Minggu lalu, dalam rangkaian acara conference yang diadakan di Senri-chuo, saya disuruh oleh lab untuk ikut jamuan makan malam di sebuah hotel. Kebetulan, hari itu adalah hari Rabu dimana di masa prapaskah cuma boleh makan kenyang satu kali. Saya mikir “Wah, kebetulan banget nih, mumpung cuma boleh makan satu kali, bisa makan banyak pas dinner”.

Berangkatlah saya dengan ekspektasi setinggi langit untuk mencicipi makanan-makanan enak di hotel tersebut. Acara pun dimulai, di depan saya sudah ada kertas berisikan menu yang akan disajikan. Ada 6 menu dengan nama-nama berbau bahasa Prancis akan dihidangkan malam itu. Di kepala sudah terlintas betapa enaknya makanan ini, apalagi dengan perut yang sangat keroncongan.

Hidangan pertama pun keluar, cuma potongan ikan tuna kecil. “Lumayanlah buat pengganjal perut”, batinku. Hidangan kedua ada sup hangat yang siap disantap. “Wah, habis ini pasti hidangan utama nih”, begitu harapku. Benar saja, hidangan utama pun dikeluarkan, tapi begitu disajikan di depan saya. “Cuma” olahan ikan yang bahkan sensei aja nggak tahu namanya di bahasa Inggris, kaya apa ya, ya gitu deh. Makanan yang cuma 3-4 suap juga udah selesai. Ah, kecewa banget rasanya. Tapi, saya masih berharap untuk hidangan utama selanjutnya. Begitu keluar. Super kecewa. “Cuma” medium-rare beef steak yang kayanya dipotong 4 kali juga udah habis. Tapi, karena rasa lapar yang terus menerjang, mau nggak mau, makanan itu habis dalam sekejap. Ah, ilang sudah harapanku untuk bisa mengenyangkan perut dengan makanan-makanan enak. Rusuh banget.

Sesampainya di rumah, saya pun telpon Ibu Adriani, lalu seperti biasa, marah-marah gara-gara apa yang baru saja saya alami. Saya nggak habis pikir, kok bisa-bisanya cuman dikasih hidangan-hidangan nggak jelas macam kaya gitu. Sama sekali nggak ada rasanya, porsinya juga cuma secuplik, penyajiannya juga biasa-biasa aja. Wah, ra mutu banget pokoknya. Selama beberapa menit, saya menumpahkan kekesalan pada Nesya.

Pagi-pagi, dalam perjalanan menuju lab, saya pun mikir. “Kenapa ya kok tadi malem saya marah-marah kaya gitu? Padahal ya, harusnya kamu bersyukur to masih bisa makan enak di hotel. Berapa banyak orang yang berharap bisa bertukar posisi dengan saya dan menikmati hidangan-hidangan itu? Berapa banyak orang yang tiap harinya cuma bisa makan satu kali atau malah tidak bisa makan sama sekali karena nggak bisa membeli beras dan akhirnya cuma bisa makan nasi basi? Berapa banyak anak-anak yang kekurangan gizi karena daerahnya dilanda kekeringan sementara orangtuanya nggak bisa membelikan makanan? ” Aih, rasanya kok langsung menyesal gara-gara semua yang saya utarakan semalam.

Iseng-iseng, saya pun mencari data tentang kondisi kelaparan di seluruh dunia. Saya menemukan fakta-fakta yang cukup mencengangkan dan membuat saya lebih merasa bersalah lagi.

  1. Some 795 million people in the world do not have enough food to lead a healthy active life. That’s about one in nine people on earth. (ini hampir 3x jumlah penduduk Indonesia lho…banyak banget)
  2. The vast majority of the world’s hungry people live in developing countries, where 12.9 percent of the population is undernourished.
  3. Asia is the continent with the most hungry people – two thirds of the total. The percentage in southern Asia has fallen in recent years but in western Asia it has increased slightly.
  4. Poor nutrition causes nearly half (45%) of deaths in children under five – 3.1 million children each year.
  5. One out of six children — roughly 100 million — in developing countries is underweight.

Melihat angka-angka yang muncul membuat saya merasa sangat-amat bersalah sekaligus miris kalau mengingat kelakuan saya malam tadi. Padahal di bagian dunia yang tidak pernah saya bayangkan, banyak yang bahkan sampai meninggal gara-gara kekurangan gizi. Lah, saya yang nggak pernah berada dalam situasi yang sulit untuk mendapatkan makanan, masih saja terus berkeluh kesah gara-gara porsi yang “cuma” sedikit dan rasa yang tidak begitu enak.  Woalah….

Memang kayanya sudah jadi tabiat manusia untuk terus melihat apa yang tidak kita punya, dibandingkan berterima kasih atas apa yang bisa kita dapatkan. Kerjaannya kok cuma bisa mengeluh-mengeluh-dan mengeluh. Mungkin, kita baru bisa sadar untuk bersyukur atas makanan yang terhidang kalau sudah pake telek sapi sebagai penyedap rasa kali ya…….

Sumber data:https://www.wfp.org/hunger/stats

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s