Kemarin sore, sepulang dari futsal, seperti biasa kami bareng-bareng turun dari Mino ke arah bawah. Di perjalanan, kami bertemu dengan seorang wanita yang sedang berjalan dan mendengarkan musik memakai earphone. Terus, saya dan beberapa teman nyeletuk “Haloooo manissss….” (kaya di benteng Takeshi jaman dulu)  sambil mengayuh sepeda kami dengan cepat. Mendengar celetukan kami, si Surya pun menegur dan menceritakan sekelumit fakta tentang pelecehan seksual di Jepang. Dia bercerita bahwa sexual harassment di Jepang, bukan lagi bisa dijadikan suatu hal yang main-main. Ada risiko hukum yang lumayan mematikan bila kita dilaporkan melakukan pelecehan seksual, baik secara verbal maupun secara tindakan.

Kalau kita mengikuti berita baru-baru ini, ada berita tentang dua orang penumpang yang dilaporkan ke pihak berwajib bandara karena melecehkan seorang pramugari Garuda Indonesia. Mereka nyeletuk “Mau susu kanan atau kiri?” ketika ditawari minuman yang harus dipilih. Pramugari pun merasa tersinggung dengan perlakukan dua orang tersebut dan melaporkan mereka ke aparat berwenang.

Bagi para kaum lelaki, celetukan seperti itu kadang secara spontan muncul ketika kita sedang asik nongkrong bareng-bareng. Secara nggak sadar kita sering memperlakukan wanita sebagai objek bercandaan kita. Mulai dari disuit-suitin, digoda-goda dengan bahasa yang tidak sopan, atau berbagai macam perilaku lainnya. Bagi sebagian lelaki, perilaku ini kadang-kadang hanya dipahami sebagai “harmless joke” yang tidak perlu ditanggapi serius dan harusnya dianggap sebagai angin lalu saja. Nggak usahlah yang kaya gini diambil pusing, wong ya cuma bercanda. Tapi, yang tidak kita sadari, perilaku ini (walaupun maksudnya bercanda sekalipun), bisa memberikan akibat hukum yang tidak main-main bila si wanita tidak terima dengan perlakukan kita.

Pelecehan seksual merupakan sebuah konsep yang asing di Jepang. Mereka lebih kenal dengan istilah sekuhara yang diambil dari sexual (seku) dan harassment (hara). Banyak sekali contoh diskriminasi terhadap pekerja perempuan Jepang. Ada yang dipaksa untuk berduet lagu romantis dengan teman kerja (pria) mereka, harus menuangkan teh, mengangkat telpon, dll yang semuanya dilakukan dengan tujuan menciptakan suasana kerja yang harmonis. Wanita yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan ini akan dianggap merusak suasana kerja yang berusaha untuk dibangun dan akan mendapatkan konsekuensi dari lingkungan kerja mereka.

Hukuman terhadap pelaku pelecehan seksual mulai diperkenalkan sejak tahun 1989 di Fukuoka. Jadi ada kejadian, dimana seorang pekerja pria melaporkan bosnya karena gajinya, yang tiga kali lebih besar dari si pekerja wanita utk jenis kerjaan yang sama, dikurangi untuk menaikkan gaji si wanita tsb. Dia menyebarkan isu bahwa si wanita tidur dengan bosnya dan menulis novel porno. Ini adalah kasus pertama yang menyadarkan publik tentang pelecehan seksual di kantor. Beberapa hukuman untuk pelaku pelecehan seksual pun dibuat, salah satunya adalah mempublikasikan pelaku dan perusaan ke khalayak umum bila terjadi pelecehan seksual di tempat tersebut. Konsep ini berdasarkan pada konsep hukuman sosial yang memang menjadi konsep dasar masyarakat Jepang. Tapi, sayangnya wanita-wanita tsb masih sulit untuk melaporkan tindakan tersebut karena mereka sering diancam bahwa pelaporan tersebut akan memberikan dampak buruk pada bos dan perusahaan mereka. Lah, secara nggak langsung mereka pun akan tetap diam.

Kondisi ini sebenarnya berakar pada sistem sosial Jepang yang sangat tradisional dalam memandang peran seorang wanita. Sebuah sistem sosial yang sebenarnya juga dianut di masyarakat Jawa. Wanita masih dianggap sebagai “second sex” yang tidak punya hak apapun untuk berbicara, bekerja, dan hanya bertugas untuk mengurusi masalah domestik rumah tangga. Para pria tidak pernah memikirkan perasaan wanita bila melakukan tindakan tertentu. Salah satu contoh kasus adalah seorang polisi yang berulang kali memegang paha teman kerja wanitanya. Dia berpendapat bahwa “It felt good, and she didn’t say anything, so I kept doing it” Sebuah alasan yang muncul karena ketakutan si wanita menyuarakan apa yang menjadi kegelisahan dan kemarahannya.

Dalam sebuah artikel yang dikeluarkan oleh The Guardian (Maret 2016) dikatakan bahwa hampir sepertiga wanita Jepang mengalami pelecehan seksual di tempat kerja, biasanya karena penampilan, umur atau kondisi fisik mereka. Dalam taraf yang lebih serius, mereka berulang kali diajak makan keluar dan dipaksa untuk melakukan hubungan seksual atau disentuh secara semena-mena. Yang paling sering melakukan adalah atasan dari si wanita tersebut. Sayangnya, para wanita di Jepang masih merasa segan untuk melaporkan tindakan ini ke pihak yang berwajib. Kebanyakan dari mereka memilih untuk diam karena bila mereka melaporkan, maka mereka akan diperlakukan dengan tidak menyenangkan atau malah bisa turun pangkat.

Sigh…sebuah kondisi sosial yang sebenarnya tidak perlu terjadi kalau kita menghargai wanita sebagai partner kerja yang punya hak yang sama dengan kaum pria. Sayangnya, walaupun PM Abe mempunyai program untuk meningkat peran wanita dalam bisnis dan ekonomi. Program yang mendukung dan menjamin hak-hak kaum wanita sama sekali masih dikesampingkan, lebih lagi belum ada penghormatan terhadap wanita hamil yang bekerja. Mereka malah akan semakin dipojokkan karena kondisi mereka memperlambat pekerjaan, menambah beban untuk pekerja lainnya, dll. Dampak jangka panjangnya adalah Jepang akan semakin kehilangan populasinya di masa depan dan bukan tidak mungkin dalam beberapa puluh tahun ke depan, kondisi ekonomi Jepang akan semakin terpuruk bila situasi ini tidak segera ditangani secara serius.

Maka dari itu, hargailah wanita seperti kamu ingin dirimu dihargai sebagai seorang lelaki dan jangan pernah anggap bahwa apa yang terlontar hanyalah sebuah lelucon belaka karena itu akan menimbulkan konsekuensi hukum yang cukup berat.

Bayangkan saja kalau adik, istri, sahabat atau ibumu diperlakukan seperti itu, nggak bakal mau juga kan?

^^Y

 

Sumber:

On Sexual Harassment in Japan (Part 1)
http://www.nippon.com/en/currents/d00171/
http://www.theguardian.com/world/2016/mar/02/japan-women-sexually-harassed-at-work-report-finds

 

 

Advertisements

One thought on ““Sexual Harassment” di Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s