KARTUNMatahari baru saja padam tapi bulan telah datang dari celah-celah dedaunan. Kita baru saja beranjak dari gereja, biasanya aku mendadak tenang setelah bertemu Tuhan. Tidak seperti hari ini, ada yang berbeda, tidak ada lagi canda yang mengiringi langkah kita keluar. Hanya ditemani hawa khas taman kota, bau comberan sehabis hujan, bau busuk ikan-ikan yang tak terjual, anak-anak yang merengek minta permen atau suara sayup pedagang yang membujuk tanpa kenal lelah. Hening. Malam itu kamu yang biasanya bertanya, diam membisu. Aku tidak tahu ada apa. Aku mengikuti kamu saja.

Deru vespamu membelah jalanan kota yang belum terlalu jahanam kala itu. Belum ada motor-motor arogan yang seenaknya memotong jalur untuk menyingkat 1-2 detik perjalanan. Tega mencemplungkan orang lain pada bahaya. Aku memegang erat pinggangmu, seolah ini adalah pertemuan terakhir yang tidak bisa terelakkan. Aku hanya bisa bergumam. Mau kemana kita?

Kita berhenti di toko es krim paling tua di kota ini. Mungkin kamu ingin mengajak bernostalgia, merayakan hubungan yang sudah hampir 2 tahun lamanya. Tapi, ini bukan seperti biasanya. Aneh. Aku tidak mengenal suasana ini. Kamu tidak pernah mengajakku mengingat apa yang sudah kita lakukan. Kamu terlalu sibuk mengurusi dirimu, melingkari diri tiap detik dengan angkuh yang tak sudi diusik, sibuk berkata tentang banyak hal dengan logika-logika rumit yang tidak bisa kupahami. Apa ada aku disana? Entahlah. Mungkin tidak.

“Kamu mau pesan apa, Nes?” Kesunyian mendadak pecah dengan kata-kata paling dingin yang pernah meluncur dari mulutmu, seolah berbicara pada orang asing. Aku menjawab seadanya. Aku mulai tahu. Kalau kamu sudah sedingin ini. Sesuatu yang buruk hanya tinggal menunggu waktu. Aku mulai bisa merangkai tanda-tanda yang kamu perlihatkan sebulan ini. Tiba-tiba berdendang lagu “Dahulu” milik The Groove di beranda rumah, menghindar sebisa mungkin untuk berkunjung di malam minggu, atau kabar yang kamu kirimkan hanya beberapa hari sekali.

Tidak ada obrolan hangat malam itu. Kamu seperti sibuk menyiapkan ceramah untuk mengurangi luka hati. Membalut kata-kata menyakitkan yang seolah-olah indah. Aku tahu kamu pandai untuk berbahasa, tapi sama saja. Itu tidak akan mempan kepadaku.

                                           “Kita putus aja ya…”

Aku mendadak terbuyar dari lamunanku. Ketakutan yang akhirnya menjadi kenyataan. Kamu berbicara lancar sekali, seolah sudah sangat terencana sehingga hanya tinggal mengeksekusi. Tidak ada keraguan dalam nada bicaramu. Dingin dan kaku. Aku tercekat. Diam. Bahkan es krim yang selalu bisa menggugahku, kubiarkan mencair tanpa pernah kusentuh.

Pasrah. Hanya itu yang bisa aku lakukan malam itu. Aku masih bingung kenapa kamu ingin pergi dariku. Aku sudah sebisa mungkin menjadi pacar yang baik, mendengarkan setiap keluh kesahmu tentang hidup yang tak tentu arah atau sekedar sumpah serapah tentang semua hal yang tak mengenakkan. Tapi sepertinya itu tidak cukup bagimu. Tampaknya,  aku memang tidak akan pernah bisa menjadi seperti wanita yang kamu inginkan, tidak akan pernah.

Kamu mengantarku pulang seperti malam-malam biasanya. Tapi kali ini, semua mendadak senyap. Aku hanya bisa menatap kosong kerlip lampu sepanjang jalan. Pikiranku melayang entah kemana. Membayangkan hari-hariku yang akan berlalu tanpamu.

