apologi kereta pagiKereta kita baru saja meninggalkan stasiun Bandung. Dingin yang menyeruak sejak subuh tadi masih saja menyiksaku. Tapi, hangatnya pelukan dan lambaian selamat jalan dari dua eyang tersayang masih terasa lekat di tubuhku. Tak lama, kamu berkata ingin merebahkan kepalamu. Tentu saja kamu mengantuk, tidurmu semalam pasti tidak nyenyak karena kita bercengkrama sampai larut.

Sejak beberapa tahun lalu, aku suka sekali dengan kereta. Melihat orang berlalu lalang menjajakan makan atau sekedar berdecak kagum mengamati anak kecil yang berlarian sepanjang lorong tak mau diam. Di kereta ini, aku bisa merenungi perjalanan sambil menatap keluar jendela, berimajinasi tentang masa depan bersama wanita yang sedang tidur di pangkuanku. Dia tampak lelah, tapi wajahnya menampakkan kebahagiaan yang mungkin telah lama dia rindukan.

Ya, perjalanan ini adalah tonggak sejarah dalam hubungan kita. Aku masih ingat, hubungan kita sudah hampir berakhir, 2 tahun setelah kita memulai kembali. Tampaknya, kita akan jatuh ke lubang yang sama. Kebosanan dan komunikasi yang buruk mendominasi hari-hari. Kita seperti orang linglung yang berjalan tanpa tentu arah. Gairah yang dulu meletup, mendadak sirna entah kemana. Tak ada lagi gelora yang mewarnai setiap pertemuan. Hanya gelap dan kosong yang terhampar di depan sana. Bahkan, kontemplasi tepi pantai yang biasanya berhasil, kali ini gagal total.

Kita sudah hampir saling menyakiti lagi, menunggu siapa yang akan menarik pelatuk. Tapi Tuhan punya rencana lain. Malam itu, kita melaju menuju peziarahan di selatan kota tercinta. Tempat kita biasa berkeluh kesah dan menumpahkan amarah, berharap ada jawab untuk semua masalah. Di tengah keheningan, kamu tiba-tiba mengajakku pergi ke Bandung. Sekedar menyegarkan otak dari pikiran-pikiran yang membunuh perlahan. Tanpa pikir panjang, aku mengangguk.

Aku tidak berpikir bahwa perjalanan ini akan membawa pada dirimu yang baru. Kesombongan yang selama ini menutupi kehadiranmu, berangsur-angsur hilang, berganti dengan rasa syukur karena memilikimu. Perjalanan ini mengajarku untuk mengubur ego sedalam mungkin. Berusaha untuk menghargai tiap cinta yang telah kau berikan padaku sejak dulu, meresapi tiap sakit hati yang muncul karena perkataanku serta memahami kesabaran yang terbalut dalam diammu.

Di kereta ini, bersama dengan mentari pagi yang menyinari wajah manismu, ijinkan aku berkata “Maafkan aku ya…”

Ilustrasi:Bonggal Hutagalung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s