Sekitar seminggu yang lalu, saya pergi dengan Walter dan anaknya yang bernama Aisha. Dia berumur 6 tahun (kalo nggak salah) dan baru saja masuk SD. Sepanjang perjalanan di kereta, dia nggak bisa berhenti bertanya. Dia bakal bertanya tentang apapun topik yang saya dan Walter sedang perbincangkan. Selalu ada pertanyaan “Kenapa kok kaya gitu? Siapa yang melakukan itu?” dan segala macam pertanyaan polos khas anak kecil yang terkadang kita sulit untuk menjawabnya.

Saat saya mengingat-ingat pengalaman lucu tersebut, saya jadi sadar bahwa semakin dewasa kadang kita menjadi malas untuk bertanya tentang hal-hal yang sudah sangat biasa kita lakukan. Ada sebuah kecenderungan yang secara tidak sadar terbentuk dalam diri kita bahwa bila kita sudah masuk ke dalam sebuah sistem yang rigid, maka pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari diri kita akan dianggap sebagai sebuah bentuk pembangkangan, walaupun mungkin saja itu bisa diletakkan dalam konteks untuk pengembangan perusahaan atau organisasi. Orang biasanya akan enggan untuk bisa mempertanyakan kembali apa yang sudah dia tahu, keluar dari zona nyamannya, dan menciptakan perubahan-perubahan yang sebenarnya akan membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Saya mendadak menjadi takjub dengan kemampuan Aisha dan anak-anak sepantarannya yang selalu penasaran dengan apa yang dia lihat, dengar atau rasakan. Rasa penasaran yang harusnya tetap dipelihara sampai seumur hidup. Saya pikir-pikir pendidikan memegang andil yang cukup besar terhadap kerdilnya rasa penasaran orang Indonesia. Kalau saya ingat-ingat lagi, dari SD sampai menjejak ke bangku kuliah, jarang banget ada momen dimana siswa mengajukan pertanyaan ketika pelajaran/kuliah usia. Biasanya, kita akan pura-pura sibuk, tengak-tengok sana sini, menundukkan kepala, dan berbagai macam sikap pengalihan lainnya.  Kalaupun memang benar-benar ingin bertanya karena tidak paham, kita lebih memilih untuk diam dan bungkam karena tidak ingin dianggap bodoh. Selalu saja ada pikiran bahwa “Ah, ini pasti pertanyaan bodoh nih, nanti malu ah aku kalau kaya gini aja nggak tahu”.

Sifat dan sikap itu tampaknya sudah mendarah daging di dalam pendidikann kita. Sering kita jumpai, kelas mendadak sepi senyap ketika guru/dosen berkata “Ada pertanyaan?”. Mungkin hanya segelintir orang yang berani untuk bertanya tentang isi pelajaran dalam kaitan untuk menyanggah, berkomentar, atau memang benar-benar tidak begitu mengerti tentang beberapa hal yang baru saja disampaikan.

Padahal, “BERTANYA” itu adalah proses berpikir yang harusnya dilakukan terus menerus. Tiap hari, tiap saat. Lah wong hidup itu harus berubah dan berkembang setiap harinya to? Dan kita tahu bahwa perubahan itu bisa terjadi kalau kita mau mempertanyakan apa yang sudah dipelajari atau dialami hari ini untuk kemudian diperbaiki atau ditambahi di keesokan harinya.

Saya cukup beruntung karena dulu di SMA masuk ke lingkungan sekolah dimana kritis itu tidak dilarang. Bahkan kita dituntut untuk selalu berpikir kritis, mempertanyakan tentang segala hal, soal pelajaran, keseharian di sekolah, kehidupan sosial, agama/religiusitas, dan soal-soal kemanusiaan. Di sanalah kita diajari untuk selalu bertanya terhadap segala hal. Salah satu konsep yang masih menempel jelas di kepala saya adalah konsep yang diberikan oleh guru sejarah, namanya pak Samino. Pada waktu pelajaran sejarah, beliau selalu memulai pelajaran dengan menuliskan “Why? Why? Why” di depan kelas. Beliau secara langsung merangsang cara pikir anak didiknya untuk kembali mempertanyakan fakta-fakta yang ada. Beliau selalu berkata bahwa selalu ada “why” dalam “why”. Hahaha.

Cara pikir ini berlanjut pada saat kuliah, dimana kita biasanya terlibat dalam suatu diskusi kelompok. Di pertemuan pertama, kita akan menghadapi skenario tertentu dan dituntut untuk bertanya tentang hal-hal yang bisa dieksplorasi dari cerita tersebut. Kondisi ini merangsang pola pikir kita untuk terus  menjelajah ketidaktahuan kita. Kalau semakin banyak bertanya, maka akan semakin sering “ngulik” dan semakin semakin sering “ngulik”, maka pertanyaan yang muncul akan semakin banyak dan malah tidak ada habisnya. Kalau kata salah satu profesor saya pas koas, yang namanya mahasiswa itu harus skeptis!

Kejadian kecil ini menampar saya untuk bisa kembali menumbuh rasa penasaran terhadap segala sesuatu di dunia ini. Ada banyak hal yang saya tidak tahu, ada banyak hal yang terus menerus berubah dan harus dipelajari bila tidak ingin ketinggalan informasi. Saya diingatkan untuk selalu mau “bermain-main dengan rasa keingintahuan” yang akan membawa pada hal-hal yang luar biasa di depan sana.  Sama seperti apa yang Einstein pernah katakan bahwa “Play is a highest form of research”.

Maka dari itu, setiap mengakhiri hari, sempatkan untuk bertanya:

“Sudah belajar apa hari ini?”

 

^^Y

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s