#44 Menggauli Buku

Image result for not reading meme

Baru-baru ini saya terlibat percakapan dengan salah seorang teman. Topiknya adalah soal kebiasaan membaca. Ada salah satu point yang menarik ketika kami ngobrol tentang buku. Teman saya ini berkata bahwa “Wah, gw sih agak enggan mau minjemin buku ke orang. Mesti ada banyak aturannya kalau harus minjemin buku. Ya halamannya nggak boleh kelipet-lah, nggak boleh kotor, nggak boleh robek, dan nggak boleh-nggak boleh lainnya. Jadinya agak males mau minjemin ke orang lain sih.”

Pernyataan yang sangat menarik dari seseorang yang suka baca buku. Dulu, saya juga termasuk tipe orang yang sama. Jarang mau meminjamkan buku ke orang lain. Senang rasanya bila melihat buku-buku yang sudah dibeli terpampang rapi di rak buku kamar. Puas melihat deret kumpulan tulisan yang sewaktu-waktu (mungkin) akan dibaca lagi ketika akan terlelap. Saya memperlakukan buku layaknya harta karun yang tidak boleh dipunyai oleh orang-orang lain. “Enak aja dipinjem orang lain, belinya mahal-mahal je, masak nggak disimpen” begitu gumamku saat itu. Makanya, tentu sangat menyebalkan ketika sudah berbaik hati meminjamkan buku ke orang lain, tapi orang tersebut tidak punya kesadaran untuk mengembalikan. Beberapa kejadian hilangnya buku yang dipinjamkan, membuat rasa sayang terhadap (fisik) buku menjadi bertambah. Makin pelitlah saya untuk meminjamkan buku.

Sepertinya banyak orang yang punya sifat seperti ini. Mereka-mereka yang terlalu sayang dengan fisik suatu buku. Mungkin banyak diantara kita yang sengaja memajang rak bukunya di dekat ruang tamu. Dipenuhi dengan buku-buku teranyar yang disusun berdasarkan abjad. Buku-buku eksiklopedia seri lengkap berharga mahal yang rela dibeli dengan kredit. Ada efek psikologis yang berusaha dihadirkan dengan penampakan rak buku di ruang tamu. Ya, tentu saja untuk menciptakan image bahwa si tuan rumah adalah seseorang yang melek literasi, open-minded, bisa diajak diskusi banyak hal, dan berbagai pencitraan utk menaikkan kelas sebagai orang terdidik. Padahal, ada jurang yang sangat jauh memisahkan antara membeli buku dan membaca buku. Bila ada pameran buku murah, secara spontan kita pasti akan langsung impulsif untuk memborong buku dalam jumlah banyak. Apakah akan segera dibaca  atau malah baru disentuh 10 tahun lagi, itu menjadi urusan belakangan. Pokoknya jangan sampai kehilangan hype yang bisa menambah prestasi semu utk dipamerkan di sosial media. Fisik buku seakan-akan menjelma menjadi komoditas baru yang layak utk diperjuangkan demi menterengnya sebuah eksistensi.

Akhir-akhir ini, saya menyadari, bahwa kecenderungan untuk men-sakralkan fisik buku adalah suatu kebiasaan yang salah. Seharusnya, orang-orang yang cinta dengan buku akan dengan senang hati meminjamkan bukunya ke orang lain. Tujuannya agar orang lain itu bisa menemukan kenikmatan yang sama dengan orang tsb ketika membaca buku. Bukankah akan lebih membahagiakan bila buku-buku itu bisa mencerahkan lebih banyak orang?  Berapa banyak perspektif dan pemahaman yang bisa ditimbulkan dengan semakin tersebarnya buku? Atau berapa banyak orang yang akhirnya bisa berempati ketika selesai membaca buku tentang perjuangan orang menaklukkan depresi? Domino efek yang ditimbulkan ketika membiarkan lebih banyak orang bergumul dengan buku, tentu saja akan lebih masif dibandingkan ketika buku itu hanya disakralkan di satu tempat tertentu.

Kelekatan emosional akan buku-buku yang sudah dibeli membuat kita enggan untuk menyumbangkan atau meminjamkannya ke orang lain. Walaupun, kalau mau melihat lebih jauh, ketika kita selesai membaca sebuah buku, berapa banyak sih buku yang dibaca ulang? Sekali, dua kali, atau tidak pernah disentuh lagi setelahnya? Kendati itu buku favorit, kayanya sangat jarang orang yang membaca ulang buku-buku koleksinya. Alih-alih menyimpan, kenapa tidak membuat rangkuman isinya saja. Mungkin cara ini malah lebih berguna daripada hanya menjadi usang di rak buku. Dulu, Tan Malaka, karena tidak bisa menyimpan buku-buku yg dia punya, maka dia mempunyai satu buku yang isinya catatan penting dari buku yang sudah dia baca. Buku catatan itu adalah rangkuman dari buku-buku yang pernah dia baca. Ambil intisarinya, tulis dan biarkan buku-buku menemukan pembaca lainnya.

Ada berbagai macam cara untuk menyebarkan buku kepada khalayak ramai. Saya pernah baca, di suatu tempat, ada sistem yang namanya “Beri 1, Ambil 1”. Sebuah sistem dimana orang bebas mengambil buku apapun yang dia suka dari koleksi tempat itu dan memberikan satu buku yang kurang lebih punya “nilai” sepadan dengan buku yang dia ambil. Cara yang cukup menarik untuk dikembangkan. Atau bisa juga, buku-buku koleksi tsb disumbangkan ke perpustakaan umum. Kondisi ketersediaan perpustakaan umum,bahkan, untuk ukuran Jogja, mungkin agak memprihatinkan. Saya agak jarang menemukan perpustakaan di kampung yang memberikan akses bebas kepada warga kampungnya. Memang di setiap kelurahan ada sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas perpustakaan, mulai dari tingkat SD sampai SMA. Tapi, perpustakaan-perpustakaan itu tentu tidak bisa diakses sembarangan oleh warga sekitar sekolah. Maka, tidak heran, dengan akses yang sangat terbatas, semakin terpuruklah tingkat literasi orang-orang di Indonesia.

