Sebenernya kalau dipikir2 3 kejadian yang baru-baru ini menimpa Indonesia: masalah mahasiswa Papua di Jogja, pelarangan penjualan babi di Medan, sama pembakaran vihara di Tanjung Balai bisa dilihat dari sudut pandang test case u/ “devide et impera”, dan tampaknya strategi itu berhasil dengan baik karena masifnya peran sosial media di Indonesia.

Saya heran, arus informasi yang begitu deras semenjak era reformasi ternyata tidak dibarengi dengan kematangan cara berpikir masyarakat Indonesia itu sendiri. Indonesia itu seperti sekumpulan pegas yang ditekan selama masa orde baru dan begitu mendapatkan kebebasannya, mereka berloncatan kesana kemari secara tidak jelas. Hal ini ternyata terjadi juga di ranah sosial media. Respon mereka terhadap informasi yang disajikan di sosial media, menurut saya masih sangat primitif,bahkan untuk sekaliber orang-orang yang berpendidikan sekalipun. Para sarjana yang sudah melewati critical thinking pada saat mengerjakan skripsi saja, masih sangat mudah tersulut emosinya terhadap berita-berita yang bersinggungan dengan identitas mereka (agama, ras, tradisi, dll). Padahal, mereka seharusnya bisa mengimplementasikan pola pikir pembuatan skripsi itu ke semua segi kehidupan. Ketika ada masalah, berarti ada asumsi penyelesaian, kemudian melakukan studi referensi dan penelitian, dibahas + dipikirkan sedemikian rupa sebelum mengambil kesimpulan.

Situasi ini membuat orang menjadi semakin gampang utk terprovokasi thdp berita yang di-framing dng tujuan tertentu. Tampaknya mngkn cuma hal yang sepele, tapi kalau benih-benih kebencian dan kemarahan thdp etnis/agama tertentu itu dipupuk secara terus-menerus tanpa ada kemauan utk menjernihkan pikiran serta sadar penuh utk memikirkan dulu reaksi kita atas kejadian yang berlangsung, mungkin dalam beberapa tahun ke depan kita bakal menghadapi “perang” yang sesungguhnya. Kita bisa membayangkan, bahwa kebencian terhadap etnis/agama/pilihan politik tertentu bisa menimbulkan chaos yang bahkan efeknya lebih besar dibandingkan bom atom sekalipun. Kasus 1965, kekerasan etnis Tionghoa tahun 1998, atau ricuhnya Ambon hanyalah segelintir sejarah yang bukan tidak mungkin bisa terulang. Sayangnya, tidak banyak orang yang menyadari bahwa hati mereka sudah tersusupi oleh benih kebencian semacam itu.

Kebencian ini bakal menjadi semakin besar karena peran sosial media. Kita masih ingat betapa riuhnya situasi Indonesia pada saat pemilu presiden tahun 2014. Bahkan sampai sekarang, efek merusaknya di kalangan masyarakat masih bisa dirasakan secara jelas, bahkan bertambah nyata.Dikotomi Jokowi-Prabowo masih sangat teasa dalam interaksi kita dengan teman atau kerabat. Ini jelas-jelas merupakan strategi politik untuk memecah belah bangsa Indonesia. Mereka sangat sadar bahwa masyarakat Indonesia dengan heterogenitasnya adalah sebuah negara dengan potensi konflik yang sangat besar, apalagi ditambah dengan arus informasi yang sering menyesatkan. Indonesia bukanlah negara dengan struktur masyarakat yang mudah dikontrol, tidak seperti Jepang dengan masyarakat yang homogen. Pembatasan informasi seperti di Tiongkok memang memberikan keuntungan sendiri untuk mengatur masayarakat yang heterogen, tetapi tentu pemberangusan semacam itu tentu membahayakan masyarakat Indonesia bila berhadapan dengan pemerintahan yang otoriter. Walaupun kita harus mengakui bahwa jalannya negara akan lebih fokus karena tidak banyak gejolak di akar rumput. 

Dalam bukunya, Noam Chomsky mengatakan bahwa ancaman bagi tatanan dunia baru adalah nasionalisme Dunia Ketiga atau yang sering disebut ultranasionalism: dimana rezim nasionalistis adalah respon atas permintaan populer utk segera meningkatkan standar hidup masyarakat yang masih rendah dan produksi untuk kebutuhan domestik. Inilah yang ditakuti dari Indonesia, seharusnya Indonesia bisa menjadi negara yang sangat kuat di dunia dengan segala keuntungan geografis/demografi/sumber daya alam yang ada. Tapi kenapa kita masih tertinggal? Ya karena selama ini memang kita tidak dibiarkan untuk berkembang sebagai sebuah negara. Pendidikan, kesehatan, riset, infrastruktur, pangan, dan berbagai macam prioritas lainnya sengaja dibatasi sebagai bentuk pengerdilan terhadap kemampuan kita. Indonesia jelas dilihat sebagai ancaman yang harus dimatikan sesegera mungkin sebelum mereka kehilangan kontrol thdp kita. Semakin Indonesia melawan hegemoni mereka, maka akan semakin masif penghancuran internal yang berusaha utk dibangun.

Pokoknya, dibuat bagaimana caranya, Indonesia tidak punya kemampuan untuk bisa menjadi kekuatan baru di bidang ekonomi atau militer di kawasan perpetaan dunia. Penyusupan-penyusupan ideologi melalui hasutan atau ajaran-ajaran yang menjauhkan diri dari Pancasila dan ke-Bhineka-an adalah strategi paling utama yang membuat masyarakat Indonesia menjadi semakin curiga/was-was terhadap sesamanya bahkan dng tetangga kiri-kanannya sekalipun.

Disadari atau tidak, maraknya sosial media membuat masyarakat Indonesia menjadi manusia yang malas berpikir. Mereka diposisikan sebagai pihak yang hanya mendukung atau tidak mendukung sesuatu. Mereka tidak dibiarkan untuk bisa mengkritisi atau mengkreasi pemikiran-pemikiran baru yang seharusnya bisa menjadi alternatif sudut pandang terhadap isu-isu yang sedang hangat. Ketika tidak bisa berpikir, maka emosi adalah aspek yang akan pertama kali berperan saat ada satu kejadian. Tidak ada cross check, tidak ada skeptisitas, pokoknya bertindak dulu, mikirnya belakangan.Bila kita sudah benci terhadap suatu hal, maka akal sehat adalah hal paling akhir yang akan diperhatikan. Apalagi ditambah dengan kecenderungan orang Indonesia yang mudah men-judge atau menjatuhkan orang lain yang tidak sepaham dengan dia. Akan semakin gampanglah api-api kebencian itu menyebar dan membakar hati orang-orang Indonesia. Maka dari itu, tidak heran begitu banyak kasus-kasus intoleransi terekspos akhir-akhir ini. Begitu virus intoleransi merajalela di seluruh penjuru Indonesia, maka pihak-pihak yang berseberangan bisa dengan mudah digebuk dng cara2 yang represif atau brutal sekalipun.

Menurut saya, ini ancaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata, dengan rapuhnya tatanan masyakarat kita terhadap keberagaman. Maka, bukan tidak mungkin sejarah kelam akan kembali menghiasi langit tanah air tercinta. Bukankah cara-cara demolisasi internal melalui “perang” saudara adalah strategi yang selama ini sudah terbukti ampuh untuk mematikan potensi perkembangan sebuah kekuatan baru?

Hati-hati lho….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s