Dan hari ini berulang kembali, kita duduk di tempat yang sama, menikmati gurau anak-anak tetangga yang bermain gundu di halaman rumah kita sembari menyeruput secangkir teh tanpa gula yang kau buatkan khusus untukku.

Kita selalu di sini, sore hari, di waktu yang sama, untuk berbincang dan menertawakan hari yang sudah dilalui.

Kita tak pernah terlahir sebagai dua orang yang cukup romantis bertukar kata-kata indah, apalagi kamu, dengan tongkrongan ala anak lelaki.

Kita tak pernah bisa saling menatap kemudian melontar puja-puji layaknya para pujangga itu, apalagi kamu, yang selalu minim berbahasa.

Kita tak pernah bisa saling bersandar, apalagi kamu, yang hanya dengan menggenggam tanganku sanggup berdiri tegak kembali.

Tapi siapapun kamu.

Mari bersama menghabiskan waktu sampai senja terakhir kita.

Bertukar tawa, cerita dan meleburkan diri dalam satu jiwa sambil merajut memori-memori usang penuh makna.

Akankah kita sampai ke sana?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s