Memberikan akses terhadap buku, terutama buku anak-anak, adalah langkah mutlak yang harus diambil untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kebiasaan ini nggak akan serta merta muncul saat sudah dewasa. Mesti dibangun dan dimulai dari sejak kecil. Mungkin, pertamanya hanya betah membaca komik. Lambat laun merambat ke buku-buku dengan topik lain. Saya jadi ingat pas mau beli buku anak-anak buat si bocah, harganya mahal-mahal banget. Ada yang satu buku bisa sampai 200 ribu, goks! Ya, kalau begini caranya, gimana orang-orang dengan kondisi finansial yang lemah bisa mengajari anak-anaknya untuk rajin membaca. Kecenderungannya,  mereka lebih senang untuk membelikan uang pulsa dibandingkan menyuruh anaknya untuk menabung agar bisa membeli buku.

Situasinya mungkin akan banyak berubah dengan semakin menjamurnya buku digital. Ongkos untuk mendapatkan buku tentu akan jauh lebih murah dibandingkan bila harus membeli buku fisik. Tetapi, perlu ada perubahan kebiasaan yang drastis, mengingat belum banyak orang yang betah untuk membaca buku digital. Alasan-alasan seperti nggak enak nggak bisa dibawa tidur, nggak bisa dicorat-coret, dan berbagai macam alasan lainnya adalah langkah yang terlegitimasi untuk semakin menjauhkan diri dari membaca. Buku fisik mahal, buku digital nggak betah. Lengkap.

Hari Minggu lalu, ada presentasi dari seorang dosen lulusan Leeds University. Beliau concern terhadap masalah literasi di Indonesia. Saya sempat bertanya pada beliau, apakah bila kita diberikan akses terhadap buku maka secara otomatis kita akan suka buku? Beliau menjawab bahwa kebiasaan itu tidak bisa datang secara otomatis. Orang Indonesia cenderung untuk mengikuti role model. Makanya, keteladanan menjadi kunci penting untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak kecil. Anak-anak tidak akan terpacu untuk mencintai buku bila orangtuanya tidak menyediakan waktu khusus untuk membaca. Kalau di waktu senggang, orangtua malah sibuk menonton TV atau bermain gadget, bagaimana anak-anak bisa punya contoh bagaimana mencintai membaca?

Maman Suherman, seorang penulis dan wartawan, pernah bilang dalam suatu wawancara “Jangan jadikan buku sebagai alkitab yang harus bersih dan sebagainya. Biarkan anak-anak itu menyetubuhi buku hingga serusak-rusaknya, yang penting dia paham, dia mengerti dan dia mencintai buku.”

Perlu konsistensi untuk bisa menularkan virus-virus membaca dan menulis. Lebih dari sekedar ucapan manis di mulut belaka. Bila virus-virus itu sudah menjangkiti, maka percayalah bahwa slogan “Sepakat untuk Tidak Sepakat” bukan lagi menjadi mitos belaka.

 

Bacaan:

  1. Literasi Indonesia yang Belum Merdeka
  2. Yuk, Jadi Pendamping Membaca bagi Anak-Anak
  3. Keajaiban kata “Iqra” dan Mengapa Kita Harus Membaca

 

Advertisements

#43 Gelandangan di Kampung Sendiri

“Orang lebih takut kepada ketakutan dibanding kepada Tuhan”

Itu adalah salah satu kutipan yang terdapat dalam salah satu essay berjudul “Rasa Takut Struktural” yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1991. Banyak essay di buku ini ditulis antara tahun 1991-1994. Tentu aroma perlawanan thdp represi orba tercium sangat kental di seluruh halaman buku. Tema2 yang terkait dengan poleksosbudhankam (politik ekonomi sosial budaya pertahananan dan keamananan..”orba banget yaa..”) ditulis dengan sudut pandang kemanusiaan yang tidak jarang membuat terhenyak. Misalnya, ketika seorang Cak Nun merefleksikan kehadiran mahasiswa-mahasiswa KKN sbg sebuah bentuk hegemoni kesombongan thdp masyarakat desa yg “katanya” lebih tidak berpendidikan. 

Ada berbagai macam pelajaran hidup yg bisa diambil lewat tulisan2 beliau. Utk yg pertama kali bergumul dng pemikiran2 Cak Nun seperti saya, buku ini terbilang menarik. Tidak kompleks. Tapi, sarat nilai2 kemanusiaan yg mngkin saat ini sdh berbaur dan dibalur dng berbagai macam kepentingan sesaat. 

Buku ini terdiri dari 4 subjudul dengan fokus pembahasan yg berbeda2. Cerita tentang buruh, pembantu rumah tangga, petani, pedagang, pekerja bengkel, guru, ataupun ibu rumah tangga bisa direfleksikan sedemikian rupa sehingga profesi2 yang sering dipandang sebelah mata tidak lagi dianggap sbg sesuatu yg minor, tetapi malah beralih rupa mjd sesuatu yang layak direnungkan.  

Saya akan menuliskan bbrp tulisan atau kutipan yg mungkin bisa memberi kesadaran atau perkspektif baru. 

“Siapa omong bahwa rakyat kita malas?” penyair saya itu berang. “Sejak pukul satu lewat tengah malam, ibu-ibu di Srandakan, Bantul, sudah menyiapkan dagangannya yg kemudian mereka panggul di punggung lalu jalan kaki 20km ke Pasar Kota Yogya, berjualan sampai jauh siang untuk memperoleh seribu-dua ribu rupiah. Orang2 perkasa semacam ini dituduh malas oleh org2 yg kerjanya duduk di kursi menghadap meja, memangku sekretaris, dan mengetik satu jam dalam sehari dan memperoleh ratusan juta rupiah..” -Sunyi Kopra di Pulau Kei-.

