1449552390343

Gerimis baru saja membasahi kota kesayangan ini. Di depan kami, terhidang sepiring nasi goreng istimewa dan bakmi godhog yang terus menggoda untuk dilahap, ditambah dengan segelas es teh manis dan teh hangat tawar yang semakin meleburkan kesyahduan malam. Minggu itu adalah hari-hari terakhir saya berada di Jogja sebelum berangkat untuk menuntut ilmu ke negeri timur. Perpisahan untuk kesekian kalinya. Cinta jarak jauh yang terus berusaha dibina, dikembangkan dan dipelihara sampai tiba saatnya untuk berjumpa.

Malam itu kami berbincang tentang rumah impian di masa depan. Sebuah cita-cita yang entah kapan bisa diwujudkan. Tapi benih-benih mimpi haruslah disebarkan sedari dini, supaya segera bisa dipupuk dengan doa dan kerja keras sehingga buahnya bisa dituai di masa depan.

Kami merasa bahwa kami tidak terlalu suka dengan suasana perkotaan. Kota yang identik dengan keramaian, kegaduhan, ritme hidup yang terlalu cepat ataupun segala macam keribetan khas metropolitan. Apalagi Jogja, yang lambat laun berlari mengejar ketertinggalan demi sebuah modernitas yang hanya menguntungkan para konglomerat ulung. Kota yang tetap berusaha teguh mempertahankan identitas kebudayaannya di tengah gempuran gedung-gedung megah. Kami ingin hidup agak menyingkir dari hiruk pikuk itu. Berangan untuk membangun rumah sederhana di pedesaan, mungkin di kaki Gunung Merapi. Sebuah rumah yang masih dikelilingi oleh lingkungan yang masih alami, dimana kami bisa menghirup udara segar tanpa polusi setiap pagi, dimana gemericik air masih bisa terdengar jelas tanpa terhalang bisingnya kendaraan.

Kota juga seringkali menawarkan sebuah keterasingan yang permanen. Kita secara tidak sadar tercerabut secara emosional dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Kesibukan yang seolah tanpa henti membuat keakraban dan canda tawa menjadi tidak lagi berharga untuk diperjuangkan. Ambisi akan uang dan kekuasaan yang kelak akan berbuah penyesalan. Kami ingin melihat anak-anak bertumbuh dewasa, memahami watak dan buah pikirnya sebaik mungkin. Kami ingin terus belajar bersama dengan mereka, menjelajah tiap rasa penasaran dan ingin tahu, menemukan talenta yang mungkin terpendam, ataupun hanya sekedar mendengarkan celoteh imajinatif mereka sebelum tidur. Kami berharap bisa memberikan waktu sebanyak mungkin untuk mereka, memancarkan kehangatan yang membuat mereka tidak pernah lupa rasanya rindu rumah dan orang tua.

Kami selalu beranggapan bahwa tiap pribadi itu unik dan punya sisi otentik yang tidak bisa diperbandingkan. Sedangkan kota terlalu penuh dengan sesuatu yang artifisial. Semuanya dibentuk seindah mungkin supaya orang ternganga kagum, demi sebuah citra yang biasanya tanpa makna. Kami ingin anak-anak bisa menerima diri mereka sendiri, lengkap dengan kelebihan, kekurangan dan latar belakang yang melekat sehingga mereka juga bisa menghargai orang lain berdasarkan sifat kemanusiaannya. Bukan berdasarkan suku, agama, ras, ekonomi, jabatan atau seberapa banyak likes yang mereka dapatkan di sosial media. Kami ingin mereka belajar untuk memandang dan memperlakukan orang lain dengan adil, setara dan tanpa pandang bulu. Kami tidak ingin mereka menjadi orang-orang culas yang tega menjegal orang lain hanya karena ketidaksamaan agama, suku ataupun embel-embel lain yang tidak berguna.

Bagi kami, kota sangatlah lekat dengan kerakusan, keangkuhan ataupun tetek bengek lain yang mengaburkan nilai-nilai kehidupan. Tidak jarang orang tega mengorbankan orang lain demi kepentingannya, mengeruk dan menipu dari orang-orang yang tidak tahu demi keserakahan tidak pernah ada habisnya. Kami sadar bahwa kami pasti tidak bisa menjadi orang tua yang sempurna. Kami butuh orang-orang yang luar biasa yang mewarnai karakteristik anak-anak kami. Kami ingin mereka bisa belajar dari orang-orang hebat penuh kerendahan hati dan sederhana yang sering dicibir oleh orang-orang kota. Belajar tentang kejujuran, kesabaran, keikhlasan, dan ketulusan dalam menolong orang lain. Bahwa hidup bukan melulu tentang pamrih yang akan kita dapatkan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana mau berbagi kebaikan untuk sesama.

Rumah ini akan menjadi sumber kebaikan. Yang dibangun dengan fondasi kasih sayang, rasa terima kasih yang meluncur ringan ketika dibantu, jiwa tulus meminta maaf ketika berbuat salah, atau rasa rendah hati ketika meminta tolong. Kami ingin rumah ini menjadi candradimuka, yang menjadi permulaan setiap kebaikan yang memenuhi tiap-tiap sudut kota. Rumah dimana orang bisa mendapatkan pengalaman-pengalaman inspiratif yang tidak hentinya diceritakan.

Biarlah rumah ini merasakan hentakan kaki anak-anak yang belajar menari mengolah rasa, mendengarkan tetabuhan gamelan tiap sore menjelang, menyaksikan pertunjukan tradisional atau sekedar menguping orang-orang yang berdiskusi tentang bagaimana mengubah dunia menjadi lebih baik.

Rumah itulah impian kami, yang tidak perlu mewah, tapi lengkap dengan nilai esensi kemanusiaan yang tidak pernah bosan didengungkan oleh para sesepuh. Rumah sederhana yang membuat orang meyemai rasa bahagia dan kepenuhan jiwa ketika beringsut ke dalamnya. Tempat dimana orang berdamai dengan masa lalunya yang kelam dan lalu menemukan dirinya yang baru lewat pertemuan-pertemuan yang tidak terduga. Inilah rumah kami, candu yang selalu menggoda para perantau untuk selalu pulang.

Mungkin, cita-cita ini masih sangat jauh untuk bisa diwujudkan, tapi kami selalu beranggapan bahwa mimpi itu harus selalu diceritakan, supaya orang lain bisa ikut membantu untuk menjaga nyalanya ataupun mengingatkan bila kami terlupa. Seperti kami selalu percaya sebuah kalimat yang pernah dikatakan oleh Paulo Coelho dalam The Alchemist

“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”

Ilustrasi: Adriani Netiasa

Advertisements

One thought on “Rumah Impian Masa Depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s