Kemarin ibu baru saja datang ke Osaka selama seminggu untuk keperluan meeting dan seminar. Di tengah hawa winter yang menusuk karena sempat mencapai minus, beliau masih semangat untuk mengikuti semua acara yang sudah dijadwalkan. Daebak bgt.

Kedatangan ibu kali ini bagi saya cukup menarik karena ada satu hal besar yang saya pelajari. Kunjungan ibu tahun lalu, berakhir dengan sebuah cerita sedih yang diceritakan oleh bapak. Jadi, selama ibu datang ke Osaka, sepanjang minggu ibu selalu menawari saya untuk membelikan sesuatu. Entah baju, sepatu, atau apapun yang saya butuhkan. Tapi, saya selalu menolak untuk dibelikan sesuatu. Alasannya sederhana. Soalnya saya memang tidak membutuhkan barang-barang tersebut waktu itu. Sesimple itu. Nah, mungkin (hanya mungkin, bisa saja salah sih), ibu terus merasa kalau anaknya kok nggak mau diperhatikan atau takut saya menderita atau kekurangan apapun. Perasaan wajar yang mungkin dialami setiap ibu yang ditinggal anaknya merantau.

Saya dari dulu selalu berusaha untuk bisa memisahkan dengan jelas mana keinginan dan kebutuhan. Saya tidak ingin hidup saya dipenuhi dengan ambisi untuk memenuhi keinginan ini itu yang mungkin tidak ada habisnya. Kadang-kadang saya mikir sampai cukup lama, mempertimbangkan ini itu, terus berakhir dengan tidak membeli. Haha. Ya, lagi-lagi karena harganya mahal dan kok kayanya saya nggak butuh-butuh banget utk membeli sesuatu sampai semahal itu (sepatu contohnya).

Saya selalu belajar untuk menempatkan sesuatu dengan norma fungsi dan kepantasan. Bukan dari sudut pandang berapa mahal, seberapa good looking, dll. Kalau barang itu menurut saya sudah bisa memenuhi fungsi dasarnya dan cukup pantas sesuai norma saya. Ya, saya akan pakai barang itu. Nggak peduli apa kata orang juga.

Namun, kadang saya ya merasa pingin beli barang-barang bagus dengan harga yang mahal supaya bisa dibilang keren oleh orang-orang. Namanya juga manusia, kadang haus pujian juga to? Tapi lama-kelamaan saya berpikir, apa pujian-pujian itu njuk jadi sebegitu pentingnya po? Kalau nggak dipuji kan ya masih tetap hidup to? Toh, apa yang saya lakukan nggak merugikan orang lain juga.

Tapi, bagi sebagian orang, mungkin puja-puji itu jadi hal yang utama. Berjuang mati-matian untuk diterima di kelas sosial tertentu padahal secara sumber daya tidak memadai atau mempertahankan gengsi yang sudah terbangun sejak lama sehingga tega mengambil uang yang bukan miliknya. Mereka bahkan rela berhutang demi membeli barang-barang bermerk yang sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan. Saya sering merasa kasian dengan orang-orang dengan pemikiran seperti itu. Bukan apa-apa. Bakal ada banyak hal yang kita korbankan, terutama waktu untuk keluarga, kebersamaan dengan anak-anak atau orang tua, serta kehabisan energi untuk melakukan hal-hal positif yang bisa lebih berguna bagi banyak orang.

Mantan presiden Uruguay yang didaulat sebagai presiden termiskin di dunia, Jose Mujica, pernah berkata dalam satu wawancaranya.

“I’m called ‘the poorest president’, but I don’t feel poor. Poor people are those who only work to try to keep an expensive lifestyle, and always want more and more,” he says.

“This is a matter of freedom. If you don’t have many possessions then you don’t need to work all your life like a slave to sustain them, and therefore you have more time for yourself,”

image

Simbah juga pernah berkata satu wejangan yang selalu dipegang turun menurun di keluarga kami. “Urip iku kudu sak madya” — hidup itu harus secukupnya. Bagi simbah, hidup cukup adalah kunci. Cukup makan, cukup tidur, dan kecukupan yang lain. Tidak usah terlalu memfokuskan diri untuk menggapai segala sesuatu secara berlebihan karena bagi simbah, segala sesuatu yang berlebihan itu pasti tidak baik. Makan yang berlebihan nanti jadi penyakitan, malas yang berlebihan nanti jadi bodo, dan berlebihan-berlebihan yang lain.

Ya, memang nggak mudah mengendalikan hawa nafsu untuk membeli barang-barang yang nggak perlu. Saya juga kadang gagal. Tapi, apa mau terus-terusan jadi budak konsumerisme? Ih, kalau saya sih ogah 🙂

Link berita tentang Jose Mujica: http://www.bbc.com/news/magazine-20243493

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s