“Manusia diciptakan sbg manusia individu dgn dua kosmos: individual dan sosial. Kalau seseorg kehilangan individualitasnya, ia larut mjd nomor dlm deretan atau kumpulan suatu komunitas. Namun, kalau ia mengintensifkan individualitasnya saja, yg tjd adlh “individualisme”. Lebih menyempit lg mjd “egoisme”. Mjd manusia adlh pergulatan utk menyeimbangkan antara indvidualitas dan sosialitas. -Cerdas,Terampil, Jujur, tapi Melarat-

Dng mjd org kecil, dng mjd orang biasa, saya bisa mengurangi keterikatan dan ketergantungan tertentu. ….. Kalau org diperbudak oleh pamrih jabatan, status sosial, kekayaan, harta benda, dan sbgnya, ia tidak bisa mjd PEMBERANI atas hidupnya sendiri. Ia gampang takut, gampang kehilangan, dan gampang merasa terancam shng sering kali harus menindas suara hatinya sendiri. -Orang Kecil, Orang Biasa-

“Sepengetahuan saya yg bodoh ini, kalau org meningkat ilmunya, jiwanya mjd luas dan kepribadiannya mjd matang. Karena keluasan dan kematangannya, ia mampu menampung kesempitan org2 macam kami. Namun, yg tjd skrng ini terbalik. Kami org2 bodoh malah harus menyediakan keluasan, kesabaran, dan kematangan utk menampung kehendak2 kalian (para mahasiswa KKN.red) Lantas apa bedanya kalian ini dng para dokter? Para penguasa?” -Ilmu Meningkat, Jiwa Meluas-

“Keliatannya saja wanita banyak diletakkan di belakang, ttp justru di situlah sesungguhnya posisi pemimpin. Persis spt setiap penggembala kambing, kerbau, atau bebek, pastilah berjalan di belakang hewan2nya. Rupanya Tuhan seolah2 menakdirkan bahwa kaum wanita scr esensial memiliki potensi utk memimpin kaum pria. Jadi, sesungguhnya dlm rumah tangga tak apa2 wanita berposisi di belakang sebab sang suami memang harus dipimpin dari belakang…” -Memimpin dari Belakang-

Kutipan-kutipan tsb tentu tidak bisa menggambarkan isi tulisan sepenuhnya, tetap harus melihat dari konteks keseluruhan cerita. Tetapi, paling tidak, kutipan2 itu bisa menampar wajah kita yang seringkali lupa utk melihat sesuatu secara murni dan dengan ketulusan hati.

Akhir kata, buku ini sangat layak untuk dibaca, bukan hanya utk lebih memahami hikayat orang-orang pinggiran, tetapi utk mengingatkan kita utk tetap menjadi manusia yang manusiawi. 

#42 Math: Finding Harmony in Chaos

Mencerahkan. Itulah kesan yang secara umum saya dapat setelah membaca buku ini. Tentu pujian tsb terlontar bukan karena penulis, H.J. Sriyanto a.k.a Familia (woy kuwi NDX nek Familia ki, salah bosque…) a.k.a Pak Joyo adalah mantan wali kelas saya di Kolese De Britto. Tapi buku ini benar-benar memberikan alternatif solusi untuk menaklukkan Matematika yg bertahun-tahun mjd mimpi buruk menjelang ujian.

Buku ini scr umum terbagi dalam 4 bagian dng fokus yg berbeda2. Di bagian pertama, dipaparkan ttg anggapan umum yg beredar ttg Matematika dan pembelajarannya di sekolah. Monster tangguh bernama matematika yang siap meneror anak-anak sekolah, terutama pada saat-saat genting menjelang ujian. Ataupun kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para guru untuk mengaitkan matematika dengan kehidupan keseharian dipaparkan secara gamblang pada bagian ini.

Sedangkan pada bagian kedua yang berjudul “Matematika yang Sebenarnya,” Pak Joyo menceritakan ttg berbagai solusi yg bisa diambil utk mendekatkan Matematika pada anak-anak. Salah satu cerita yg menarik adalah ttg Puisi Matematika.

Latar belakang beliau sbg pemain teater mngkin berandil juga thdp munculnya solusi ini. Anak-anak didiknya diminta utk menciptakan puisi yg memakai fungsi, istilah dan rumus matematika. Pendekatan unik yg berhasil memaksa siswa utk scr tdk langsung me-recall kembali pelajaran2 yg sudah terlewati. Lumayan keren juga kalau dipake nggombali bribikan sih sebenernya. Paling enggak bisa keliatan pinter. Ahay.

Di bagian ketiga, Pak Joyo banyak menuliskan pengalaman ttg bagaimana matematika itu diajarkan dan bagaimana seharusnya siswa diperlakukan sbg peserta didik.

Salah satu cerita yg menarik adlh pengalaman mengajar beliau di kelas Bahasa. Mjd tantangan tersendiri krn biasanya anak2 kelas Bahasa tdk terlalu menganggap penting Matematika. Namun, kondisi ini mlh membuat beliau tertantang. Pada waktu pertama kali mengajar, beliau malah mengajak siswa utk ber-Diskusi ttg pandangan mereka thdp matematika. Sebuah pendekatan yg cukup nyeleneh karena jarang ada guru yg mau mengajak diskusi siswanya ttg materi ajar.

Nggak berhenti sampai di situ, selanjutnya pak Joyo malah mengajak siswanya utk menonton video Sudjiwo Tedjo “Finding Harmony in Chaos.” Salah satu kalimat yang menarik dari video tersebut adalah ketika si Mbah Tedjo menyatakan bahwa “Matematika adalah kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang tidak berpola.” Lalu, setelah puas menikmati video tsb, para siswa pun diajak utk membuat essay yang diinspirasi dari video tsb. “Matematika adalah bahasa” adalah salah satu judul essay yang ditulis oleh teman-teman jurusan Bahasa. Sangar tenan.