Di depan rumahku, kamu berpamitan tanpa menyiratkan pertanda akan kembali. Sayap-sayapku tega kamu patahkan, demi kamu bisa terbang seorang diri. Mencari wanita lain mungkin. Dan perlahan kamu berbalik, wajahmu pudar tersapu angin malam yang tidak kenal ampun. Cahaya kunang-kunang pun sirna tanpa sebab. Bebunyian seolah hilang tak berbekas. Menemani sepi yang semakin tak terperi.

Hatiku mendadak kesat, tercerabut asa dari akarnya, seperti para pelahap maut yang dengan rakus menyantap bahagia di cerita kesukaanku. Aku bahkan tidak sempat untuk mengusap air mata. Tersambar sosokmu yang sekelebat pergi, menafikan segalanya yang telah kita lalui. Kini seluruhnya hanya tinggal kenangan yang terselimuti kelamnya malam.

Kamu pun menghilang dari halaman rumahku, meninggalkan imaji tentang punggung yang selama ini sering kupakai untuk bersandar. Tidak ada lagi telinga yang setia mendengar, tidak ada lagi mulut yang senantiasa menimpali, dan tidak ada lagi wujudmu yang menunggu kedatanganku tiap akhir minggu. Tidak ada yang abadi di dunia ini, seperti itulah aku berusaha memaklumi.


Beberapa bulan berlalu, aku masih terkungkung dalam kenangan tentangmu.Aku tidak tahu apakah kamu masih peduli padaku. Ah, paling kamu sudah asik bersenang-senang mencari cinta yang baru. Tidak seperti aku disini. Banyak yang mencoba untuk merebut hatiku. Tapi bagaimana mungkin aku berpaling, bila di saat yang sama aku masih sering berziarah ke pusara kita, sekedar membersihkan debu dan lumpur, menaburkan bunga-bunga untuk membuatnya tetap wangi atau sekedar mencecap kenyataan pahit yang harus aku lewati.

Kala itu, aku memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu di pertemuan antar mahasiswa yang akan diadakan di Bali. Aku terlalu bersemangat, hanya bisa melihatmu saja aku sudah senang. Aku tidak butuh perbincangan tentang romantisme masa lalu bila kamu memang tidak mau mengungkitnya. Biarlah masa lalu menyimpan rahasianya, seperti air mata yang masih mengalir di sini.

Aku kira aku akan bahagia, tapi lagi-lagi aku harus kecewa. Entah apa yang ada di kepalamu. Mendadak aku mendengar kabar kalau kamu membatalkan kepergianmu. Sekedar melarikan diri atau acuh yang kunjung kembali? Aku tidak bisa berbuat apapun. Kamu yang keras kepala tidaklah mungkin tergoda oleh bujuk rayu. Lagipula siapa aku?

Di Bali, aku hanya bisa menikmati suasana sambil membayangkan ada kamu yang tergelak tak tahan melihat gurauan teman-teman. Kamu yang senantiasa sinis tetapi juga punya sisi manis pada saat tertentu. Kamu yang jarang sekali melemparkan senyum, tapi terkadang bisa jadi sangat romantis. Dan semua kenangan tentangmu mendadak terputar dengan kencang di kepalaku. Aku ingin kamu ada di sini. Tapi apa dayaku?

Mungkin aku memang ditakdirkan seperti ini, memendam cinta seorang diri. Seperti dulu, dimana aku hanya bisa berdiam diri melihatmu menaruh cinta dan perhatian pada sahabat baikku. Tidak ada yang bisa aku lakukan, kamu sudah tidak akan mungkin tergapai. Aku sudah merelakanmu pergi sekali lagi, membawa harapanku hilang meninggalkan jiwa yang tak lagi bertanya. Dalam damainya pulau Dewata, aku hanya mampu berdoa, menguatkan hati dan memohon pada Tuhan

                                       “Semoga ini hanya koma………..”

Ilustrasi: Yuliana Puji Setyowati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s