Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang apa yang terjadi selama saya 10 tahun pacaran. Untuk hal-hal puitis yang pernah terjadi, bisa dibaca di Memoar Sedasawarsa. Nah, selain hal-hal itu, sebenarnya banyak konflik, pertentangan, ataupun kesadaran yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Kok agak sayang rasanya kalau proses itu tidak saya dokumentasikan.

Waktu awal-awal pacaran, kami sama-sama masih SMA. Layaknya anak muda, kami menjalani pacaran dengan biasa saja. Tidak ada pemikiran yang istimewa saat itu. Tapi, masa sekolah di De Britto adalah masa pencarian paling amburadul yang pernah saya alami. Saya merasa sangat idealis, sombong, egois dan tidak mau mengalah. Kondisi ini jelas mempengaruhi cara saya melihat Nesya. Nesya saat itu adalah wanita yang (menurut saya) manutan. Apa-apa manut dan seperti tidak punya keinginan akan sesuatu. Ditanyain ini, nggak jelas maunya, ditanyain itu, nggak jelas juga. Pokoknya waktu itu saya merasa kalau saya sangat superior dibandingkan dia.

Tidak jarang, karena sikap saya yang sombong, saya jadi meremehkan Nesya. Saya jadi tidak bisa mengenal dia lebih dalam lagi. Lah wong saya terlalu fokus pada diri sendiri. Bagaimana bisa ada ruang kosong untuk berusaha memahami orang lain, nggak bakal mungkin terjadi. Waktu itu saya cenderung untuk membanding-bandingkan dia dengan wanita lain. Para wanita yang memang pada saat itu saya anggap mempunyai pandangan setara dan lebih bisa diajak bicara untuk topik-topik yang berat, nggaya banget ya. Edan.

Saya waktu itu dengan sombongnya ingin menggabungkan beberapa macam karakteristik wanita yang saya suka terus dijadikan jadi satu wanita. Saya pingin pacaran dengan sosok yang sempurna. Yang bisa penyayang tapi sekaligus punya pemikiran yang bisa mengimbangi. Saya berulang kali mengeluh pada Nesya, kenapa sih dia tidak bisa seperti wanita-wanita. Dia hanya diam. Kadang-kadang malah sampai menangis. Kurang ajar banget ya. Kok bisa ya saya kaya gitu. Saya tidak bisa membayangkan kalau berada di posisinya. Sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk pasangannya tapi malah disia-siakan.

Titik balik penilaian saya terjadi pada saat kita berdua pergi ke Bandung. Waktu itu situasinya sudah sangat genting, hampir putus. Saya pun sudah menyiapkan rencana cadangan bersama dengan adik kelas yang sudah rutin dibribik. Kejadiannya sangat sederhana, waktu itu kami naik mobil ke Kawah Putih. Setiba di gate, kami diminta membayar sekitar 150 ribu. Cukup mahal bagi kami saat itu. Saya agak bingung mengambil keputusan. Lalu dengan entengnya dia bilang. “Yowis Pink, mobilnya diparkir aja terus kita sewa motor. Paling cuma 20 ribu.” Kami pun akhirnya menyewa motor dan dengan tenang pergi ke Kawah Putih.

Kejadian itu meruntuhkan seluruh ego saya dalam sekejap. Saya lalu menjadi sangat malu atas semua yang pernah saya lakukan ke Nesya. Saya ditampar dengan sangat keras di wajah gara-gara kejadian ini. Kesombongan yang saya agung-agungkan selama ini, ternyata malah menjauhkan saya dari penjelajahan untuk memahami Nesya. Kelemahan saya yang selama ini tersembunyi pun terkuak dan terpampang dengan jelas. Saya punya kekurangan yang cukup besar untuk memutuskan sesuatu secara taktis. Keputusan yang seringkali harus diambil dengan cepat dan tepat. Ada lubang besar dalam diri saya yang berhasil diisi oleh Nesya. Pengalaman bertahun-tahun sebagai pendaki gunung mengajarkannya banyak taktik survival yang tidak saya ketahui sebelumnya.  Saya rasa, pada akhirnya kami merasa cukup saling melengkapi. Saya lebih filosofis tetapi tidak taktis, sedangkan Nesya lebih taktis tapi tidak filosofis. Ya begitulah.

Mungkin banyak dari kita yang mendambakan sosok pasangan yang sempurna. Yang sesuai dengan figur-figur di drama-drama korea atau sinetron tidak bermutu. Sosok sempurna yang selalu jadi standard dalam menilai pasangan kita. Kita kadang lupa bahwa kita juga manusia yang tidak sempurna, banyak kekurangan di sana-sini. Bahkan mungkin kita tidak menyadari kalau kita punya lebih banyak kelemahan dibandingkan pasangan kita. Hanya saja, mungkin pasangan kita tidak bicara secara terus terang. Entah karena terlalu mencintai atau ada alasan yang lain. Kok kita berani-beraninya masih menuntut atau meminta pasangan kita menjadi manusia yang tanpa cela.

Kesombongan akan menutupi potensi dan kejutan yang mungkin bisa kita temui tentang pasangan. Sejak saya menurunkan kadar ego, banyak sekali yang ternyata saya tidak tahu dari Nesya. Padahal waktu itu kami sudah memasuki tahun ke 5. Situasinya berubah 180 derajat. Komunikasi berjalan dengan baik sampai saat ini. Walaupun ada beberapa riak, tapi nggak cukup besar.

Sejak saat itu, saya selalu memandang Nesya sebagai teman tek-tok berbincang yang paling saya suka. Banyak responnya yang tidak saya duga. Saya memandang dia sebagai partner yang sejajar, yang juga punya kelebihan dan kekurangan. Saya tidak lagi menganggap dia lebih inferior. Saya menyadari dengan sepenuhnya bahwa saya tidak sempurna. Banyak kekurangan yang berhasil dilengkapi dengan baik oleh Nesya. Dan saya sangat bersyukur bisa menemukan pasangan seperti dia.

Pada hakekatnya, sombong akan menjauhkan kita dari apapun. Jauh dari teman, jauh dari ilmu, jauh dari hal-hal yang baru, jauh dari orang tua, atau jauh dari pasangan. Kita jadi terlalu mudah puas dengan apa yang kita punya sekarang. Ingatlah bahwa karma selalu mengintai. Bila kita suka meremehkan orang lain, menganggap diri kita sebagai yang paling baik. Maka akan ada saatnya kita mendapatkan perlakuan yang sama.

Hamka pernah berkata, “Manusia itu asalnya dari tanah. Makan hasil tanah. Berdiri di atas tanah. Akan kembali ke tanah. Kenapa masih bersifat langit?

Advertisements

One thought on “Karena Sombong itu Racun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s