Nah, pada bagian terakhir, hal menarik yang diceritakan adalah tentang proyek penelitian sederhana yang dipakai utk belajar Statistika. Seperti yg dijelaskan di sini (https://athanasiuswrin.wordpress.com/2017/08/17/40-asah-otak-watak/).

Selain itu, solusi yg sangat asik ditemukan pada bagian ini. Jadi, ada kelas malam Matematika dimana teman2 yg tergolong lebih pintar scr sukarela mengajari mereka2 yg belum paham ttg materi tsb. Sebenarnya cara ini mirip dng konsep asdos waktu jaman kuliah. Dng diajar oleh teman sebaya maka gap interaksi antara guru dan murid akan terpangkas sehingga siswa jadi lebih rileks bila mau bertanya atau berdiskusi. Selain itu, teman-teman yang mengajar juga akan semakin bertambah pemahamannya tentang materi tersebut. Mngkn akan asik kalau konsep ini diterapkan juga utk mapel lain spt Fisikia, Kimia, Biologi atau Akuntansi misalnya. Semua dilakukan, semata demi suksesnya pemerataan kepintaran.

Ada banyak hal yang bisa didapat, terutama oleh para pendidik (guru, orangtua, pemerhati pendidikan, dll), ketika membaca buku ini. Tidak melulu tentang bagaimana seharusnya matematika itu direkonstruksi ulang sebagai sebuah materi yang menyenangkan untuk dipelajari ataupun solusi-solusi ajaib yang bisa ditempuh. Tapi lebih dalam lagi, juga tentang bagaimana seharusnya proses pendidikan itu dijalankan. Seperti yang tertuang dalam bab 12 buku ini “Proses pendidikan seharusnya menjadi media bagi siswa untuk mengembangkan ide, gagasan dan kreativitasnya. Selayaknya pendidikan memberi ruang seluas-luasnya bagi pengembangan DAYA IMAJINASI dan DAYA KREATIVITAS peserta didik. Mengembalikan ruang kreativitas siswa untuk BERPIKIR, menggali POTENSI, dan TERBUKA terhadap pemikiran-pemikiran baru.” 

Memang menaklukkan matematika butuh pendekatan-pendekatan yang progresif dan tidak terpaku pada cara-cara tradisional. Bila semua guru bisa menanamkan rasa sayang terhadap matematika, bukan tidak mungkin logika-logika cupet dan tidak konsisten akan semakin terpinggirkan di negara ini.

Bravo utk Pak Joyo dan perjuangannya. Semoga berhasil!

 

#41 Cebok

Sebenarnya tulisan ini sangat tidak pas untuk dibaca pada malam minggu. Di saat orang sedang memadu kasih, lalu terserang rasa bosan, scrolling facebook dan membaca tulisan ini. Atau mereka yg sedang jenuh dng basa basi pada makan malam keluarga, mencari angin segar di fb lalu mendarat tulisan ini. Sangat tidak elok. Lagipula tdk berfaedah. Tapi, demi sebuah pemahaman atas tindakan paling fundamental yg dilakukan manusia tentang asas-asas hakiki dalam metode per-cebok-an. Saya akan tetap merilisnya. Selamat menikmati.

Jadi, tadi pagi, kami pergi ke kolam renang. Indoor. Nggak kuat kalau outdoor karena hawa yg sudah mulai dingin. Pulang-pulang terus meriang kan nggak lucu banget. Karena sudah lama nggak berenang, saya pun dng semangat sumpah pemuda berusaha memanfaatkan waktu yg dipunya. Maklum, udah bayar lumayan cuma buat renang 2 jam tentu jangan sampai rugi. Total, mngkin hampir 45 menit berenang serius. Lumayan.

Sepulang dari kolam renang, kami nongkrong minta makan di rumah teman. Dlm obrolan makan siang, tiba-tiba si Surya bertanya:

“Eh, kalau di Jepang, ada orang yg pipis di kolam renang nggak ya?”

“Ya mungkin ada lah, tp plng enggak rasionya lbh kecil dibanding kolam renang di Indonesia”, kataku.

“Iya juga. Eh, tapi kan org Jepang kalau habis boker nggak pernah cebok pake air. Mereka cuma pake tissue. Kan ya lebih njijiki to mesti kolam renangnya. Ono bekas bekas cepirit gitu masuk kolam renang. Hiiii..”, imbuhnya.

“JIGUR! Iya juga yaaaa. Setaaannn. Padahal aku renang lama bgt di bagian simbah-simbah. Mesti kan ada jasad-jasad renik yang nempel di badan dan keminum. Wah, telo kaspo juga! Mandi tujuh kembang ki harusan,” sahutku.

Dalam diskusi lanjutan, kami pun bertanya, gimana sejarahnya orang bisa sepakat untuk memakai tissue atau air untuk cebok. Manakah yg merupakan budaya original dari cebok? Kenapa orang yg biasa cebok pakai air nggak mau cebok pakai tisu? Dan juga sebaliknya. Sungguh pertanyaan kritis yg sangat cultural-based bukan?

Karena tdk mendapatkan jawaban yg memuaskan. Maka saya pun riset kecil-kecilan ttg pertanyaan ini. Beruntung skl menemukan jawaban panjang lebar di kolom quora.com.

Sejarah Percebokan Dunia

Tissue toilet pertama kali diciptakan pada abad ke 6 di China. Dulu, hanya pihak kerajaan yg punya fasilitas ini, sedangkan rakyat jelata ya ngising di sungai.

