menarik untuk diceritakan. Selayaknya sebagai pendukung Arsenal sejak 14 tahun yang lalu. Tentu saja, saya kepingin si bocah juga mengikuti jejak utk mengidolai klub asal London Utara ini. Kebetulan, ada teman yang sedang sekolah di London. Karena kebaikan hatinya, dibelikanlah si bocah dua buah baju Arsenal. Asik. Keren banget pokoknya. Bangga sekali melihat si bocah memakai baju klub bola kesayangan. Ditambah kulit coklat plus kepala gundul. Sudah lengkap bahannya utk mengimajinasikan si bocah sbg titisan King Henry.

Masalah muncul pada saat di Jogja, eyangnya ternyata tidak setuju bahwa si bocah dipakaikan baju Arsenal. “Ah, Arsenal kan kalahan, masak disuruh ndukung klub kalahan. Udah besok tak kasih baju Real Madrid aja,” kata beliau. Terlepas dari kebenaran fakta yang diungkapkan, keinginan ini tentu tidak salah. Walaupun dulu setau saya, beliau adalah pendukung setia Manchester United. Tentu, alasan perpindahan ini bisa dipahami karena siapa sih yang mau jadi fans tim medioker? Mending pindah haluan jadi fans klub bola yang sering juara Liga Champions. Wajar banget sih.

Lalu, dengan semangat menggebu, si eyang pun mencari kesana kemari baju Real Madrid, keluar-masuk dari satu toko ke toko lainnya. Eh, ndilalah, kok yang dicari stoknya nggak ada. Alhasil, beliau gagal untuk memberikan baju Real Madrid. Sampai akhirnya, beberapa hari yang lalu, saya  tiba-tiba dikirimi foto di whatsapp dengan caption “Hehe..apik to? Sesuk dinggo yaa….” Yak, foto apakah itu? Ternyata itu adalah foto baju Real Madrid buat si bocah, lengkap dengan nomor punggung 16 dan nama Hagia. Wuelok. Terlalu niat. Keplok-keplok sik.

Pada saat pulang dari lab, saya pun mikir. Gila ya, untuk sesuatu yang nggak ada urusannya sama masa depan si bocah aja, perebutan pengaruhnya begitu terasa antara eyang dan orangtua. Apalagi, nanti kalau untuk urusan-urusan yang lebih pelik, semisal cari sekolah, cara mendidik, atau nilai-nilai yang mau ditanamkan. Apa potensi benturannya nggak jadi semakin besar ya?

Untuk soal mendidik si bocah, saya kok merasa, preferensi orang yang lebih tua (bisa orangtua atau eyang) pasti akan secara subliminal dimasukkan ke dalam alam pikiran si bocah. Mulai dari selera musik, film, buku bacaan, acara tv,profesi, bahkan sampai ke urusan klub bola. Kan ya sangat nggak mungkin kalau orangtuanya penggemar Arsenal, terus si bocah malah seenaknya mendukung Totenham Hotspurs yg nirgelar sejak lama. Atau kalau ortunya penggemar Ramondo Gascaro, masak ya si bocah bakal nggak dinyinyiri kalau dia sering ndengerin Kangen Band. Orangtuanya pasti akan berusaha sekuat tenaga supaya si bocah bisa mengikuti jejak orangtua.

Saya merasa, pasti akan ada saat dimana setiap orang akan senang bila preferensinya diikuti oleh orang lain. Nggak peduli apakah orang lain itu suka atau tidak dengan preferensi yang dia usulkan. Pokoknya aku tau kalau seleraku yang paling baik sehingga orang lain (apalagi yang posisinya lebih inferior) harus dengan ikhlas hati mengikuti apa yang aku sarankan. Tentu, yang punya selera akan scr otomatis menggerutu, bersungut-sungut, tidak habis pikir, ataupun mencap bodoh bila si orang lain ini tidak menuruti apa yang dia sarankan.

Saya kok selalu percaya bahwa setiap anak seharusnya dilatih dan dididik untuk memahami, mempertimbangkan, menganalisis, dan mengambil pilihan berdasarkan keputusan yang diambil dengan kesadaran penuh. Bahwa setiap pilihan haruslah punya dasar-dasar alasan yang kuat dan rasional sebelum diputuskan. Bahwa setiap pilihan pasti mengandung risiko yang tentu saja harus diperkenalkan dan kemudian diperhitungkan dengan matang. Kalau tidak terbiasa diberi wewenang untuk menentukan nasibnya sendiri, tentu akan banyak kegamangan dan keraguan yang muncul ketika pada saatnya nanti dia berada dalam situasi-situasi sulit yang membutuhkan keputusan cepat. Skill ini tidak akan berkembang secara instan, butuh waktu untuk bisa menemukan formulasi yang tepat. Pasti akan ada keputusan-keputusan salah yang akan diambil, disesali, tapi bukankah dalam hidup itu harus ada keberanian untuk berbuat salah?

