KARTUN 2“I have found out that there ain`t no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them.” (Mark Twain)

Bagi sebagian orang, perjalanan menjelajah tempat baru dengan tantangan yang tidak terduga mungkin terasa melelahkan. Terlalu enggan untuk beranjak dari singgasana sembari memencet remote tv dengan segenggam cemilan di tangan.   Tapi bagi kami, perjalanan adalah sebuah oase yang menyegarkan, reflektif, memberi pencerahan dan tidak jarang menyelamatkan kami yang sudah berada di tepi jurang perpisahan.  Perjalanan yang tidak selalu diiringi oleh keriangan, tetapi sering dihiasi oleh kemarahan, argumentasi tanpa henti atau kegusaran tanpa dasar. Tiap perjalanan mempunyai cerita yang tidak mungkin terlupakan, memberi pelajaran yang sangat berharga sekaligus menguak sisi lain kepribadian masing-masing dari kami.

Pendakian Rinjani adalah salah satu tonggak perjalanan yang sangat mengesankan. Bagi Nesya, gunung adalah taman bermain yang sangat menyenangkan. Aktivitas pendakian yang dilakukan dengan kelompok pencinta alam di kampusnya menuju gunung-gunung tertinggi pulau Jawa telah membuatnya menjadi pendaki yang tangguh. Saya masih ingat bagaimana mukanya yang menghitam, legam, berdebu sambil menenteng tas gunung ketika saya menjemputnya sepulang dari mendaki Gunung Semeru. Dia terlihat kepayahan, tapi raut mukanya menunjukkan kepuasan yang tidak bisa tergambarkan karena berhasil menaklukkan medan yang sangat sulit. Begitulah dia, wanita paling tegar yang membimbing saya menuju puncak gunung tertinggi ketiga di Indonesia.

Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan melakukan ini lagi. Setelah pengalaman buruk pada pendakian pertama di Gunung Lawu. Saya tidak yakin akan bisa menaklukkan gunung yang jauh lebih tinggi. Rasa ragu muncul apakah saya bisa melampaui tantangan ini. Tapi Nesya berkali-kali berkata bahwa gunung ini bisa ditaklukkan. Tidak mudah memang, tapi bukan suatu hal yang mustahil. Saat itu saya tidak bisa membayangkan medan yang sangat berat dan konsekuensi yang akan saya hadapi, sehingga saya mudah sekali teryakinkan oleh apa yang Nesya katakan. Ini mungkin keputusan terbodoh yang masih bisa saya syukuri pada saat ini.

Terjadilah apa yang sudah diputuskan. Saya berangkat berdua menggunakan bis malam ke Surabaya dilanjutkan dengan penerbangan ke Lombok. Persiapan terakhir pun dilakukan, kebetulan ada teman-teman yang sedang internship di RSUD Selong, wilayah paling dekat menuju kaki Rinjani, juga turut membantu kelengkapan logistik kami. Sampai sini pun saya belum bisa membayangkan betapa terjalnya medan yang harus dilalui menuju puncak.

Pendakian pun dimulai pukul 3 sore. Kami beruntung bisa menumpang mobil yang akan menjemput pendaki yang terkilir ketika turun gunung, cukup mempersingkat waktu. Sejauh mata memandang, terhampar sabana luas terbentang tersapu cahaya temaram menjelang senja. Perjalanan masih terasa menyenangkan, tidak terlalu menguras tenaga karena pikiran tersita oleh indahnya lukisan alam sang Pencipta. Menuju pos 1, saya sudah hampir menyerah karena jalanan mendaki yang tak kunjung henti, terbersit keinginan untuk mengakhiri, tapi Nesya menguatkan untuk terus berjalan walau perlahan. Akhirnya, menjelang malam, kami pun sampai di pos 2. Melepas lelah setelah seharian perjalanan. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda.

Siksaan yang sebenarnya dimulai keesokan harinya. Bukit Penyesalan sudah terhidang di depan mata, siap untuk disantap. Bukit ini terdiri dari 7 bukit yang teduh namun sangat melelahkan. Kita akan bergulat dengan rasa menyesal karena berani mencoba menaiki gunung ini. Berulang kali saya meminta Nesya untuk memperlambat langkah, demi menarik nafas dan sedikit mengisi tenaga. Saya yakin dia pasti jengkel karena pace dan stamina saya yang sangat buruk sehingga dia harus kehilangan banyak waktu untuk bisa segera sampai di pos terakhir sebelum puncak. Itulah hebatnya Nesya, mungkin dia sebal, tetapi dia tetap sabar untuk mendampingi saya yang berkali-kali kepayahan Dia tetap memberikan semangat dan dukungan untuk tidak menyerah. Saya mencoba sebisa mungkin untuk menghilangkan rasa lelah di pikiran dengan menikmati setiap langkah yang saya lakukan. Namun, tanjakan yang seolah tanpa ujung membuyarkan setiap fantasi yang tercipta.  Sia-sia.