Waktu masa Romawi, mereka memakai ‘gompf stick’ – busa yg diletakkan di ujung tongkat. Tongkat itu akan dipakai bergantian oleh mereka yg memakai toilet. Sedangkan orang Yunani Kuno, katanya memakai BATU utk cebok (modyar ra kuwi tilis e getihen terus).

Ada bermacam bahan yg dipakai utk cebok, orang Hawai pakai sabut kelapa, org Eskimo pakai salju, bahkan ada yg pakai bonggol jagung. Gokils!

Yg paling epik adalah dari Inggris. Dulu bangsawan Inggris memakai kertas dari buku-buku nggak bermutu atau koran. Sebuah pemikiran yg menginspirasi saya utk melakukan hal yang sama ketika tjd kelangkaan air di kereta Ekonomi Jakarta Jogja. Jadi waktu itu, di tengah situasi genting di menahan gempuran sensasi boker yang sudah mengeluarkan tetesan keringat dingin yang makin lama semakin deras. Juga mempertimbangkan, daripada nahan boker terus malah jebol di tengah jalan. Maka saya memutuskan untuk memakai kertas HVS utk cebok. Lumayan sih, waktu itu habis kertas HVS 10 lembar sebagai penuntas hasrat. Wadidaw!

Nah, ternyata yg scr tradisional memakai air utk cebok adalah dari Timur Tengah. Sebuah kebiasaan yg jg masih dilakukan oleh masyarat Asia Selatan dan Asia Tenggara. Bahkan, ada tulisan Hindu kuno yg ditulis sekitar 1500BC-500AD yg memuat ritual tentang percebokan ini. Gile. Sedangkan, negara-negara seperti Amerika, Jepang, Eropa, dan Afrika tetap memilih memakai tissue paper untuk cebok.

Tentu banyak pro kontra mana yg lebih sehat dan praktis, memakai air atau memakai tisu. Ada alasan iklim, suhu atau ketersediaan air yg bisa jadi latar belakang memilih media cebok.

Menurut saya pribadi, cebok dng air tentu lebih nikmat karena kondisi tilis- nya bakal lebih bersih. Selain itu, memakai air juga meminimalkan friksi antara tisu dan tilis, yg mana sering menimbulkan perasaan perih yg cukup menganggu. Lagipula, kayanya kalau pakai tisu di CD suka masih ada bekas bekasnya gitu lho. Kan njijiki.

Tapi, memakai air tentu tdk disarankan di daerah dataran tinggi atau bersalju dng kondisi air yg super dingin. Kaya pas waktu cebok di Dieng, wah tilis serasa beku. Gebyar gebyur nggak kerasa. Wong mati rasa. Edan tenan.

Sedangkan memakai tisu tentu akan lebih praktis bila sdng bepergian ke alam terbuka, misalnya pas naik gunung. Airnya mending dipakai buat minum drpd buat cebok. Biar nggak perih, tentu tisu basah sangat amat disarankan sbg penutup prosesi cebok.

Sungguh sebuah kondisi yg sangat pelik dan bisa menyebabkan gegar budaya yg lumayan parah sih. Bahkan, saya pernah dapat cerita dari seorang teman yang ketahuan oleh teman Jepangnya bahwa dia cebok pakai tangan dan air. Raut muka dan stigma jijik langsung disematkan di teman saya itu. Bahkan, mungkin mereka nggak akan pernah mau salaman sama si teman saya ini. Karena menganggap bahwa tangan si teman saya penuh dng bakteri. Ya keleusss..situ nggak pernah yg namanya sabun opo yo. Ndeso.

Lain lagi dng cerita si Surya ttg teman Jepangnya. Jadi, si org Jpg ini exchange ke Thailand. Nah, disana kan nggak ada tisu sehingga si org ini harus bawa tisu sendiri. Nah, ditanyalah sama si Surya, “Lah, di sana kan ada bak mandi yg isinya air to, kenapa nggak pakai itu aja?” Lalu dia pun menjawab dng polosnya, “Wah aku bingung gimana makenya, masak harus manjat-manjat bak mandi buat cebok sih?” Owalaaahhhh leee..ora ngerti ono teknologi mutakhir bernama ciduk po? Ndeso tenan.

Jadi mana yg lebih mending? Ya, menurut ane sih sesuai dng budaya yg dianut aja. Kalau sedari kecil udah nyaman cebok pakai air ya dipertahankan, begitu juga sebaliknya.

Saya selalu ingat kata-kata ibu bahwa kalau jadi orang ya harus gampang beradaptasi sama sesuatu yang baru.

Jadi ya paling baik adalah menganut prinsip “Seburuk-buruknya media cebok, paling buruk adalah mereka yang nggak cebok.”

Sekian. Berfaedah kan?

Sumber:

https://www.quora.com/Why-do-we-use-toilet-paper-instead-of-water-showers-especially-in-the-West

#40 Asah Otak-Watak

Image result for critical thinking

Pada waktu liburan kemarin, saya sengaja janjian dengan mantan wali kelas saya di De Britto, namanya Pak Joyo. Sudah hampir 10 tahun tidak bertemu, hanya cukup sering bertegur sapa melalui pesan singkat. Dalam obrolan yang berlangsung lama tersebut (hampir 5 jam lebih) dan diakhiri dengan makan babi di terminal Condongcatur, beliau banyak berbicara tentang apa yang sedang dilakukan akhir-akhir ini. Saat itu, beliau sedang fokus menyiapkan diri untuk melakukan presentasi di ajang Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Sebuah ajang dimana guru-guru seantero Indonesia dikumpulkan lalu diminta untuk mempresentasikan Best “Practice” yang mereka kembangkan dan lakukan di sekolah.