Tentu sah-sah saja bila si bocah masih dalam tahap belum mampu memberi keputusan dan kemudian pihak orangtua yang mengambil alih fungsi tersebut. Tapi, yang sering dilupa adalah si bocah ini akan lama-lama tumbuh besar. Ketika si bocah sudah bisa bicara dan mengungkapkan apa yang dia rasakan, maka (mungkin, karena saya belum pernah mengalami) orangtua harus mulai belajar untuk mendengar dan menghargai apa pendapatnya. Apa yang dirasakan. Apa yang dia pikirkan. Saya atau Nesya tentu tidak akan bisa memaksakan kehendak kami kalau si bocah nggak mau melakukan sesuatu. Dia akan memiliki preferensi berdasarkan sintesis dari apa yang dilihat, dialami, didengar, dibaca dan dirasakan. Sebuah preferensi yang sering berbeda dengan apa yang orangtuanya pikirkan. Perbedaan jaman, bacaan, pengalaman tentu akan membentuk pola pikir otentik yang tidak bisa disamakan dengan apa yang dilalui oleh orangtua.

Kegagalan melihat perbedaan preferensi inilah yang sering membuat terjadinya ketegangan antara orangtua dan anak. Si bocah sudah memikirkan masak-masak untuk memilih A, tetapi ditolak mentah-mentah oleh si orangtua. Marah, bentrok, kabur dari rumah adalah sebagian ekses yang mungkin ditimbulkan dari konflik-konflik tersebut. Tidak jarang, ekses tersebut akan membuat dampak yang tidak sehat bagi komunikasi orangtua dan anak di masa depan. Selalu harus ada kesadaran untuk bisa mawas diri sebagai orangtua. Bahwa mungkin apa yang saya pikirkan tidak akan bisa diterapkan untuk mengambil keputusan 20 tahun lagi. Bahwa apa yang saya pikirkan tidak lagi kontekstual dengan situasi riil yang akan dihadapi oleh si bocah di masa depan. Bahwa mungkin perlu ada penyegaran-penyegaran cara pandang dan pengetahuan sehingga si bocah akan merasa lebih dipahami oleh orangtuanya. Kesadaran bahwa pendapat kami tidak selalu benar sedangkan opini si bocah tidak selalu salah adalah hal yang mutlak diperlukan.  

Saya rasa, jadi orangtua itu beratnya bukan main. Sekalinya salah asuhan, maka kesalahan ini mungkin akan memiliki dampak residual pada generasi-generasi selanjutnya. Rusuhnya sebuah negara bisa bermula dari konflik internal keluarga yang tidak terkelola dengan baik.

Saya nggak yakin juga sebenarnya apakah bisa jadi orangtua yang baik. Tapi, ada sebuah pesan berharga dari Ki Hajar Dewantara yang akan selalu saya jadikan pedoman untuk mendidik si bocah yaitu Ing Ngarso sung Tuladha (Di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karso (Di tengah Memberikan semangat atau menjadi pendamping) dan Tut Wuri Handayani (Mendukung dari Belakang).

Mungkin, dengan terus menjaga kesadaran seperti itu, saya akan jadi lebih legowo melihat si bocah tumbuh jadi fansnya Nottingham Forrest gara-gara mereka pernah juara Liga Inggris tahun 1977-1978, dibandingkan membangga-banggakan diri sebagai fans Arsenal, tapi nggak pernah sadar kalau tim-nya ternyata nggak lebih dari klub medioker. Wk.

#44 Menggauli Buku

Image result for not reading meme

Baru-baru ini saya terlibat percakapan dengan salah seorang teman. Topiknya adalah soal kebiasaan membaca. Ada salah satu point yang menarik ketika kami ngobrol tentang buku. Teman saya ini berkata bahwa “Wah, gw sih agak enggan mau minjemin buku ke orang. Mesti ada banyak aturannya kalau harus minjemin buku. Ya halamannya nggak boleh kelipet-lah, nggak boleh kotor, nggak boleh robek, dan nggak boleh-nggak boleh lainnya. Jadinya agak males mau minjemin ke orang lain sih.”

