Suara penjaga stasiun mendadak bergaung di ruang gereja siang itu. Lantang sekali. Tak berapa lama, iringan musik gesek memecah kebingungan yang mungkin menghampiri kepala-kepala penuh rasa penasaran. Saya berjalan dengan mantap menggandeng Nesya yang tampak cantik dengan gaun putihnya. Itulah musik pengiring impian saya. Yang sudah terbayangkan di benak sejak beberapa bulan lamanya. Sebuah keinginan yang diwujudkan karena kebaikan seorang komponis muda bernama, Gardika Gigih Pradipta.

Saya pertama kali bertemu dengan Gigih secara tidak sengaja di warung lotek Colombo sekitar 4 tahun lalu. Dia datang bersama dengan Dalijo. Kami bersantap siang sambil ngobrol-ngobrol tentang kegiatan bermusiknya. Waktu itu dia masih berkeinginan untuk keliling Indonesia dan mengumpulkan alat-alat musik tradisional untuk diinvetarisasi. Semacam ingin membuat museum musik tradisional. Sampai pada akhirnya, saya berkesempatan untuk menikmati karyanya langsung di konser “Train Music, The Journey of Indonesia Railways” tahun 2013 di Taman Budaya Yogyakarta. Saya nonton bersama dengan Nesya waktu itu. Lagu terakhir yang dimainkan bersama dengan Eya Grimonia (violist) dan Bagaskoro (oboist) berhasil menghanyutkan dan seketika membuat saya jatuh cinta untuk terus menikmati musik-musiknya.

Musiknya yang cenderung bertempo lambat sangat cocok sebagai teman menikmati penghujung hari. Beberapa karyanya seperti “Pada Tiap Senja”, “Lamunan Senja”, “Sky Sailor”, “Sudah Dua Hari Ini Mendung” dan beberapa lagu lainnya adalah katalis yang cukup ampuh untuk membangun suasana. Tiba-tiba saja semua mendadak menjadi sendu dan melenakan jiwa-jiwa yang mungkin kelelahan karena kesibukan seharian. Lagu-lagunya berhasil membawa saya pada level romantisme yang berbeda. Yang tidak butuh balutan kata-kata cinta, tapi saya berhasil merasakan RASA yang coba untuk diungkapkan melalui denting-denting pianonya.

Saya pernah membaca (tapi lupa dimana), kalau Gigih suka sekali melamun. Dari lamunannya itu, bisa pada saat menikmati perjalanan kereta api, hujan, ataupun saat senja, dia memintal nada-nada yang memikat telinga untuk tetap terikat dan terjauh pada nostalgia yang ditawarkan olehnya. Bahkan, Dalijo (yang satu kontrakan dengan dia), pernah berkelakar pada saya “Gigih itu, dedaunan yang jatuh aja bisa dilihat sebagai hal yang sangat romantis og…” Mungkin terkesan agak berlebihan. Tapi, itulah cara dia untuk bisa terus menerus mengolah rasa supaya tetap padu dengan notasi-notasi yang berjibun di dalam kotak musiknya.

Saya sampai detik ini, tak pernah merasa bosan mendengar karya-karyanya. Yang meski sudah saya putar berulang-ulang kali, tapi tetap saja selalu berhasil membawa saya ke dimensi yang berbeda. Musik sederhana yang selalu berhasil membawa saya menyelami kembali pengalaman-pengalaman personal yang terkadang sudah terbalut sarang laba-laba dan teronggok entah dimana. Cobalah untuk mendengarkan musiknya dan rasakan tiap baluran nada yang terserap ke pori-pori tubuh anda.

Silakan mengunjungi https://soundcloud.com/gardika-gigih-pradipta untuk terpesona pada lagu-lagunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s