Nah, Pak Joyo ini mengembangkan (saya agak lupa judulnya), tapi intinya adalah Pemahaman Berbasis Proyek untuk Mata Pelajaran Statistika. Mata pelajaran statistika yang kebanyakan hanya berupa rumus-rumus belaka, diubah sedemikian rupa sehingga bisa mempunya efek kebermanfaatan yang lebih besar. Beliau mendorong anak didiknya untuk mendesain penelitian kecil-kecilan yang nantinya akan dipresentasikan kepada pihak-pihak terkait. Murid-murid akan dibimbing secara intensif mulai dari pemilihan topik, merumuskan masalah, membikin kerangka berpikir, menyusun hipotesis, landasan teori, mengumpulkan data, analisis, pembahasan dan sampai menuju kesimpulan. Terakhir, bila topik-topik itu dirasa menawarkan solusi langsung terhadap permasalahan yang diangkat, maka kelompok siswa tersebut akan memaparkan hasil penelitiannya di depan pemangku kebijakan.

Ada banyak topik yang diangkat. Salah satu yang beliau ceritakan adalah tentang kepemilikan SIM C di antara siswa De Britto. Siswa tersebut mempertanyakan berapa banyak murid-murid di De Britto yang mempunyai SIM C. Saya lupa tentang hasilnya, tapi ada cukup banyak yang tidak punya SIM C. Temuan itu pun dianalisis lebih lanjut dengan pertanyaan tentang jarak rumah ke sekolah, kemungkinan menggunakan transportasi umum, waktu tempuh, dll. Setelah tau seluk beluk masalahnya, mereka pun mengeluarkan rekomendasi pada sekolah untuk membuat SIM C secara masal karena menurut UU, dari segi umur sudah mencukupi untuk mendapatkan SIM C.

Saya pun bertanya apakah ada outcome secara non-akademik dari kegiatan ini. Beliau pun secara lugas menjawab bahwa ada banyak hal positif yang bisa diambil dari kegiatan ini. Siswa-siswa akan mempunyai pemikiran yang lebih terstruktur dan sistematis dalam melihat sebuah persoalan. Karakter anak-anak muda yang cenderung reaktif dalam menyikapi masalah, tampaknya bisa cukup diredam dengan kegiatan ini. Sikap-sikap reaktif sedikit berkurang dan mereka jadi lebih sabar dalam melihat suatu fenomena. Tidak grusa-grusu dalam menanggapi. Ya, karena mereka dipaparkan dengan cara-cara berpikir yang baik, yang berbasis bukti dan fakta. Bukan bergerak berdasarkan asumsi atau perasaan belaka, yang tidak kadang malah menjerumuskan atau malah memperkeruh suasana.

Selain itu, mereka juga belajar untuk menerima dan membuka diri terhadap sudut pandang lain melalui presentasi yang dilakukan di depan otoritas terkait. Bila menyoal lingkungan sekolah, maka mereka bisa mendapatkan sudut pandang dari kepala sekolah dan jajarannya. Ini menjadi penting untuk mendidik karakter siswa agar nggak nggugu karepe dan cenderung memaksakan kehendak opini atau pemikirannya kepada orang lain.

Diskusi dan dialog menjadi penutup dari cara berpikir ilmiah yang diajarkan di sekolah ini. Maka, mungkin siswa-siswanya juga nggak tumbuh dalam budaya baperan. Segala hal yang berlawanan dengan pemikirannya tidak dianggap ofensif dan menyinggung perasaan. Rileks aja gitu dalam menanggapi perbedaan opini. Pada point tertentu, mereka akan bisa santai dengan term “Sepakat untuk Tidak Sepakat”.  Perasaan dan pemahaman ini menjadi penting untuk benar-benar jadi manusia yang bebas dan merdeka. Nggak melulu harus terpengaruh dengan apa yang orang lain katakan atau lakukan pada kita.

Dulu, pas masih SMA, cara berpikir ini juga dikenalkan melalui pembuatan karya ilmiah (pas kelas 2 SMA). Kami punya waktu sekitar satu tahun untuk bisa menyelesaikan karya ilmiah ini. Topiknya bisa bermacam-macam tergantung minat dan ketertarikan dalam mata pelajaran tertentu. Bila gagal untuk menyelesaikan dalam batas waktu yang ditentukan, maka kami akan dikarantina di kelas tertentu dan kehilangan hak untuk mengikuti pelajaran atau ulangan harian. Bisa dibayangkan ancaman tidak naik kelas yang muncul karena karantina ini. Tidak ada belas kasihan yang diberikan pada kami. Kalau semisal terpaksa nggak naik kelas, ya berarti itu konsekuensi dari gagal menunaikan kewajiban. Risiko ditanggung sendiri.

Memang, proses diskusi dari hasil penelitian sederhana kami hanya dilakukan dengan guru pembimbing. Tapi, cara ini cukup ampuh untuk bisa menanamkan proses berpikir ilmiah sejak dini. Diskusi dan dialog secara masal dilakukan pada masa-masa pemilu presidium (OSIS) atau masa setelah ujian semester. Biasanya, setelah ujian semester, ada kegiatan yang dinamakan Forum Olah Pikir. Di forum ini, tiap perwakilan kelas akan diminta untuk membaca buku dan mempresentasikan isi dari buku tersebut ke depan seluruh siswa sekolah. Di akhir presentasi, akan ada waktu bertanya dari siswa.

Proses-proses seperti ini, bisa dibilang termasuk keren buat melatih daya kritis semenjak muda. Ya walaupun pada akhirnya di dunia nyata, semakin kritis seseorang maka (biasanya) dia akan semakin terasing dari peradaban umat manusia sekitarnya. Tapi, paling enggak, pernah ada suatu masa, kita pernah jadi manusia yang bisa mikir lah ya. ^^

#39 Tanya Jawab pas Misa

Minggu lalu, pas pulang ke Jogja, saya pergi menemani bapak dan ibu ke gereja. Sebenarnya niatnya nggak ke gereja sih, tapi gara-gara ditanyain dan disuruh ke gereja ya akhirnya berangkat ke gereja. Nggak ada yang terlalu istimewa karena posisi parkirnya ya masih di situ-situ, ngambil tempat duduknya juga masih di tempat yang sama, pokoknya agak nggak bersemangat karena ngantuk. 