Pernyataan yang sangat menarik dari seseorang yang suka baca buku. Dulu, saya juga termasuk tipe orang yang sama. Jarang mau meminjamkan buku ke orang lain. Senang rasanya bila melihat buku-buku yang sudah dibeli terpampang rapi di rak buku kamar. Puas melihat deret kumpulan tulisan yang sewaktu-waktu (mungkin) akan dibaca lagi ketika akan terlelap. Saya memperlakukan buku layaknya harta karun yang tidak boleh dipunyai oleh orang-orang lain. “Enak aja dipinjem orang lain, belinya mahal-mahal je, masak nggak disimpen” begitu gumamku saat itu. Makanya, tentu sangat menyebalkan ketika sudah berbaik hati meminjamkan buku ke orang lain, tapi orang tersebut tidak punya kesadaran untuk mengembalikan. Beberapa kejadian hilangnya buku yang dipinjamkan, membuat rasa sayang terhadap (fisik) buku menjadi bertambah. Makin pelitlah saya untuk meminjamkan buku.

Sepertinya banyak orang yang punya sifat seperti ini. Mereka-mereka yang terlalu sayang dengan fisik suatu buku. Mungkin banyak diantara kita yang sengaja memajang rak bukunya di dekat ruang tamu. Dipenuhi dengan buku-buku teranyar yang disusun berdasarkan abjad. Buku-buku eksiklopedia seri lengkap berharga mahal yang rela dibeli dengan kredit. Ada efek psikologis yang berusaha dihadirkan dengan penampakan rak buku di ruang tamu. Ya, tentu saja untuk menciptakan image bahwa si tuan rumah adalah seseorang yang melek literasi, open-minded, bisa diajak diskusi banyak hal, dan berbagai pencitraan utk menaikkan kelas sebagai orang terdidik. Padahal, ada jurang yang sangat jauh memisahkan antara membeli buku dan membaca buku. Bila ada pameran buku murah, secara spontan kita pasti akan langsung impulsif untuk memborong buku dalam jumlah banyak. Apakah akan segera dibaca  atau malah baru disentuh 10 tahun lagi, itu menjadi urusan belakangan. Pokoknya jangan sampai kehilangan hype yang bisa menambah prestasi semu utk dipamerkan di sosial media. Fisik buku seakan-akan menjelma menjadi komoditas baru yang layak utk diperjuangkan demi menterengnya sebuah eksistensi.

Akhir-akhir ini, saya menyadari, bahwa kecenderungan untuk men-sakralkan fisik buku adalah suatu kebiasaan yang salah. Seharusnya, orang-orang yang cinta dengan buku akan dengan senang hati meminjamkan bukunya ke orang lain. Tujuannya agar orang lain itu bisa menemukan kenikmatan yang sama dengan orang tsb ketika membaca buku. Bukankah akan lebih membahagiakan bila buku-buku itu bisa mencerahkan lebih banyak orang?  Berapa banyak perspektif dan pemahaman yang bisa ditimbulkan dengan semakin tersebarnya buku? Atau berapa banyak orang yang akhirnya bisa berempati ketika selesai membaca buku tentang perjuangan orang menaklukkan depresi? Domino efek yang ditimbulkan ketika membiarkan lebih banyak orang bergumul dengan buku, tentu saja akan lebih masif dibandingkan ketika buku itu hanya disakralkan di satu tempat tertentu.

Kelekatan emosional akan buku-buku yang sudah dibeli membuat kita enggan untuk menyumbangkan atau meminjamkannya ke orang lain. Walaupun, kalau mau melihat lebih jauh, ketika kita selesai membaca sebuah buku, berapa banyak sih buku yang dibaca ulang? Sekali, dua kali, atau tidak pernah disentuh lagi setelahnya? Kendati itu buku favorit, kayanya sangat jarang orang yang membaca ulang buku-buku koleksinya. Alih-alih menyimpan, kenapa tidak membuat rangkuman isinya saja. Mungkin cara ini malah lebih berguna daripada hanya menjadi usang di rak buku. Dulu, Tan Malaka, karena tidak bisa menyimpan buku-buku yg dia punya, maka dia mempunyai satu buku yang isinya catatan penting dari buku yang sudah dia baca. Buku catatan itu adalah rangkuman dari buku-buku yang pernah dia baca. Ambil intisarinya, tulis dan biarkan buku-buku menemukan pembaca lainnya.

