PORMAS 2016 baru saja berakhir, tapi ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari pelaksanaan perhelatan olahraga terbesar di bumi Kansai ini. Pelajaran yang didapatkan dari pengamatan-pengamatan sederhana tentang peran orang-orang yang jauh dari sorotan orang banyak, orang-orang yang bersedia melakukan pekerjaan yang tampaknya sepele dan remeh temeh padahal sebetulnya tetap punya arti yang tidak kalah penting demi kelancaran acara.

Pemikiran ini dimulai dari salah satu obrolan yang terlontar di grup line Osaka-Nara. Saat itu, salah satu sesepuh, Pak Ibnu, berkata bahwa beliau bangga berpartisipasi dalam pormas kali ini, walaupun “hanya” menjadi seksi konsumsi (beliau bertugas untuk mengambil makan siang dari restoran menuju ke venue). Lalu ditanggapi oleh teman-teman yang lain bahwa pekerjaan itu bukan “HANYA”, tapi adalah salah satu tugas yang sangat penting karena bayangkan saja kalau nggak ada beliau, sudah pasti panitia dan peserta akan kelaparan sepanjang acara. Tugas yang sering dianggap sepele dalam suatu penyelenggaraan acara karena tidak ada keren-kerennya juga kan? Cuman ngurusi makanan peserta dan panitia.

Situasi kedua muncul pada saat sore hari menjelang berakhirnya acara, saya yang waktu itu baru saja menyelesaikan pertandingan di lapangan luar, sedang menuju ke dalam untuk siap-siap bertanding basket. Pada waktu di pintu masuk, saya melihat mas Samsul Maarif yang kebagian tugas untuk mengurusi per-SAMPAH-an selama pormas sedang memilah sampah ke dalam dua kantong plastik besar, SENDIRIAN. Benar-benar sendirian dan tidak ada orang lain yang berinisiatif membantu. Saya juga enggak. Alasannya ya gara-gara mau siap-siap basket. Lalu saat saya menulis ini, saya jadi sadar dan sekaligus menyesal, kenapa nggak membantu dulu mas Samsul untuk memilah sampah. Toh, alasan siap-siap basket itu adalah alasan yang cukup bodoh untuk mengesampingkan tindakan membantu orang lain. Mungkin cuma butuh waktu kurang dari 10 menit untuk berhenti sebentar, menghampiri dan membantu apa yang bisa dibantu, lalu segera menuju ke dalam.

Satu lagi kejadian yang saya amati adalah salah satu sesepuh juga di Osaka-Nara, namanya mas Anto. Saya belum pernah mengenal beliau secara personal. Tapi di acara kemarin, beliau rela menunggu sampai acara berakhir, lalu berinisiatif untuk membersihkan dan mengepel lapangan. Sebuah tindakan yang mungkin bukan merupakan tugas pokok beliau, tapi beliau mau melakukan tugas tersebut, tanpa harus disuruh dan tanpa harus mengharapkan ucapan terima kasih.

Mungkin ada banyak hal-hal kecil yang terjadi selama penyelenggaraan acara. Ada Gagus yang berinisiatif untuk mengumpulkan kantong sampah di seluruh arena pertandingan, ada ball girls di tenis lapangan yang rela berpanas-panas di jemur di luar seharian, ada Brandon dan Ricksen yang bertugas membelikan minuman untuk para atlet PPI ON yang bertanding dan hal-hal lain yang kalau diamati secara lebih detail akan memberikan kita pelajaran-pelajaran yang akan menempel di memori dan perasaan kita seumur hidup.

Saya pikir, kadang-kadang saya dan kita merasa melebih-lebihkan hal-hal yang tidak penting sehingga rela mengesampingkan tindakan yang lebih substantif. Sering kita merasa ingin menjadi orang yang selalu berada dalam sorotan kamera, yang mendapat puja-puji sana sini atas keberhasilan yang diraih, tapi perasaan atau (kadang ambisi) itu malah menjauhkan kita dari sikap-sikap inisiatif yang sebetulnya dibutuhkan dalam konteks meringankan beban orang lain dan kelancaran acara secara keseluruhan.

Kadang kalau di dalam suatu acara, kita menjadi lebih sering untuk merebut posisi seksi acara dibandingkan merelakan diri untuk jadi seksi konsumsi atau seksi lain yang kurang prestisius. Padahal, semua bidang punya tugas yang sama pentingnya, menurut saya, di dunia ini tidak ada yang lebih penting dibandingkan yang lain. Semua bekerja dan bertindak sesuai dengan porsinya masing-masing. Tidak ada pekerjaan yang lebih rendah dibandingkan dengan yang lain, asal itu dilakukan dengan sepenuh hati dan bermanfaat untuk kehidupan.

Acara ini telah meninggalkan makna yang lebih dari cukup untuk menyembuhkan kekecewaan saya karena gagal mengulang juara umum pormas kali ini. Hahaha.

Otsukare untuk semuanya! Jossss…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s