“Rrrrrnnnggggg……” Bel tanda pulang sekolah berbunyi dengan nyaring. Serentak, semua perempuan di kelasku berteriak dan bergegas meninggalkan mejanya. Wajar saja, hari itu adalah hari Sabtu. Setelah berlelah-lelah mempersiapkan ujian semester bulan depan, akhir minggu adalah waktu paling tepat untuk bersantai. “Nes…ayo cepet..nanti tukang mie ayamnya keburu diserbu anak-anak..” Aku pun segera beranjak dan berlari menuju tukang mie ayam langganan di depan sekolah.
“Pak..mie ayam kaya biasanya ya..” ujarku. “Siap..tunggu 5 menit yaaa..maklum banyak antrian..” Sembari menunggu, aku pun duduk bersama teman-teman, obrolan khas perempuan, tidak jauh dari gosip dan lelaki.

Saat itulah kamu dengan vespa tuamu melintas di depan sekolah. Celingak-celinguk nggak jelas siapa yang dicari. “Tumben ada anak JB yang pake vespa..” gumamku. Tidak ada yang istimewa dari pertemuan pertama denganmu, hanya sekedar seperti itu.

Beberapa bulan berlalu dan aku sudah lupa dengan impresi itu.

Musim kompetisi basket antar sekolah baru saja dimulai. Sorak sorai di gelanggang olahraga masih terngiang-ngiang di kepalaku. Kemenangan perdana yang dinanti-nanti akhirnya bisa diraih. Tadi itu, berisik sekali di dalam sana, apalagi teriakan-teriakan dari lelaki-lelaki berambut gondrong yang mendukung sekolahnya. Mereka saut menyaut berirama mengisi tiap-tiap ruang kosong di gedung itu. Tidak berhenti menyoraki pemain kesayangan mereka tiap kali berhasil memasukkan bola atau malah mencemooh wasit bila keputusannya dirasa merugikan. Seru sekali melihat mereka.

Ah, puas sekali rasanya malam itu. Aku bersama sahabatku berjalan ke luar gedung untuk pulang dengan rasa bangga yang membuncah di dada. Tiba-tiba, kamu muncul dan menyapa sahabatku. Kamu berbincang dengan dia tanpa sekalipun memperhatikanku. Toh, memang saat itu, aku tidak ada urusan apapun denganmu. Aku hanya tersenyum melihatmu saling bertegur sapa. Pertemuan kedua, tetap tidak ada yang istimewa.

Siapa yang bisa menerka takdir? Kita bertemu lagi dalam acara sosial yang digagas oleh beberapa orang dari sekolah untuk membantu masyarakat di kaki Gunung Merapi. Semacam ajang cari jodoh yang terselubung oleh kegiatan kemanusiaan. Kita banyak bertemu di pertemuan-pertemuan membahas acara itu, sering sekali bertatap muka, tapi jarang sekali bercengkrama.

Hidup memang kadang berjalan dengan misteri dan kode-kode yang tidak pernah bisa dipecahkan dengan cara biasa. Juga soal rasa. Siapa yang menyangka, aku bisa terpagut dengan sosok sombong sepertimu. Bahkan, saat itu, melirikku pun kamu tak mau. Aku dengar beragam cerita tentangmu, bukan karena aku sengaja mencari tahu, tapi kamu mendekati salah satu sahabat dekatku dan dia bertanya padaku. Pantas saja, kamu terlihat begitu intens untuk mendekatinya.

Aku lupa bagaimana mulanya, tapi sejak saat itu, kamu mulai rajin meneleponku. Bisa satu jam bisa dua jam, berbicara tentang hal remeh temeh sehari-hari. Walapun aku tahu, kamu menelepon hanya untuk mengorek informasi, apa yang temanku suka, apa yang dia inginkan, atau berbagai macam hal lain yang mungkin bisa merebut hatinya. Tidak habis-habisnya aku mendengarkanmu bercerita, tertawa dan tersenyum simpul saat kamu mengeluarkan guyonanmu. Kamu memang tidak pernah sadar kalau hari demi hari aku mulai menaruh hati padamu. Perasaan aneh yang muncul tiba-tiba sejak kamu mengusap-usap rambutku sehabis acara di lereng gunung itu. Tapi apa dayaku, aku hanya bisa berdiam dan memupuk harapan untuk bisa terus bersamamu. Aku tidak berpikir untuk meminta apapun darimu, cukup bisa jadi sahabat yang setia mendengar keluh kesahmu pun aku sudah bahagia.