Ada berbagai macam cara untuk menyebarkan buku kepada khalayak ramai. Saya pernah baca, di suatu tempat, ada sistem yang namanya “Beri 1, Ambil 1”. Sebuah sistem dimana orang bebas mengambil buku apapun yang dia suka dari koleksi tempat itu dan memberikan satu buku yang kurang lebih punya “nilai” sepadan dengan buku yang dia ambil. Cara yang cukup menarik untuk dikembangkan. Atau bisa juga, buku-buku koleksi tsb disumbangkan ke perpustakaan umum. Kondisi ketersediaan perpustakaan umum,bahkan, untuk ukuran Jogja, mungkin agak memprihatinkan. Saya agak jarang menemukan perpustakaan di kampung yang memberikan akses bebas kepada warga kampungnya. Memang di setiap kelurahan ada sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas perpustakaan, mulai dari tingkat SD sampai SMA. Tapi, perpustakaan-perpustakaan itu tentu tidak bisa diakses sembarangan oleh warga sekitar sekolah. Maka, tidak heran, dengan akses yang sangat terbatas, semakin terpuruklah tingkat literasi orang-orang di Indonesia.

Memberikan akses terhadap buku, terutama buku anak-anak, adalah langkah mutlak yang harus diambil untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kebiasaan ini nggak akan serta merta muncul saat sudah dewasa. Mesti dibangun dan dimulai dari sejak kecil. Mungkin, pertamanya hanya betah membaca komik. Lambat laun merambat ke buku-buku dengan topik lain. Saya jadi ingat pas mau beli buku anak-anak buat si bocah, harganya mahal-mahal banget. Ada yang satu buku bisa sampai 200 ribu, goks! Ya, kalau begini caranya, gimana orang-orang dengan kondisi finansial yang lemah bisa mengajari anak-anaknya untuk rajin membaca. Kecenderungannya,  mereka lebih senang untuk membelikan uang pulsa dibandingkan menyuruh anaknya untuk menabung agar bisa membeli buku.

Situasinya mungkin akan banyak berubah dengan semakin menjamurnya buku digital. Ongkos untuk mendapatkan buku tentu akan jauh lebih murah dibandingkan bila harus membeli buku fisik. Tetapi, perlu ada perubahan kebiasaan yang drastis, mengingat belum banyak orang yang betah untuk membaca buku digital. Alasan-alasan seperti nggak enak nggak bisa dibawa tidur, nggak bisa dicorat-coret, dan berbagai macam alasan lainnya adalah langkah yang terlegitimasi untuk semakin menjauhkan diri dari membaca. Buku fisik mahal, buku digital nggak betah. Lengkap.

Hari Minggu lalu, ada presentasi dari seorang dosen lulusan Leeds University. Beliau concern terhadap masalah literasi di Indonesia. Saya sempat bertanya pada beliau, apakah bila kita diberikan akses terhadap buku maka secara otomatis kita akan suka buku? Beliau menjawab bahwa kebiasaan itu tidak bisa datang secara otomatis. Orang Indonesia cenderung untuk mengikuti role model. Makanya, keteladanan menjadi kunci penting untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak kecil. Anak-anak tidak akan terpacu untuk mencintai buku bila orangtuanya tidak menyediakan waktu khusus untuk membaca. Kalau di waktu senggang, orangtua malah sibuk menonton TV atau bermain gadget, bagaimana anak-anak bisa punya contoh bagaimana mencintai membaca?

Maman Suherman, seorang penulis dan wartawan, pernah bilang dalam suatu wawancara “Jangan jadikan buku sebagai alkitab yang harus bersih dan sebagainya. Biarkan anak-anak itu menyetubuhi buku hingga serusak-rusaknya, yang penting dia paham, dia mengerti dan dia mencintai buku.”

Perlu konsistensi untuk bisa menularkan virus-virus membaca dan menulis. Lebih dari sekedar ucapan manis di mulut belaka. Bila virus-virus itu sudah menjangkiti, maka percayalah bahwa slogan “Sepakat untuk Tidak Sepakat” bukan lagi menjadi mitos belaka.

 

Bacaan:

  1. Literasi Indonesia yang Belum Merdeka
  2. Yuk, Jadi Pendamping Membaca bagi Anak-Anak
  3. Keajaiban kata “Iqra” dan Mengapa Kita Harus Membaca

 

#43 Gelandangan di Kampung Sendiri

“Orang lebih takut kepada ketakutan dibanding kepada Tuhan”

Itu adalah salah satu kutipan yang terdapat dalam salah satu essay berjudul “Rasa Takut Struktural” yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1991. Banyak essay di buku ini ditulis antara tahun 1991-1994. Tentu aroma perlawanan thdp represi orba tercium sangat kental di seluruh halaman buku. Tema2 yang terkait dengan poleksosbudhankam (politik ekonomi sosial budaya pertahananan dan keamananan..”orba banget yaa..”) ditulis dengan sudut pandang kemanusiaan yang tidak jarang membuat terhenyak. Misalnya, ketika seorang Cak Nun merefleksikan kehadiran mahasiswa-mahasiswa KKN sbg sebuah bentuk hegemoni kesombongan thdp masyarakat desa yg “katanya” lebih tidak berpendidikan. 