Nah, karena saya jarang ndengerin khotbah, kemarin itu saya coba untuk mendengarkan khotbah. Eh kebetulan, khotbahnya membingungkan. Agak kontradiksi antara satu penjelasan yang satu dengan yang lainnya. Yo sekarang juga udah lupa sih isi khotbahnya apa.

Tapi gara-gara kejadian itu, terus jadi kepikiran. Ini kenapa kalau khotbah di gereja katholik nggak pernah ada sesi tanya jawab ya? Misalnya jatahnya khotbah 20 menit, terus ada waktu 5 menit untuk sesi pertanyaan dari umat. Yang kaya gini kan malah bisa langsung membantu si umat untuk mengatasi rasa penasarannya. Sekaligus, kalau jawabannya dirasa memuaskan, malah bisa semakin menambah rasa keimanan pada Yesus juga to? Atau bisa juga sebaliknya ding, kalau jawabannya nggak memuaskan ya berarti umat itu akan semakin skeptis terhadap apa yang dia percayai selama ini. 

Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang menyangkut kehidupan keseharian bisa jadi membutuhkan jawaban yang lugas dan tepat sasaran. Spektrum pertanyaan bisa bermula dari semacam, kenapa kok saya sudah rajin ke gereja tapi hidupnya apes terus sampai yang agak pilosopis semacam, kenapa kok banyak orang yang rajin ke gereja tapi kerjaannya korupsi. Yang gini-gini kan membutuhkan jawaban yang mudah dipahami dari si pastor-nya. 

Seharusnya gereja Katholik ki menyediakan ruang dialog semacam ini di perayaan ekaristi-nya. Ya kan nggak semua umat Katholik ki pinter-pinter dan bisa memahami Alkitab ataupun punya kemampuan untuk mengimplementasikan ayat-ayat yang ada di sana dalam hidup sehari-hari secara otomatis, sepulang dia menghadiri perayaan ekaristi. Ya, nek umat e kaya saya yang susah paham terhadap hal-hal kaya gini, apa ya nggak makin ndlosor le dadi wong Katholik?

Kalau tak pikir-pikir, ada tantangan besar yang membuat umat Katholik mau dengan sukarela datang ke gereja. Mungkin kalau ditanya, kenapa tiap minggu harus datang ke gereja, rentang jawabannya bisa mulai dari “udah kebiasaan, takut kualat” sampai alasan-alasan yang sangat substansial. Itu baru pertanyaan yang gampang. Kalau ditanya lebih lanjut, kenapa kok milih jadi orang Katholik, mungkin rentang jawabannya bisa lebih luas lagi. Ada yang menjawab karena pilihan orangtua, tertarik dengan ajarannya, bahkan saya percaya bakal ada yang njawab karena Yesus tu kaya rockstar, rambut e gondrong. Yo mesti ya ada yang kaya gitu. 

Lha yang kaya-kaya gini kan menarik untuk diangkat ke dalam perayaan Ekaristi. Saya tu menganggap kalau memberi khotbah tu kaya ngasih kuliah je. Materi pelajarannya tentu akan lebih masuk ke pikiran kalau ada proses diskusi di sana. Kalau nggak ada proses berpikir kritis yang menimbulkan pertanyaan, ya bisa berarti umatnya udah ngerti semua penjelasan si romo-nya atau malah sebodo amat soal si romonya mau ngomong apa. Yang penting si umat itu udah menjalankan kewajibannya untuk pergi ke gereja. 

Saya kadang sedih, mosok yo aku dadi umat Katholik mung ngene-ngene wae sih. Stagnan nggak ada kemajuannya sama sekali. Kalau di twitter ada akun @NUgarislucu yang isinya twit-twit lucu tentang ajaran Gus Dur, saya tu berharap ada akun @Katholikgarisngguyu, kan asik gitu lho. 

#38 Detasemen Anti-Teror Pelajaran Fisika

Image result for physics is fun

Kebetulan saya di sini bertetangga dengan dosen Fisika dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Gara-gara beberapa hari lagi dia bakal balik ke Indonesia, kami pun ngobrol tentang apa yang mau dia lakukan sepulang dari Jepang.  Ternyata, dia punya visi yang keren tentang bagaimana seharusnya orang belajar Fisika dan efek yang bisa ditimbulkan ketika banyak orang mulai memahami/menerapkan Fisika dan atau Matematika untuk kehidupannya sehari-hari.

Ketika mendengar kata Fisika pertama kali, jelas yang ada di benak orang-orang adalah monster yang amat susah untuk ditaklukkan. Itu adalah citra yang dipahami oleh masyarakat umum Indonesia (dan mungkin di negara lain juga). Saya masih ingat pas SMA kelas 2 hampir nggak naik kelas gara-gara nggak bisa sama sekali ngerjain soal-soal Fisika waktu ujian semester. Udah pasrah gara-gara cuma bisa nulis “diketahui” di lembar soal essay. Cuma dikasih upah nilai 5 dari total 32. Hahaha. Edan. Kondisi yang sama berulang waktu mau Ujian Akhir Sekolah di kelas 3. Saking depresinya nggak paham-paham tentang Fisika, malam sebelum ujian, saya dan temen-temen sudah memasrahkan nasib dan kumpul-kumpul bertajuk “belajar bareng” itu hanya diakhiri dengan menyalakan lilin dan berdoa bersama. Saking sudah terlalu putus asa.

