Beberapa hari ini saya membaca polemik opini Romo Frans-Magniz Suseno tentang patung Bunda Maria tertinggi di dunia yang ada di Gua Kerep Ambarawa, Jawa Tengah.

Beliau mengatakan bahwa patung tersebut adalah hasil perbuatan agamis paling konyol dan pantas masuk di book of record. Apakah memang benar seperti itu? Saya coba mikir-mikir dari berbagai sudut pandang dan juga merasakan.

Saya pribadi tidak tahu motif dibalik pembangunan patung tersebut karena saya cari informasinya kok tidak ada yang menjelaskan alasannya. Kalau motifnya adalah untuk memberdayakan warga sekitar gua melalui kunjungan pariwisata, mungkin alasan itu masih bisa diterima. Walaupun pada akhirnya, biasanya tempat-tempat wisata yang menjadi terkenal, akan dikuasai oleh beberapa orang yang mempunyai kekuatan modal cukup besar.

Saya sedikit banyak setuju dengan pandangan romo Magnis. Kalau mereka ingin menggambarkan kebesaran Bunda Maria atau Yesus melalui patung, saya rasa kok malah melecehkan keagungan mereka berdua. Apa ada hasil buatan manusia yang sanggup merepresentasi kebesaran mereka? Saya rasa kok nggak ada. Sebagai umat katholik yang percaya bahwa Yesus adalah penguasa alam semesta, saya bahkan nggak bisa membayangkan seberapa besar patung harus dibuat untuk bisa mencapai simbolisasi secara tepat.

Saya rasa kok berlomba untuk membuat patung atau representasi apapun dalam bentuk yang gigantis malah membuat kita merasa jauh dari Yesus atau Bunda Maria itu sendiri. Bukankah mereka mengajarkan untuk hidup secara sederhana? Lahirnya aja cuma di kandang domba. Bapaknya aja cuma tukang kayu. Bahkan Yesus aja nyuruh orang kaya untuk menjual seluruh harta miliknya untuk mengikuti dia.

Saya kok mikir, apa ya suka ya Dia diperlakuan seperti ini. Kok rasanya Beliau bakal nggak suka dipuja-puji dengan seruan yang sebenarnya semu. Sebagai manusia yang penuh kelemahan, semakin besar figur tentu semakin sulit untuk dijangkau. Seperti orang-orang miskin pinggiran yang berharap untuk bisa naik mobil mewah tempat orang-orang kaya.

Saya kok dari dulu memaknai keagungan dan keberadaan Yesus sebagai sesuatu yang tidak terbatas. Yang bisa hadir dalam bentuk dan rupa apapun. Yang dengan santainya bisa datang kalau kita sedang sedih dan berduka atau malah ikut bersorak bila kita sedang bersuka. Saya tidak pernah menganggap Yesus sebagai satu sosok yang harus ditakuti dengan segala anugerah yang Beliau punya. Buat apa takut, Dia kan juga bukan sosok yang bisa membuat kita bergidik atau meringsut ngeri karena kemarahannya. Bukannya Dia kita percayai sebagai sahabat dan orang paling baik yang pernah kita kenal?

Saya pikir, pembuatan patung-patung seperti ini malah memberikan tekanan tersendiri bagi semua orang katholik. Bagaimana tidak. Kita diharuskan untuk bisa menunjukkan diri sebagai umat yang SELALU memberikan kontribusi positif untuk lingkungan sekitar. Apa nggak malu, udah punya patung segedhe itu, tapi masih aja korupsi, masih aja menjatuhkan orang lain, masih aja culas dan berbagai macam keburukan lainnya. Sesuatu yang sangat tidak gampang untuk diterapkan.

Bagi saya, pembuatan patung-patung seperti itu malah sebagai ajang unjuk diri yang penuh arogansi dan kesombongan. Semacam kelakuan orang-orang megalomani yang hanya memikirkan sanjungan untuk memuaskan waham yang sudah sulit dihapuskan.

Lagipula, menurut saya, kayanya Yesus atau Bunda Maria juga nggak segila hormat itu kok 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s