Sore ini saia sedikit memutar otak melihat sebuah iklan shampo di televisi. Iklan itu bercerita tentang seorang anak perempuan berambut panjang yang diantar ibunya menemui pelatih sepakbola di sekolahnya. Kemudian muncul beberapa percakapan antara mereka berdua.

Si ibu : “Pak, ijinkan anak saia untuk masuk tim sepakbola”
Si pelatih : “Nah, itu kan untuk anak lelaki?”
Si ibu : “Tapi kemampuannya sama dengan anak-anak lelaki, pak!”
Si pelatih : “Iya, tapi nanti kalo kotor kena debu, rambutnya lepek, bagaimana?”
Si ibu : “Ah, bapak hanya tinggal melatihnya, lainnya saia yang urus!”

Nah, akhirnya si anak pun dilatih secara khusus oleh pelatih tersebut. Jatuh bangun menangkap bola di tanah yang berrdebu, tapi si anak pantang menyerah. Sampai si anak pun ikut dalam satu pertandingan sepakbola dan dia akhirnya mencetak satu gol penentu dengan tendangan volley sambil menggeraikan rambutnya yang panjang itu. Iklan yang agak aneh sih menurutku, tapi bukan itu point yang mau saia ambil.

Iklan yang tidak seberapa menarik itu melambungkan saia pada kejadian beberapa tahun silam. Saat saia bersusah payah menyelesaikan karya tulis sebagai tugas untuk kenaikan kelas. Kebetulan topik yang saia ambil adalah mengupas makna seks dalam novel yang ditulis Djenar Maesa Ayu berjudul “Jangan Maen-Maen (dengan Kelaminmu)”. Topik yang saia kira tidak banyak disadari oleh teman-teman saia kala itu. *mungkin inilah yang menjadikan saia sedikit aneh di mata teman-teman dekat saia, kadang-kadang pikiranku suka berimajinasi berlebihan* Nah, salah satu judul cerita yang saia kupas ada yang berjudul “Menyusu Ayah”. Inti ceritanya adalah seorang anak perempuan piatu karena ibunya meninggal pada saat proses kelahirannya. Yang paling menarik menurut saia adalah satu paragraf yang cukup membuat saia terhenyak ketika membacanya untuk pertama kalinya. Begini bunyinya.Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.

Itulah yang membuat saia pada akhirnya sedikit sebel dengan iklan yang baru saja saia tonton itu. Selain dari segi estetika tidak terlalu menarik, kalau dikaji lebih lanjut, iklan itu pun menunjukkan bahwa perempuan berada pada kondisi yang lebih rentan daripada lelaki. Perempuan masih dianggap sebelah mata ketika dia berusaha untuk memasuki dunia yang selama ini lekat dengan maskulinitas, seperti misalnya sepakbola, politik, dll. Perempuan ditakdirkan untuk mempunyai kodrat-kodrat yang berkaitan dengan posisinya sebagai seorang perempuan, misalnya melahirkan, merawat anak, mengurusi keluarga. Begitulah yang selama ini mentradisi dalam masyarakat Indonesia. Perempuan dipaksa untuk terkungkung dalam kodratnya sebagai seorang perempuan. Kalau pun semisal dia berusaha untuk memilih tidak melakukan apa yang sudah dikodratkan “masyrakat” kepadanya, maka gunjingan akan segera terjadi baik itu di pihak internal ataupun eksternal perempuan tersebut.Kalau boleh meminjam istilah yang tidak disukai salah seorang teman saia (Sista.red), wanita berada pada posisi yang inferior sedangkan pria ada di posisi yang lebih superior. Ya, itulah yang sejak dahulu berkembang di masyarakat Indonesia, perempuan dipandang lebih rendah daripada laki-laki. Salah seorang filsuf Prancis pernah menulis bahwa perempuan itu adalah second sex, dimana dia memang sudah dilahirkan tidak dalam posisi yang sejajar dengan lelaki, tetapi dalam posisi yang lebih bawah.