Mendengar pengalaman itu, dia pun berkata, “Kamu tau nggak kenapa banyak orang yang benci banget sama Fisika. Ya, itu gara-gara guru-guru Fisika di sekolah nggak bisa memberikan penjelasan dan pemahaman yang baik tentang Fisika. Kebanyakan dari mereka hanya berfokus pada hapalan rumus-rumus tanpa pernah menanamkan konsep cara berpikir tentang Fisika itu sendiri. Ditambah lagi, kalau udah kelas 3, mereka bakal masuk ke bimbingan belajar terus disana bakal dicekoki dengan rumus-rumus cepat. Semakin jauhlah mereka dari pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana menghadapi Fisika.”

“Padahal, kalau mau diajarin dengan cara yang benar. Fisika itu sebenarnya sangat menyenangkan dan applicable dalam kehidupan sehari-hari lho. Saya nyoba ngebandingin teman-teman yang paham Fisika dan nggak paham Fisika. Saya ngeliat kalau mereka yang paham Fisika lebih punya daya analisis yang tajam dibanding mereka yang nggak paham. Kalau nggak paham Fisika, biasanya lebih lambat untuk menganalisis sesuatu dan jatuhnya sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Selain, kalau kita paham Fisika, cara pikir kita akan logis, terstruktur dan sistematis juga. Memang nggak bisa digeneralisir sih, tapi paling enggak, bisa sampai tahap kaya gitu lho, Fisika mempengaruhi cara pikir seseorang.”  

“Makanya, gara-gara hal-hal itulah terus saya mikir bahwa harus ada seseorang yang mampu mematahkan mitos tentang Fisika yang horor. Kalau nggak ada yang mau turun tangan memperbaiki kondisinya ya akan susah bagi Indonesia untuk bisa bersaing dalam hal teknologi dan sains.” imbuhnya.

“Kalau udah ngeliat kaya gitu, berarti apa yang bakal dilakuin sepulang ke Indonesia?” tanyaku.  

 “Rencananya sih, sepulang dari sini, saya mau bikin semacam les-lesan gratis untuk pelajar-pelajar yang berminat untuk belajar Fisika. Saya sih pingin mengenalkan bahwa Fisika itu juga bisa jadi cabang ilmu yang layak untuk dicintai dan dipelajari. Awalnya sih targetnya nggak muluk-muluk, mungkin bisa dimulai dengan jumlah murid yang sedikit. Tapi nanti kalau semisal rencana ini bisa berjalan dengan lancar dan peserta semakin banyak, toh ane punya sumber daya mahasiswa Fisika yang bisa dimintain tolong untuk ngajar adik-adiknya yang masih SMA atau SMP. Kan lumayan bagi mereka, dengan ngajar, ilmu yang didapat di kuliah juga bisa berguna untuk orang lain, sekaligus memberikan pemahaman yang lebih untuk si mahasiswa itu sendiri. Mengajar orang lain adalah cara paling baik untuk memahami sebuah topik tertentu. “ begitu katanya.

“Wedan..hebat banget tuh kayanya, kalau semisal ente bisa membuat murid-murid di kotamu jadi jatuh cinta sama Fisika. Bisa jadi berita nasional tuh…hahaha…” kataku.

“Ya, itu mah keinginan jangka panjangnya sih. Sebenarnya motivasinya sih sederhana banget. Saya itu berasal dari keluarga yang biasa-biasa aja. Dulu, saya sama sekali nggak bisa ikut bimbingan belajar waktu mau ujian nasional, gara-gara nggak punya uang. Akhirnya ya udah, buku-buku temen-temen yang belajar di bimbel, saya fotokopi aja semua, terus belajar dari situ. Eh, kok ya dapet rejeki masuk ke jurusan Fisika terus sekarang bisa jadi dosen.

Saya sih cuma ngerasa kalau pendidikan tu sekarang mahal banget. Kondisi inilah yang membuat gap-nya semakin besar. Kalau mereka-mereka yang kaya mah enak karena punya uang buat masuk ke sekolah yang bagus, dapet guru-guru terbaik ditambah fasilitas yang mumpuni. Lah, anak-anak yang nggak punya uang terus gimana nasibnya? Ya, nggak bisa bersaing dengan mereka-mereka yang punya sumber daya lebih lah. Walaupun, nggak selamanya uang itu jadi faktor penentu. Tapi, menurut pengalamanku, lumayan berpengaruhlah terhadap akses terhadap pendidikan.” kata dia panjang lebar.

“Saya sih cuma kepingin ngeliat orang lain juga pinter gitu lho Pink. Ada kesenangan tersendiri yang nggak bisa diukur dengan uang kalau bisa ngajarin anak yang dulu nggak bisa itung-itungan, terus malah bisa masuk ke SMA favorit. Kepuasannya nggak terbayangkanlah. Lagian, di Pembukaan UUD 1945 juga ada kata-kata “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” kan, ya inilah wujud konkrit yang mau saya lakukan. Saya itu udah dapet kesempatan untuk bisa sekolah sampai S3 plus udah dapat rejeki jadi abdi negara, tapi masak nggak ada timbal balik yang tak berikan ke society sih. Kalau mau peka, ya masih banyak banget yang membutuhkan bantuan untuk mengakses pendidikan-pendidikan dasar. Masak ya cuma mau hidup sampai umur 80 tahun kaya orang-orang kebanyakan tanpa ninggalin apapun ke sesama sih. Males juga kalau kaya gitu. Padahal, mendidik orang lain adalah kewajiban dari mereka-mereka yang terdidik. Nggak malah, kepinterannya cuma buat dirinya sendiri. Yah..gitu lah, saya tu sadar kalau mau ngejar Nobel kaya Einsten ya nggak bakal mungkin kayanya. Atau kalau mau jadi milyuner kaya Bill Gates juga nggak bakal kesampaean. Jadi ya..gini-gini ajalah, nggak usah yang muluk-muluk…hehe…semoga aja bisa dieksekusi…” pungkas dia.

Tiba-tiba terdengar suara dari dalem, “Pak’e, udah jam setengah 2 pagi lho…”

 “Waduhhhh…besok harus masukkkkk…bubar-bubar…”