Ada berbagai macam pelajaran hidup yg bisa diambil lewat tulisan2 beliau. Utk yg pertama kali bergumul dng pemikiran2 Cak Nun seperti saya, buku ini terbilang menarik. Tidak kompleks. Tapi, sarat nilai2 kemanusiaan yg mngkin saat ini sdh berbaur dan dibalur dng berbagai macam kepentingan sesaat. 

Buku ini terdiri dari 4 subjudul dengan fokus pembahasan yg berbeda2. Cerita tentang buruh, pembantu rumah tangga, petani, pedagang, pekerja bengkel, guru, ataupun ibu rumah tangga bisa direfleksikan sedemikian rupa sehingga profesi2 yang sering dipandang sebelah mata tidak lagi dianggap sbg sesuatu yg minor, tetapi malah beralih rupa mjd sesuatu yang layak direnungkan.  

Saya akan menuliskan bbrp tulisan atau kutipan yg mungkin bisa memberi kesadaran atau perkspektif baru. 

“Siapa omong bahwa rakyat kita malas?” penyair saya itu berang. “Sejak pukul satu lewat tengah malam, ibu-ibu di Srandakan, Bantul, sudah menyiapkan dagangannya yg kemudian mereka panggul di punggung lalu jalan kaki 20km ke Pasar Kota Yogya, berjualan sampai jauh siang untuk memperoleh seribu-dua ribu rupiah. Orang2 perkasa semacam ini dituduh malas oleh org2 yg kerjanya duduk di kursi menghadap meja, memangku sekretaris, dan mengetik satu jam dalam sehari dan memperoleh ratusan juta rupiah..” -Sunyi Kopra di Pulau Kei-.

“Manusia diciptakan sbg manusia individu dgn dua kosmos: individual dan sosial. Kalau seseorg kehilangan individualitasnya, ia larut mjd nomor dlm deretan atau kumpulan suatu komunitas. Namun, kalau ia mengintensifkan individualitasnya saja, yg tjd adlh “individualisme”. Lebih menyempit lg mjd “egoisme”. Mjd manusia adlh pergulatan utk menyeimbangkan antara indvidualitas dan sosialitas. -Cerdas,Terampil, Jujur, tapi Melarat-

Dng mjd org kecil, dng mjd orang biasa, saya bisa mengurangi keterikatan dan ketergantungan tertentu. ….. Kalau org diperbudak oleh pamrih jabatan, status sosial, kekayaan, harta benda, dan sbgnya, ia tidak bisa mjd PEMBERANI atas hidupnya sendiri. Ia gampang takut, gampang kehilangan, dan gampang merasa terancam shng sering kali harus menindas suara hatinya sendiri. -Orang Kecil, Orang Biasa-

“Sepengetahuan saya yg bodoh ini, kalau org meningkat ilmunya, jiwanya mjd luas dan kepribadiannya mjd matang. Karena keluasan dan kematangannya, ia mampu menampung kesempitan org2 macam kami. Namun, yg tjd skrng ini terbalik. Kami org2 bodoh malah harus menyediakan keluasan, kesabaran, dan kematangan utk menampung kehendak2 kalian (para mahasiswa KKN.red) Lantas apa bedanya kalian ini dng para dokter? Para penguasa?” -Ilmu Meningkat, Jiwa Meluas-

“Keliatannya saja wanita banyak diletakkan di belakang, ttp justru di situlah sesungguhnya posisi pemimpin. Persis spt setiap penggembala kambing, kerbau, atau bebek, pastilah berjalan di belakang hewan2nya. Rupanya Tuhan seolah2 menakdirkan bahwa kaum wanita scr esensial memiliki potensi utk memimpin kaum pria. Jadi, sesungguhnya dlm rumah tangga tak apa2 wanita berposisi di belakang sebab sang suami memang harus dipimpin dari belakang…” -Memimpin dari Belakang-

Kutipan-kutipan tsb tentu tidak bisa menggambarkan isi tulisan sepenuhnya, tetap harus melihat dari konteks keseluruhan cerita. Tetapi, paling tidak, kutipan2 itu bisa menampar wajah kita yang seringkali lupa utk melihat sesuatu secara murni dan dengan ketulusan hati.