Tekanan yang begitu besar dari “dunia maskulin” pun membuat jengah beberapa golongan perempuan yang menamakan diri sebagai penganut feminisme. Sebuah aliran atau boleh dibilang suatu idealisme yang mendasarkan kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Mereka berusaha agar para perempuan diberi posisi yang sejajar dengan para lelaki. Mereka tidak ingin melebihi kaum lelaki, tetapi paling tidak jadikanlah mereka partner untuk kaum pria. Itulah beberapa “tuntutan” yang sering disuarakan oleh mereka. Sehingga banyak di antara mereka yang rela tidak menikah karena menikah sama saja dengan memposisikan diri mereka ada di bawah laki-laki. Fiuh. *bisa-bisa gag ada lagi cerita malam pertama nek kabeh wong wadon duwe pikiran koyo ngene!*

***

Saia kira tidak ada seorang ayah yang menyesal bila dia diberi karunia berupa anak laki-laki. Lain halnya ketika Tuhan memberikan dia anak perempuan, akan ada sejenak raut wajah kekecewaan walaupun pada akhirnya dia tidak berbuat apapun terhadap kondisi tersebut. Laki-laki yang sudah sejak lahir seperti “terkodratkan” untuk berada di atas perempuan pun sering memiliki arogansi yang kelewat batas terhadap para perempuan. Berbagai kesombongan pun terpancar dari segala tingkah laku mereka untuk menunjukkan bahwa mereka lebih berkuasa daripada lelaki. Perasaan tidak terima dan merasa terlecehkan pasti akan langsung menyeruak ketika ada perempuan yang berada pada posisi yang lebih tinggi daripadanya. Berbagai proteksi pun dilancarkan agar si perempuan tidak bisa mencapai posisi yang lebih tinggi dari lelaki. Kebanyakan lelaki akan takut kalau perempuan ada di posisi yang “lebih berkuasa” maka mereka akan diperlakukan secara sewenang-wenang dan akan dipermalukan harga dirinya. Sebuah ketakutan yang saia kira tidak masuk akal.

Hal ini pulalah yang tercermin dalam dunia kehidupan sehari-hari. Tidak usahlah mengambil contoh kuota DPR yang sampai saat ini pun kursi untuk caleg perempuan yang “hanya” 30% itu tidak kunjung bisa terpenuhi. Lihat saja keseharian di sekeliling kita, bolehlah kita ambil contoh masalah percintaan. Baru-baru ini saia mendengarkan cerita dari adik sepupu saia (adik sepupu saia ini perempuan.red) yang baru saja putus dari pacarnya. Walaupun sudah putus, si mantan pacarnya adik saia ini nggak terima kalau semisal si adik saia itu dekat dan akhirnya pacaran dengan lelaki lain. Aneh nggak sih? Menurut saia sih aneh banget. Itu mungkin perilaku otomatis yang akan dilakukan seorang lelaki ketika posisinya terancam.Yup, si lelaki itu pasti akan berpikir kalau si saudara saia itu akan meninggalkan dia dalam kondisi masih “sendirian” alias belum punya pengganti. Dan saia yakin, sikap yang ditunjukkan oleh lelaki itu hanyalah sikap seorang pengecut yang tidak mau mengakui “kekalahan” nya terhadap orang lain apalagi seorang perempuan. Adik saia itu pun sempet beropini “Egois banget yo mas si mantanku itu.” , dengan tegas dan lantang saia jawab “YA”.Hehe. Memang begitu kenyataanya, lelaki itu sering merasa lebih berkuasa dalam menjalani sebuah hubungan, sehingga dia cenderung sombong dan tidak mau peduli dengan pasangannya. Akibatnya sudah bisa ditebak, dalam hubungan pacaran itu, sering sekali si lelaki menyakiti hati pasangannya, baik itu sadar maupun tidak sadar. Nah, kalau si perempuan sudah tidak sabar dengan sikap si lelaki, lalu mereka pun berontak dan minta putus. Selalu begitu akhirnya. Walaupun sudah putus, si lelaki masih saja tidak mau mengalah dan merelakan perempuan yang pernah jadi pasangannya untuk bisa memadu kasih dengan lelaki lain. Ckckckck….dasar lelaki!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s