Lagi-lagi saya mengalami hal yang merepotkan gara-gara kecerobohan yang tidak penting. Kemarin Minggu, saya baru mendarat di bandara Kansai International Airport (KIX) Osaka setelah pulang kampuang selama 2 minggu. Pesawat sampai di KIX pukul 8.15 JST. Nah layaknya kebiasaan selama bertahun-tahun, perut pasti bergejolak kalau jam-jam itu. Alhasil, saya dan Sumanto bergegas mencari kamar mandi untuk nyetor. Sebenarnya kita mau masuk ke toilet sebelum gate karantina, tapi ternyata kamar mandinya cuma sedikit dan jongkok pula. Agak males gara-gara pakaian agak ribet dan bawaan juga lumayan banyak. Alhasil, kita membatalkan untuk buang air di situ. Akhirnya, kita pun nyetor di toilet yang ada di bagian imigrasi. Toiletnya enak dan yang paling mantap adalah sepi. Jadi, kita bisa saling mendengarkan orkes keluarnya eok secara jelas dan jernih. Bahaha. Karena saya orang kekinian, ya jelas saya selama boker megang hape, browsang browsing nggak jelas. Sampai akhirnya, pas mau cebok, saya taruh handphone di atas tempat tissue. Selesai, lap lap sana sini, saya pun langsung menuju bagian imigrasi. Untunglah semua lancar, nggak ada masalah kali ini (nanti bakal ada cerita ttg brewok dan imigrasi).

Saya pun lalu menuju lantai 1 untuk menunggu bagasi. Saat mengambil koper, saya berusaha mengambil handphone. Lah, tapi tak cari-cari kok nggak ada. Di saku celana nggak ada, di dalam tas juga nggak ada. Wah, mati. Handphonenya hilang. Terus saya mikir, jangan-jangan handphonenya ketinggalan di toilet? Kontan saja, saya langsung lari ke lantai 2 di bagian imigrasi. Saya pun bertanya kepada staf yang ada di situ, menjelaskan situasinya. Dia pun dengan sigap berlari ke toilet, tapi sayangnya dia kembali tanpa berita gembira. Dia pun menyarankan saya untuk bertanya di bagian informasi untuk memproses kehilangan. Di bagian informasi, saya diarahkan ke custom office. Di custom office, mereka menghubungi staf wanita (cantik lho) di bagian dalam untuk mencari lagi handphone saya yang hilang. Setelah menunggu beberapa saat, staf tersebut mengatakan kalau dia tidak bisa menemukan handphone tersebut. Duh, saya sudah pasrah kehilangan handphone itu. Akhirnya, saya pun diberi nomer telepon custom office dan diminta menghubungi keesokan hari untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Besoknya, saya pun minta tolong Echa untuk menelepon ke bandara. Dan, untungnya! Handphone saya ketemu! Bahahaha. Rejeki anak sholeh. Sebagai pembuktian, Echa diminta untuk telepon ke nomer handphone itu, kebetulan nomernya masih pake nomer Indonesia. Ternyata masih bisa tersambung. Wuahh..bersyukur banget. Pihak bandara pun akan mengirimkan handphone tersebut ke rumah dan saya tinggal bayar biaya pengiriman via COD.

Sebenarnya ini adalah kejadian ketiga saya kehilangan/tidak sengaja menjatuhkan sesuatu di Jepang. Kejadian pertama adalah saya lupa mengambil tiket langganan kereta 6 bulan seharga 10.000 yen setelah memasukkan tiket tersebut ke exit gate. Padahal masih sisa 2 bulan, lumayan juga kan kalau hilang. Ternyata, ada orang yang menyerahkan tiket itu ke petugas di stasiun dan saya pun bisa mendapatkannya lagi. Kejadian kedua adalah saya tidak sengaja menjatuhkan segepok kartu-kartu (atm, tiket, student card, dll) di pintu masuk stasiun. Udah panik rasanya, tapi setelah ditanyakan ke petugas stasiun yang bersangkutan, ternyata ada orang yang mengembalikan kartu-kartu tersebut. Fiuh.

Lalu, saya pun bercerita pada ibu tentang kejadian ini, beliau hanya berkata “Kok bisa ya orang Jepang jujur-jujur? Kapan Indonesia bisa kaya gitu ya?” Saya menangkap getir pesimisme yang kental dalam pertanyaan itu. Sebagai seseorang yang berpengalaman bertemu dengan banyak tipe manusia, tentu ucapan itu bukanlah sekedar isapan jempol belaka. Tapi, sebegitu nggak jujurkah orang Indonesia? Sampai-sampai tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan barang yang tertinggal atau terjatuh dan lalu dipaksa untuk berpasrah kehilangan?

Saya sendiri belum pernah kehilangan barang berharga di Indonesia. Paling sering kehilangan kacamata karena tertinggal di suatu tempat. Itupun saya tidak berusaha untuk mencari karena berpikiran, ah paling juga sudah diambil orang. Wah, ternyata optimisme saya juga sudah mulai padam.

Pemikiran tersebut menjadi hal yang sangat wajar karena orang Indonesia sendiri sudah sampai pada tahap tidak pernah bisa percaya dengan para pelaku sistem kebijakan publik. Ada banyak contoh ketidakjujuran yang dipertontonkan secara gamblang baik dari televisi ataupun pengalaman keseharian. Bisa dibayangkan kalau ada “lost and found center” di setiap pusat keramaian. Wah, bisa kaya tuh orang-orang yang jaga kantor di situ. Kalau ditanyain apakah menemukan sesuatu, tinggal dijawab “Tidak”. Resmi deh barang tersebut jadi milik si petugas.

Di Jepang, lost-and-found center pertama kali dibangun pada tahun 718, hampir 1300 tahun yang lalu, dan masih tetap bertahan sampai sekarang meskipun situasi ekonomi yang menyebabkan kriminalitas meningkat terus melanda. Di Tokyo, setiap hari ada 200-300 orang yang memanfaatkan pelayanan ini. Mulai dari dompet, kunci, handphone, kartu-kartu, bahkan barang remeh temeh seperti payung. Semua bakal diinventaris sesuai dengan waktu penemuan.

Jaman dulu, barang-barang yang hilang harus dikembalikan pada petugas resmi dalam waktu 5 hari sejak ditemukan. Setelah satu tahun, pemerintah bila mengambil alih barang tersebut walaupun pemiliknya masih tetap bisa mengklaim. Bahkan, ada peraturan yang menyebutkan kalau mereka tidak boleh mengambil batang kayu yang hanyut pas banjir. Bayangkan! Edan.

Peraturan tentang barang hilang diubah terakhir kali pada tahun 1958. Saat ini, ada klausul yang menyatakan bahwa bila menemukan uang, maka si penemu berhak mengklaim 5-20% dari jumlah uang, walaupun biasanya mereka hanya meminta 10%. Padahal, kalau nggak dibalikin kan mereka bisa dapat uang lebih banyak ya? Aneh. Hahaha.

Saya pikir-pikir lebih lanjut, kok ya kita nggak malu ya masih aja berbuat yang tidak jujur. Bahkan rasanya ketidakjujuran sudah jadi hal yang membudaya dan berakar kuat akhir-akhir ini. Saya kok jadi nggak habis pikir.

Katanya ngaku negara dengan kehidupan beragama yang dominan, tapi kok nggak malu kalau maling?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s