Akhir kata, buku ini sangat layak untuk dibaca, bukan hanya utk lebih memahami hikayat orang-orang pinggiran, tetapi utk mengingatkan kita utk tetap menjadi manusia yang manusiawi. 

#42 Math: Finding Harmony in Chaos

Mencerahkan. Itulah kesan yang secara umum saya dapat setelah membaca buku ini. Tentu pujian tsb terlontar bukan karena penulis, H.J. Sriyanto a.k.a Familia (woy kuwi NDX nek Familia ki, salah bosque…) a.k.a Pak Joyo adalah mantan wali kelas saya di Kolese De Britto. Tapi buku ini benar-benar memberikan alternatif solusi untuk menaklukkan Matematika yg bertahun-tahun mjd mimpi buruk menjelang ujian.

Buku ini scr umum terbagi dalam 4 bagian dng fokus yg berbeda2. Di bagian pertama, dipaparkan ttg anggapan umum yg beredar ttg Matematika dan pembelajarannya di sekolah. Monster tangguh bernama matematika yang siap meneror anak-anak sekolah, terutama pada saat-saat genting menjelang ujian. Ataupun kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para guru untuk mengaitkan matematika dengan kehidupan keseharian dipaparkan secara gamblang pada bagian ini.

Sedangkan pada bagian kedua yang berjudul “Matematika yang Sebenarnya,” Pak Joyo menceritakan ttg berbagai solusi yg bisa diambil utk mendekatkan Matematika pada anak-anak. Salah satu cerita yg menarik adalah ttg Puisi Matematika.

Latar belakang beliau sbg pemain teater mngkin berandil juga thdp munculnya solusi ini. Anak-anak didiknya diminta utk menciptakan puisi yg memakai fungsi, istilah dan rumus matematika. Pendekatan unik yg berhasil memaksa siswa utk scr tdk langsung me-recall kembali pelajaran2 yg sudah terlewati. Lumayan keren juga kalau dipake nggombali bribikan sih sebenernya. Paling enggak bisa keliatan pinter. Ahay.

Di bagian ketiga, Pak Joyo banyak menuliskan pengalaman ttg bagaimana matematika itu diajarkan dan bagaimana seharusnya siswa diperlakukan sbg peserta didik.

Salah satu cerita yg menarik adlh pengalaman mengajar beliau di kelas Bahasa. Mjd tantangan tersendiri krn biasanya anak2 kelas Bahasa tdk terlalu menganggap penting Matematika. Namun, kondisi ini mlh membuat beliau tertantang. Pada waktu pertama kali mengajar, beliau malah mengajak siswa utk ber-Diskusi ttg pandangan mereka thdp matematika. Sebuah pendekatan yg cukup nyeleneh karena jarang ada guru yg mau mengajak diskusi siswanya ttg materi ajar.

Nggak berhenti sampai di situ, selanjutnya pak Joyo malah mengajak siswanya utk menonton video Sudjiwo Tedjo “Finding Harmony in Chaos.” Salah satu kalimat yang menarik dari video tersebut adalah ketika si Mbah Tedjo menyatakan bahwa “Matematika adalah kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang tidak berpola.” Lalu, setelah puas menikmati video tsb, para siswa pun diajak utk membuat essay yang diinspirasi dari video tsb. “Matematika adalah bahasa” adalah salah satu judul essay yang ditulis oleh teman-teman jurusan Bahasa. Sangar tenan.

Nah, pada bagian terakhir, hal menarik yang diceritakan adalah tentang proyek penelitian sederhana yang dipakai utk belajar Statistika. Seperti yg dijelaskan di sini (https://athanasiuswrin.wordpress.com/2017/08/17/40-asah-otak-watak/).

Selain itu, solusi yg sangat asik ditemukan pada bagian ini. Jadi, ada kelas malam Matematika dimana teman2 yg tergolong lebih pintar scr sukarela mengajari mereka2 yg belum paham ttg materi tsb. Sebenarnya cara ini mirip dng konsep asdos waktu jaman kuliah. Dng diajar oleh teman sebaya maka gap interaksi antara guru dan murid akan terpangkas sehingga siswa jadi lebih rileks bila mau bertanya atau berdiskusi. Selain itu, teman-teman yang mengajar juga akan semakin bertambah pemahamannya tentang materi tersebut. Mngkn akan asik kalau konsep ini diterapkan juga utk mapel lain spt Fisikia, Kimia, Biologi atau Akuntansi misalnya. Semua dilakukan, semata demi suksesnya pemerataan kepintaran.

