Akhir-akhir ini saya sering sekali dolan ke pemakamannya eyang-eyang dan leluhur dalam rangka persiapan hajatan di bulan Desember nanti. Sebagian besar dari mereka yang saya kunjungi adalah mereka yang meninggal sebelum saya lahir. Jadi saya tidak pernah memiliki hubungan emosional dengan mereka, hanya relasi historis dan keluarga yang menjadikan saya mendadak dolan ke peziarahan terakhir mereka.

Ya, seperti layaknya orang yang ziarah ke makam. Saya melakukan ritual-ritual yang rutin dilakukan seperti tabur bunga dan berakhir dengan berdoa untuk jiwa-jiwa yang (mungkin) sudah tenang di alam sana. Berkunjung ke makam orang yang sama sekali tidak pernah punya hubungan emosional dengan kita merupakan hal yang sangat sulit, kalau tidak bisa dibilang malas. Ya, wajar saja, saya merasa asing dengan eyang-eyang tersebut. Apalagi yang tingkatannya dalam jenjang keluarga itu, sudah 4-5 tingkat diatas simbah saya. Nak yo angel banget (susah sekali. Red) untuk bisa memahami secara mendalam makna kedatangan di situ. Akhir-akhirnya saya cuma bisa memaknai kunjungan itu sebagai kewajiban seorang turunan keluarga kepada seseorang yang sudah dituakan. Saya sama sekali tidak menarik pemahaman yang cukup dalam ketika melakukan ziarah. Gimana bisa memahami sesuatu, lah wong subjeknya untuk dipahaminya saja saya nggak tau pasti. Paling banter cuma dari cerita bapak ibu, itu aja saya sangsi kalau mereka pernah bercengkrama dengan mereka. Itu pun paling hanya cerita turun menurun yang mungkin bisa diragukan kebenarannya.

Lain halnya ketika saya berkunjung ke makam simbah yang jelas-jelas saya pernah ketemu secara fisik, saya pernah bercengkrama, saya pernah berkunjung ke rumahnya, dolanan atau lebih tepatnya ngrepoti di rumah simbah. Akan ada banyak kenangan dan makna yang teringat ketika saya berkunjung ke rumah terakhir mereka. Kadang-kadang saya bisa senyum-senyum sendiri ketika mengingat apa yang telah mereka ajarkan kepada saya. Intinya adalah kita punya memori apa tidak dengan orang yang kita kunjungi itu.

Lah, terus saya berpikir begini, harusnya kuburan itu bisa jadi semacam tempat belajar yang luar biasa. Bisa dibayangkan kalau kita bisa belajar banyak makna kehidupan dari simbah-simbah kita, bisa belajar sejarah keluarga, bahkan kita mungkin bisa tahu kelakuan-kelakuan memalukan bapak-ibu kita pas masih kecil. Kayanya bakal keren ya kalau kuburan-kuburan itu dibuat dan dikelola dengan teknologi modern. Bukan berarti harus modern dan super-kaya layaknya San Diego Hill. Tapi gimana kalau tiap-tiap kuburan itu punya semacam tombol yang bisa dipencet di nisan-nya, nah setelah dipencet bisa keluar kayak layar transparan gitu yang memutarkan tentang segala macam hal soal orang yang dikuburkan di situ.

Gimana caranya bisa memutarkan memori? Ya nggak tahu. Mungkin aja di masa depan kita bisa menanamkan semacam microchip yang bisa merekam segala aktivitas otak termasuk memorinya sepanjang hayat. Yang paling penting juga adalah tidak ada mode DELETE di dalam microship itu. Kita nggak punya kuasa apapun untuk bisa menghapus atau nambahi apa yang ada di dalam microchip itu. Jadi tidak ada fase-fase kehidupan dari orang tersebut yang bakalan terlewat. Nah, nanti di pemutaran video kita bisa milih tuh, mau nonton dia pas masih muda/ masih kerja/ udah tua. Wih, seru banget tuh kayanya ya. Kita bisa jadi belajar banyak dari simbah kita. Bukan aja tentang hal yang baik, tapi juga dari hal-hal yang buruk yang pernah dilakukan oleh mereka.

Menurut aye, kalau ide ini bisa diterapkan, maka orang pun akan berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan karena microchip itu akan berguna layaknya tugas seorang malaikat, dia jadi pencatat kebaikan dan keburukan kita di dunia. Kalau itu yang terjadi, maka orang nggak akan pernah lagi melakukan kejahatan (kecuali kalau dia emang niat diingat sebagai penjahat yang ulung). Dia bakal mikir kalau keluarganya pasti malu semisal dia adalah seorang aktivis penggerak MOLIMO di kampungnya atau dia ternyata adalah gembong narkoba.

Nah, masalahnya kita sebagai keturunan mereka, kita siap nggak kalau ternyata kita tahu bahwa simbah kita adalah orang yang (pernah) jahat. Kalau simbah kita presiden sih kita masih bangga, lah tapi kalo pas jadi presiden dia sukanya mbunuhin orang rame-rame? Bisa nggak terima kenyataan kalau misalnya dulu simbah kita koruptor jaman Sultan HB VIII? Atau mungkin begal pasar Beringharjo jaman dulu? Atau dulu malah simbah kita adalah pelopor gerakan anti LGBT yang dengan tega mbunuh-bunuhin mereka yang diduga kaya gitu? Nah lho…

Lah, kitanya sendiri sebagai yang (bakal) meninggal siap juga nggak semisal segala macam kehidupan kita dipublikasikan ke orang-orang. Kadang-kadang kitanya suka aneh juga sih, kita mau dikenang sebagai orang baik-baik, orang terhormat dan diagung-agungkan di upacara pemakaman, tapi di kepala kita nggak pernah ada kenangan-kenangan baik yang disimpan atau dilakukan untuk orang-orang di sekitar kita. Isinya tiap hari cuma nyampah di facebook, ngehina-hina pemerintah, ngehujat siapapun mereka yang nggak setuju sama aliran kita, menyebarkan kebencian ke semua orang dengan nge-share link-link berita yang nggak jelas kebenarannya. Kalau kitanya kaya gitu tiap hari ya ide ini sampai kapanpun nggak akan pernah terlaksana. Wong kitanya sampai mati masih tetep jadi orang munafik. Gimana bisa kamu bisa nerima sesuatu yang membutuhkan kejujuran tingkat dewa macam ini? Ah sudahlah..

Mungkin kalau ide ini nanti berhasil diwujudukan, cicitku kelak akan mengerti, darimana kebiasaan “kebiasaan ngupil terus salaman” itu berasal, hahahaha…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s