6 jam penuh penderitaan berakhir di Plawangan Sembalun, pos terakhir sebelum menuju puncak. Kami akan mulai berjalan menuju puncak pada dini hari. Diiringi dengan dingin yang menusuk kulit dan berbalut jaket berlapis, kami berangkat demi mengejar momen istimewa matahari terbit. Perjalanan yang akan menghancurkan diri saya berkeping-keping akan segera dimulai.

Saya mengira bahwa Bukit Penyesalan adalah puncak siksaan, tetapi anggapan itu musnah dalam 20 menit perjalanan di punggung bukit. Saya berkata pada Nesya bahwa saya tidak mungkin berhasil melewati medan seberat ini, berpasir, untuk melangkah saja rasanya seperti harus mengangkat beban 10kg di pergelangan kaki. Saya mendadak tidak terlalu berselera dengan iming-iming keindahan puncak gunung. Sudah cukup, saya tidak mau meneruskan lagi.

Nesya tidak berkata apa-apa. Dia hanya menggenggam tangan saya, mengajak untuk menapak sedikit demi sedikit melewati jalanan pasir berbatu. Tiap kali tangan saya menarik, dia berhenti, membiarkan saya menghela nafas, lalu kembali menguatkan genggaman dan terus berjalan. Itulah dia, yang dalam diam berhasil menghasut saya untuk bangkit. Dia yang dalam lelah terus menjaga harapan akan kenangan indah yang akan terpatri selamanya di pikiran.

Jam demi jam terlalui, sudah hampir 5 jam saya berjalan menuju puncak. Saya sudah terpisah cukup jauh dengan Nesya. Setelah mencapai jalan yang tidak terlalu berpasir, dia mulai mempercepat langkah, mengatur ritme, dan meninggalkan saya yang masih berjalan dengan kecepatan setara siput. Kerikil-kerikil bercampur pasir dengan lebar hanya 4 orang dewasa berjejer bukanlah permadani indah untuk menyambut kemegahan mentari pagi. 200 meter menuju puncak adalah titik paling rendah yang pernah saya rasakan. Banyak pendaki yang memilih menyerah dan turun gunung karena beratnya medan yang harus dilalui. Setelah berjalan sekitar 10 langkah, saya memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Saya berkata “Ini puncak saya”. Saya pun bersandar di batu, berusaha melepas lelah dengan memotret.

Salah seorang pendaki yang berangkat bersama dengan kami tiba-tiba menyapa “Mas, udah ditunggu pacarnya di Puncak ya…” Saya membayangkan Nesya, yang duduk sendirian, menanti tanpa kepastian apakah saya akan mencapai puncak atau tidak. Saya memutuskan untuk mendaki kembali, tetapi tampaknya itu hanya dorongan sesaat. Saya kembali menyerah, terduduk, putus asa. Saya kembali berkata “Ini puncak saya”. Tetapi lagi-lagi, ingatan saya memutar kembali apa yang Nesya selalu katakan pada saya  sepanjang perjalanan “Nggak papa kamu jalan pelan-pelan yang penting kamu nggak berhenti sampai tujuan” Saya kembali melangkah setapak demi setapak. Pertarungan ini hanya tinggal diselesaikan dengan kekuatan mental dan pikiran. Hanya tinggal semangat dan keyakinan yang mampu membuat saya untuk bangkit setiap terduduk menyerah.

Akhirnya, setelah pertarungan menyerah-bangkit sebanyak delapan kali. Saya melihat Nesya sedang menyapu pandangan, terpesona magisnya Segara Anak dari Puncak Rinjani. Dia tertawa kecil melihat saya merangkak menuju tempatnya bercengkrama dengan alam. Rasa lega tergambar jelas di wajahnya. Penantiannya tidak sia-sia. Entah apa yang membuat dia tetap menunggu disana. Memelihara percaya dan tidak goyah diterjang angin kencang puncak gunung.

3726 mdpl. Di situlah saya memeluk erat wanita yang selama perjalanan membuat saya semakin kagum. Dia yang sebenarnya bisa mempecundangi saya dengan mudah dalam pendakian, memilih menyingkirkan egonya untuk tetap berjalan di sisi, merendahkan hati untuk mau menolong saya bangkit dari keterpurukan yang berulang kali menerpa. Dia yang terus meyakinkan untuk terus berjuang mencapai puncak. Dia yang mengajarkan untuk tidak pernah berhenti melangkah sebelum berhasil menggapai impian. Dia yang selalu percaya bahwa kegagalan akan menjadi ajang penempaan untuk menjadikan manusia yang lebih tangguh. Dia juga yang berulang kali menyalakan lentera harapan, ketika putus asa sudah terlampau pekat untuk dienyahkan.

Dan berkat dia pulalah, saya berani berkata “Mari menantang dan menaklukkan dunia bersama-sama!”

Ilustrasi: Yuliana Puji Setyowati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s