Ada banyak hal yang bisa didapat, terutama oleh para pendidik (guru, orangtua, pemerhati pendidikan, dll), ketika membaca buku ini. Tidak melulu tentang bagaimana seharusnya matematika itu direkonstruksi ulang sebagai sebuah materi yang menyenangkan untuk dipelajari ataupun solusi-solusi ajaib yang bisa ditempuh. Tapi lebih dalam lagi, juga tentang bagaimana seharusnya proses pendidikan itu dijalankan. Seperti yang tertuang dalam bab 12 buku ini “Proses pendidikan seharusnya menjadi media bagi siswa untuk mengembangkan ide, gagasan dan kreativitasnya. Selayaknya pendidikan memberi ruang seluas-luasnya bagi pengembangan DAYA IMAJINASI dan DAYA KREATIVITAS peserta didik. Mengembalikan ruang kreativitas siswa untuk BERPIKIR, menggali POTENSI, dan TERBUKA terhadap pemikiran-pemikiran baru.” 

Memang menaklukkan matematika butuh pendekatan-pendekatan yang progresif dan tidak terpaku pada cara-cara tradisional. Bila semua guru bisa menanamkan rasa sayang terhadap matematika, bukan tidak mungkin logika-logika cupet dan tidak konsisten akan semakin terpinggirkan di negara ini.

Bravo utk Pak Joyo dan perjuangannya. Semoga berhasil!

 

#41 Cebok

Sebenarnya tulisan ini sangat tidak pas untuk dibaca pada malam minggu. Di saat orang sedang memadu kasih, lalu terserang rasa bosan, scrolling facebook dan membaca tulisan ini. Atau mereka yg sedang jenuh dng basa basi pada makan malam keluarga, mencari angin segar di fb lalu mendarat tulisan ini. Sangat tidak elok. Lagipula tdk berfaedah. Tapi, demi sebuah pemahaman atas tindakan paling fundamental yg dilakukan manusia tentang asas-asas hakiki dalam metode per-cebok-an. Saya akan tetap merilisnya. Selamat menikmati.

Jadi, tadi pagi, kami pergi ke kolam renang. Indoor. Nggak kuat kalau outdoor karena hawa yg sudah mulai dingin. Pulang-pulang terus meriang kan nggak lucu banget. Karena sudah lama nggak berenang, saya pun dng semangat sumpah pemuda berusaha memanfaatkan waktu yg dipunya. Maklum, udah bayar lumayan cuma buat renang 2 jam tentu jangan sampai rugi. Total, mngkin hampir 45 menit berenang serius. Lumayan.

Sepulang dari kolam renang, kami nongkrong minta makan di rumah teman. Dlm obrolan makan siang, tiba-tiba si Surya bertanya:

“Eh, kalau di Jepang, ada orang yg pipis di kolam renang nggak ya?”

“Ya mungkin ada lah, tp plng enggak rasionya lbh kecil dibanding kolam renang di Indonesia”, kataku.

“Iya juga. Eh, tapi kan org Jepang kalau habis boker nggak pernah cebok pake air. Mereka cuma pake tissue. Kan ya lebih njijiki to mesti kolam renangnya. Ono bekas bekas cepirit gitu masuk kolam renang. Hiiii..”, imbuhnya.

“JIGUR! Iya juga yaaaa. Setaaannn. Padahal aku renang lama bgt di bagian simbah-simbah. Mesti kan ada jasad-jasad renik yang nempel di badan dan keminum. Wah, telo kaspo juga! Mandi tujuh kembang ki harusan,” sahutku.

Dalam diskusi lanjutan, kami pun bertanya, gimana sejarahnya orang bisa sepakat untuk memakai tissue atau air untuk cebok. Manakah yg merupakan budaya original dari cebok? Kenapa orang yg biasa cebok pakai air nggak mau cebok pakai tisu? Dan juga sebaliknya. Sungguh pertanyaan kritis yg sangat cultural-based bukan?

Karena tdk mendapatkan jawaban yg memuaskan. Maka saya pun riset kecil-kecilan ttg pertanyaan ini. Beruntung skl menemukan jawaban panjang lebar di kolom quora.com.

Sejarah Percebokan Dunia

Tissue toilet pertama kali diciptakan pada abad ke 6 di China. Dulu, hanya pihak kerajaan yg punya fasilitas ini, sedangkan rakyat jelata ya ngising di sungai.

Waktu masa Romawi, mereka memakai ‘gompf stick’ – busa yg diletakkan di ujung tongkat. Tongkat itu akan dipakai bergantian oleh mereka yg memakai toilet. Sedangkan orang Yunani Kuno, katanya memakai BATU utk cebok (modyar ra kuwi tilis e getihen terus).