Sore beranjak menuju malam, dering telepon rumahku menyapa seperti biasa. Aku tahu itu kamu. Mungkin kamu sudah kecanduan berbicara denganku atau hanya sekedar melampiaskan rasa penasaranmu karena kembali gagal meraih hati sahabatku. Apapun alasanmu, tapi aku tetap disini, berakting sebagai wanita bodoh yang berusaha untuk bersembunyi dari rasa yang semakin menggelora.

Setengah jam berlalu tanpa pembicaraan yang bemakna, hanya gosip sana sini membahas kelakuan teman-teman yang semakin lama semakin tidak masuk akal. Lalu kamu mulai berbicara tentang mitos kuno tentang pria bersayap satu yang akan mencari pasangan wanita bersayapnya untuk bisa terbang berdua ke nirwana. Kamu bertanya apakah aku sudah menemukan pria yang akan membawa terbang. Aku ingin menjawab bahwa pria itu mungkin kamu. Tapi lagi-lagi lidahku kelu. Aku pun berkata bahwa priaku sudah memilih wanita lain sebagai pasangannya dan mungkin sudah terbang bebas di atas sana.

Beberapa detik kemudian kamu membalas dengan seuntai kalimat yang tidak pernah aku lupa sampai saat ini. “Aku juga merasa bahwa wanita impianku sudah pergi dengan pria bersayap idamannya. Padahal aku sudah bekerja keras sedemikian rupa supaya wanita itu tetap di bumi dan belajar terbang bersamaku. Tapi apa daya, impianku cuma tinggal sebatas angan. Kayanya kamu nggak akan pernah mau turun lagi ke bumi untuk menjemput dan mengajakku terbang bersamamu ya Nes?”

Aku hanya bisa tertegun mendengar apa yang kamu ucapkan. Berusaha untuk mencerna berulang kali apa yang baru saja meluncur deras melewati telingaku. Tampaknya otakku pun tidak sanggup untuk menerima kejutan yang baru saja terjadi. Hanya hening yang tersisa. Aku pun berkata lirih padamu untuk bertemu esok pagi di kawasan gereja tua tengah kota. Aku tutup teleponku dengan campuran rasa bingung, gundah, gelisah, bahagia, dan gumpalan rasa tidak percaya yang memenuhi tiap jengkal tubuhku. Aku masih tidak habis pikir dengan apa yang barusan kamu katakan. Ah, mungkin kamu hanya main-main, begitu pikirku malam itu.

Mentari membelai dengan lembut pagi itu, menemani perjalananku menuju gereja. Di sana sudah ada kamu sedang berdoa, entah mendaraskan apa. Aku pun masuk, membuat tanda salib dan duduk sambil membayangkan apa yang harus aku katakan sepulang misa. Aku masih tidak begitu yakin tentang apa yang kamu katakan malam kemarin. Aku ragu apakah kamu benar-benar serius atau hanya mempermainkan perasaanku. Aku takut kalau kamu hanya bermulut manis seperti lelaki kebanyakan. Membumbungkan harapan lalu seketika menghujam seluruh angan ke bumi.

“Pergilah, kamu diutus.” Pastor pun mengakhir misa pagi hari itu. Aku lihat kamu masih berdoa sejenak sebelum keluar dan menungguku di atas vespamu. Dalam doaku, aku hanya bisa berpasrah dan memohonkan yang terbaik atas apa yang akan terjadi pagi itu. Aku membuat tanda salib, lalu menghampirimu, tersenyum dan berkata “Mari belajar terbang bersama.”

Advertisements

One thought on “Awal Mula Romansa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s