Nah, saya akan melanjutkan hasil obrolan pada saat nongkrong-nongkrong lucu tapi ngabisin duit kemarin minggu.

Obrolan pun berlanjut soal bagaimana menghadapi tekanan sosial untuk segera menikah. Apalagi untuk mereka yang sudah di usia matang sekitar akhir 20-an atau awal 30-an. Pertanyaan yang sering membuat frustasi, putus asa, mimpi buruk, runtuhnya rasa percaya diri, dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya. Tipikal masyarakat Indonesia yang “terlalu peduli” dengan urusan orang lain, terkadang membuat kaum wanita di usia tersebut berada di bibir jurang penghakiman yang teramat kejam. Macam-macam slogan dan sebutan sudah mengintai tiap-tiap hari yang mereka lalui. Cap jelek ketika tidak menikah menjadi harga mati yang harus disematkan bagi mereka yang memilih untuk berjalan di jalur lain.

Budaya yang sungguh menyebalkan.

Mereka menganggap bahwa pernikahan adalah sebuah tujuan mutlak yang harus dicapai. Seseorang tidak akan dianggap “sempurna” bila tidak menikah. Pun bila sudah menikah, masyarakat masih bertanya dengan “kapan punya anak?” lalu “kapan punya anak lagi?” Ra uwis-uwis. Tipikal masyarakat selo yang ngggggg kayak nggak punya kerjaan lain selain ngurusin urusan orang lain. (Hush…hush..udah marah-marahnya).

Kembali ke topik utama, jadi pertanyaan mendasarnya adalah:

                   Perlukah seseorang menikah?

“Bisa perlu bisa tidak”, jawab saya. Bagi saya pribadi, menikah itu hanya salah satu SARANA untuk menuju TUJUAN. Ibarat mau ke Jakarta, ya saya bebas saja memilih untuk mau naik bis, kereta, pesawat, ataupun jalan kaki sekalipun. Tentu dengan konsekuensinya sendiri-sendiri. Yang sebenarnya perlu dipikirkan adalah TUJUAN apa yang mau dicapai dalam hidup. Apakah dengan menikah kita bisa lebih yakin untuk menggapai apa yang selalu diperjuangkan dalam hidup? Kalau jawabannya iya, ya silakan menikah. Tetapi kalau tidak, berarti rencana tersebut harus dipikirkan ulang.

Bagaimana menentukan TUJUAN dalam hidup? Dulu saya pernah diajari oleh guru SMA saya ketika pelajaran Bimbingan Konseling, bahwa salah satu cara untuk menemukan tujuan hidup adalah dengan membayangkan ketika kita dimakamkan. Dalam pemakaman, akan ada banyak orang yang berdoa dan mengenang apa yang telah kita lakukan selama hidup. Nah, bayangkan saja, kita mau orang-orang yang datang melayat itu mengenang kita sebagai siapa, sebagai apa, sebagai sosok yang bagaimana. Itulah salah satu cara yang menurut saya cukup gampang untuk dilakukan. Nah, apakah dengan menikah, kita bisa lebih dekat untuk menjadi sosok yang diingat-ingat orang ketika meninggal? Sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab terlebih dahulu.

Selain itu, saya setuju dengan salah seorang wanita, bernama Mbak Raras (http://feranisaprawitararas.blogspot.jp/), yang juga ikut ubyang ubyung di sore itu. Dia berkata bahwa menikah itu haruslah memberikan NILAI TAMBAH pada kehidupan seseorang. Kalaupun tidak bertambah, paling enggak, tidak mengalami penurunan. Saya sependapat dengan dia, bahwa menikah itu berarti bersama-sama untuk saling mengembangkan cita-cita masing-masing, tentu dengan gaya dan kompromi yang disepakati. Maka dari itu, sangat penting untuk mencari pasangan dengan nilai-nilai yang kurang lebih sama. Tidak terlalu njomplang. Akan sangat susah kalau kita menikah dengan orang yang tidak punya visi dan nilai dasar yang sama. Maka dari itu, pemahaman karakter pasangan menjadi hal yang sangat penting dalam proses perkenalan dan proses ini tidak bisa berhasil dengan instan.

Akan menjadi mimpi buruk bila kita memaksakan diri menikah karena tuntutan umur Tapi ternyata, semua cita-cita dan idealisme yang kita punya, tidak bisa diakomodasi oleh pasangan kita.Ternyata, pasangan kita pikiran cupet, nggak terbuka, suka memaksakan kehendak, tidak pernah mau memahami keinginan dan perasaan kita. Ha kalau gitu caranya, terus apa esensinya menikah? Cuman gara-gara tuntutan masyarakat atau saudara yang sudah ribat-ribut tanpa henti, terus kita menikah dengan orang yang tidak memberikan hal-hal positif dalam kehidupan kita. Lah, emangnya mereka mau tau kalau kita ternyata menderita dalam pernikahan, kalau kita dikekang terus menerus oleh pasangan kita dan tidak berkembang sebagai manusia, atau kalau kita stres berkepanjangan gara-gara perlakuan pasangan yang tidak mengenakkan? Enggak juga to? Semua akan ditanggung oleh diri kita sendiri. Mereka mah cuman sering bisa cuman komentar doang.

Kesimpulannya, menikah itu perlu nggak?

Menikahlah bila memang perlu, kalau nggak perlu ya nggak usah. Masih banyak hal-hal baik di luar sana yang bisa kita lakukan untuk sesama dibandingkan cuman menye-menye menghabiskan waktu memikirkan kenapa kok tidak kunjung menemukan jodoh yang tepat.

*Bahaha….^^Y

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s