Kemarin malam, saya iseng-iseng melihat kembali timeline facebook pas jaman-jamannya pemilu presiden tahun 2014. Salah satu status yang kurang lebih berbunyi “Saya nggak bisa membayangkan Indonesia akan berlumuran darah bila Prabowo jadi presiden” memantik komentar teman-teman untuk menanggapi status tersebut sekaligus berdebat seru terkait isu-isu yang sedang hangat waktu itu. Komentarnya pun mencapai 423 buah, edan lho. Banyak banget. Saya sampai nggak habis pikir kok bisa ya pada saat itu kita punya nafsu berdebat dan merasa paling benar yang sebegitu besar.

Pagi ini, saya ngobrol dengan Nesya. Dia bilang kalau kayanya sebelum pemilu tahun 2014 itu, facebook dan kolom komentarnya tidak seramai sekarang. Orang-orang juga kayanya santai-santai aja menanggapi isu-isu yang sedang hangat dibicarakan. Nggak kaya sekarang. Setiap isu yang muncul pasti dijadikan ajang untuk berdebat menunjukkan opini siapa yang paling benar. Saya jadi bingung, apa manfaat yang bisa didapatkan dari berdebat di sosial media? Nggak ada juga deh kayanya. Itu saya anggap lebih kepada pemuasan ego pribadi bahwa kita bisa melecehkan opini atau cara pikir orang lain. Kayanya kita bisa sangat tertawa puas kalau bisa melampiaskan emosi atau pemikiran kita di kolom komentar. Debat kusir yang terjadi berkepanjangan tanpa juntrungan.

Yang paling kentara adalah kita sering menempatkan asumsi sebagai sebuah fakta. Dan kita bisa habis-habisan membela asumsi yang kita bangun tanpa pernah mau menelisik lagi tentang sejarah/latar belakang/fakta yang ada. Pokoknya apa yang terlontar dari mulut sudah secara otomatis akan berubah menjadi fakta. Kita sangat jarang mau menerima opini dan sudut pandang orang lain. Padahal akan jadi diskusi yang sangat asik, berbobot dan menambah wawasan kalau mindset yang muncul adalah bukan untuk menghakimi orang lain. Sayangnya, nggak banyak yang bisa berpikir seperti itu.

Saya selalu diajari untuk melakukan sesuatu berdasarkan konsep ini: AKSI-CERNA-SADAR-REAKSI. Itu adalah urutan yang, lupa siapa yang ngajarin, saya hidupi sampai saat ini. Sayangnya, orang Indonesia lebih sering nge-skip CERNA-SADAR sehingga begitu ada aksi ya bakal langsung bereaksi. Nggak pake dicerna dulu maksudnya apa, konteksnya dalam hal apa, pokoknya langsung dikomentari dulu. Nggak mau sadar dan peduli tentang ekses yang akan ditimbulkan dari komentar atau ucapan yang sudah terlontar. Alhasil, banyak banget kasus-kasus yang muncul gara-gara sumpah serapah yang terlontar tidak pada tempatnya. Payah.

Ya, emang gitu deh kayaknya. Setelah pemilu presiden tahun 2014 kita berubah drastis jadi masyarakat yang sangat reaktif. Kok kayaknya nggak puas banget kalau belum mengatakan apa yang ada di dalam pikiran. Nggak peduli apakah itu bakal menyakiti atau melukai hati orang lain. Yang penting, apa yang dipikirkan nggak mengendap jadi kerak di kepala.

Dulu banget, saya pernah diskusi sama Datu. Kita sama-sama berkesimpulan bahwa asumsi akan tetap menjadi asumsi sampai kita bisa membuktikan hal tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah fakta. Kita nggak bisa menempatkan asumsi yang terbangun dari perspektif kita yang terbatas ini sebagai sebuah fakta yang tidak boleh dibantah. Kita kan diajari pada saat kuliah, sistematika berpikir yang harusnya dibawa dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika ada masalah maka kita akan mencari latar belakang permasalahan tersebut, baru kita bisa membangun asumsi, kemudian melakukan investigasi untuk membuktikan asumsi tersebut, membuat kesimpulan, baru kemudian menyampaikan itu kepada khalayak. Pola pikir yang tampaknya sudah sangat jarang diterapkan oleh orang-orang belakangan ini.

Kuncinya sebenarnya hanya satu, RENDAH HATI. Dengan menjadi pribadi yang rendah hati, kita bisa lebih gampang untuk mencerna apa yang orang lain pikirkan atau katakan. Kita jadi punya ruang yang cukup lapang untuk memahami apa dan kenapa orang tersebut bisa berpendapat seperti itu. Tidak melulu selalu menuruti nafsu berdebat yang dibalut dengan arogansi yang berlipat-lipat.

So? Kalem wae. Hahaha.

^^Y

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s