pink_illustration“Pagiiii….” Kami berteriak kencang sambil mengetuk pintu begitu menginjakkan kaki di rumah bersejarah ini.

Tidak lama berselang, seorang wanita tua menyahut dari dalam

“Iya sebentar…”

“Wahhhh…Nesya sama Pink..masuk-masuk, kalian pasti nggak bisa tidur semalaman, sini tak buatin teh anget…”

Kami selalu terngiang dengan rumah ini, terutama dengan kehangatan yang selalu terulang. Simbah yang selalu menyambut dengan rentangan tangan. lengkap dengan keriput yang sudah terlalu kentara menghiasi wajahnya. Kami pun membalas dengan pelukan yang lebih erat, mungkin agak terlalu keras, tapi kami tidak bisa menahan rindu. Kami ingin segera duduk sambil bergelanyut manja sembari mencurahkan segala keluh kesah yang lalu berakhir mendengarkan wejangan penuh makna tentang bagaimana menjalani hubungan. Bagi kami, engkau berdua adalah pemberi petuah paling ampuh sepanjang masa. Walaupun kami jarang bertemu, tapi cerita turun temurun tentang teladan yang engkau ajarkan selalu menjadi warisan yang tidak pernah dilupakan.

Kami selalu senang menyaksikan engkau berdua duduk menikmati sore sambil berbincang ringan sembari berkomentar tentang tetangga yang lalu lalang di depan rumah. Hal sederhana yang sudah engkau lakukan sejak berpuluh tahun lalu. Di saat itulah, kalian membagi pikiran, rasa dan jiwa berusaha untuk membaurkan yang terpisah menjadi satu kata.

Mungkin karena kebiasaan itulah, kami tidak pernah sekalipun melihat engkau berdua berselisih paham. Geram yang terpendam tidak lantas terlontar dalam umpatan yang menyakitkan. Engkau berdua selalu tahu bahwa gusar tidak harus diakhiri dengan makian kasar yang akan berujung dengan rasa terhina. Kemarahan tidaklah pantas untuk disebarkan, hanya kasih dan kelembutan yang layak untuk ditularkan, begitu pesanmu pada kami.

Rumah ini adalah saksi bisu sebuah kesetiaan. Walaupun dulu harus sering terpisah karena berjuang dalam perang, tetapi komitmen untuk saling menghargai dan menjaga janji sehidup semati tetap dipegang erat.  Ibu pernah berkata bahwa simbah putri tidak pernah lupa untuk menyiapkan baju dinas dan memasangkan pangkat setiap pagi. Bahkan, anak-anaknya pun tidak pernah diminta untuk menggantikan tugas itu. Kata simbah putri, itulah tanda kasih, pengabdian dan kesetiaan seorang istri kepada suami yang tidak mungkin digantikan oleh siapapun.

Engkau juga mengajarkan pada kami bersyukur untuk setiap nikmat yang didapat.  Selalu menyadarkan bahwa ada banyak orang yang lebih tidak beruntung di luar sana. “Urip iku kudu sakmadya” itulah kalimat yang selalu engkau ingatkan pada kami, bahwa hidup harus juga dijalani dengan secukupnya, tidak perlu terlalu berlebihan.

Engkau pernah berkata bahwa cinta adalah bahasa paling sederhana. Tak perlu puja-puji elok ala pujangga karena cinta melebihi itu semua. Menemani sarapan, berjalan-jalan menikmati indahnya pagi, menyapa dengan senyum merekah, berdoa bersama menyambut senja yang menghilang perlahan ataupun pijatan-pijatan kecil untuk menghilangkan penat yang melanda. Sesederhana itu kalian berbahasa.

Terlalu banyak yang bisa kami pelajari dari engkau berdua. Bahkan hanya dengan mengamati, kami tahu bahwa cinta kalian tidak pernah padam sampai lanjut usia. Cinta yang tak sekedar kata-kata, tapi memberi rasa dengan sepenuh jiwa. Cinta yang tidak melulu tentang diri sendiri, tapi melayani dengan sepenuh hati. Cinta yang tidak pernah mengekang, tapi saling mengembangkan. Cinta yang walau dalam diam, tapi senantiasa menyala.

Kami beruntung bisa bersamaan dalam ruang dan waktu dengan engkau berdua, belajar tentang kesabaran, rendah hati, pengorbanan, saling memahami, dan serangkaian nilai-nilai kebaikan yang akan menjadi pengingat paling berharga untuk menjalani petualangan yang penuh rintangan ini.

Dan hari ini, ijinkanlah kami mereinkarnasi cinta kalian di hadapan Tuhan. Mengucap janji suci untuk tetap setia dalam suka dan duka sampai maut memisahkan kami berdua. Amin.

Ilustrasi: Rinaldo Hartanto

Advertisements

One thought on “Petuah dari Simbah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s