Ada bermacam bahan yg dipakai utk cebok, orang Hawai pakai sabut kelapa, org Eskimo pakai salju, bahkan ada yg pakai bonggol jagung. Gokils!

Yg paling epik adalah dari Inggris. Dulu bangsawan Inggris memakai kertas dari buku-buku nggak bermutu atau koran. Sebuah pemikiran yg menginspirasi saya utk melakukan hal yang sama ketika tjd kelangkaan air di kereta Ekonomi Jakarta Jogja. Jadi waktu itu, di tengah situasi genting di menahan gempuran sensasi boker yang sudah mengeluarkan tetesan keringat dingin yang makin lama semakin deras. Juga mempertimbangkan, daripada nahan boker terus malah jebol di tengah jalan. Maka saya memutuskan untuk memakai kertas HVS utk cebok. Lumayan sih, waktu itu habis kertas HVS 10 lembar sebagai penuntas hasrat. Wadidaw!

Nah, ternyata yg scr tradisional memakai air utk cebok adalah dari Timur Tengah. Sebuah kebiasaan yg jg masih dilakukan oleh masyarat Asia Selatan dan Asia Tenggara. Bahkan, ada tulisan Hindu kuno yg ditulis sekitar 1500BC-500AD yg memuat ritual tentang percebokan ini. Gile. Sedangkan, negara-negara seperti Amerika, Jepang, Eropa, dan Afrika tetap memilih memakai tissue paper untuk cebok.

Tentu banyak pro kontra mana yg lebih sehat dan praktis, memakai air atau memakai tisu. Ada alasan iklim, suhu atau ketersediaan air yg bisa jadi latar belakang memilih media cebok.

Menurut saya pribadi, cebok dng air tentu lebih nikmat karena kondisi tilis- nya bakal lebih bersih. Selain itu, memakai air juga meminimalkan friksi antara tisu dan tilis, yg mana sering menimbulkan perasaan perih yg cukup menganggu. Lagipula, kayanya kalau pakai tisu di CD suka masih ada bekas bekasnya gitu lho. Kan njijiki.

Tapi, memakai air tentu tdk disarankan di daerah dataran tinggi atau bersalju dng kondisi air yg super dingin. Kaya pas waktu cebok di Dieng, wah tilis serasa beku. Gebyar gebyur nggak kerasa. Wong mati rasa. Edan tenan.

Sedangkan memakai tisu tentu akan lebih praktis bila sdng bepergian ke alam terbuka, misalnya pas naik gunung. Airnya mending dipakai buat minum drpd buat cebok. Biar nggak perih, tentu tisu basah sangat amat disarankan sbg penutup prosesi cebok.

Sungguh sebuah kondisi yg sangat pelik dan bisa menyebabkan gegar budaya yg lumayan parah sih. Bahkan, saya pernah dapat cerita dari seorang teman yang ketahuan oleh teman Jepangnya bahwa dia cebok pakai tangan dan air. Raut muka dan stigma jijik langsung disematkan di teman saya itu. Bahkan, mungkin mereka nggak akan pernah mau salaman sama si teman saya ini. Karena menganggap bahwa tangan si teman saya penuh dng bakteri. Ya keleusss..situ nggak pernah yg namanya sabun opo yo. Ndeso.

Lain lagi dng cerita si Surya ttg teman Jepangnya. Jadi, si org Jpg ini exchange ke Thailand. Nah, disana kan nggak ada tisu sehingga si org ini harus bawa tisu sendiri. Nah, ditanyalah sama si Surya, “Lah, di sana kan ada bak mandi yg isinya air to, kenapa nggak pakai itu aja?” Lalu dia pun menjawab dng polosnya, “Wah aku bingung gimana makenya, masak harus manjat-manjat bak mandi buat cebok sih?” Owalaaahhhh leee..ora ngerti ono teknologi mutakhir bernama ciduk po? Ndeso tenan.

Jadi mana yg lebih mending? Ya, menurut ane sih sesuai dng budaya yg dianut aja. Kalau sedari kecil udah nyaman cebok pakai air ya dipertahankan, begitu juga sebaliknya.

Saya selalu ingat kata-kata ibu bahwa kalau jadi orang ya harus gampang beradaptasi sama sesuatu yang baru.

Jadi ya paling baik adalah menganut prinsip “Seburuk-buruknya media cebok, paling buruk adalah mereka yang nggak cebok.”

Sekian. Berfaedah kan?

Sumber:

https://www.quora.com/Why-do-we-use-toilet-paper-instead-of-water-showers-especially-in-the-West