Sore itu, mendung masih setia menggelanyut di kota tercinta, membuat kami malas beranjak untuk keluar rumah. Memilih untuk menghabiskan waktu bersantai di teras depan, ditemani dengan sepiring tempe mendoan dan tape hangat. Itu sudah lebih dari cukup untuk menghangatkan suasana yang semakin dingin. Kami berdua duduk di kursi, berbincang tentang hal-hal yang mungkin membuat orang lain mengernyit. Ya, obrolan saya dengan bapak kadang-kadang memang terdengar aneh dan tidak lazim, tapi dari beliaulah, saya belajar banyak ttg kebijaksanaan hidup.

Sore itu, saya iseng bertanya pada bapak tentang hubungannya dengan ibu. Saya tidak pernah menanyakan ini sebelumnya, tapi kayanya kok pasti akan ada banyak ilmu yang bisa dipelajari.

Pink             : Pak, bapak pernah nggak sebel sama ibu?

Bapak          : Weh, pertanyaanmu kok aneh banget to, yo pasti pernah lah, mosok ya nggak                          pernah.

Pink          : Contohnya apa pak? Yang akhir2 ini terjadi deh..

Bapak      : Hmmm…oh ada kayanya, bapak pernah sebel gara-gara persoalan mbawain makanan untuk ibu..

Pink          : Heee..maksudnya?

Bapak    : Jadi, kamu kan ngerti kalau biasanya bapak njemput/tepatnya mindah ibu dari RS Sarjito ke RS PR untuk efisiensi waktu. Kalau pindah sendiri/nyetir sendiri waktunya habis untuk  keluar/masuk cari tempat parkir terutama di RS Sardjito (bisa makan waktu 30 menit lebih) padahal di RS PR hanya butuh 10 menit saja. Nah, suatu ketika ibu itu pernah bilang, “ Waah ngene iki nek ana lemon tea karo camilan enak banget”  (Wah, kaya gini kalau ada lemon tea dan camilan enak banget) Dan kebetulan ibu sedang haus dan lapar.

Ya udah, bapak pun berinisiatif untuk menyiapkan camilan dan minuman pada saat menjemput ibu. Tapi, kadang ibu itu nggak pernah sama sekali menyentuh makanan yang sudah dibawakan.  Biasanya ibu sering menerima telpon dari RS (konsul), membalas WA atau sms yang penting yang berkaitan dengan pekerjaan,  atau masih dalam kondisi tidak haus/tidak lapar karena baru saja rapat dan dapat snack. Jadi intinya memang snack dan minuman saat itu tidak dibutuhkan.

Pink          : Terus, gimana perasaannya saat itu?

Bapak     : Ya, pasti ada pergulatan dalam hati : gimana ya ini? Marah, tapi bapak ya mencoba memahami “mengapa tidak disentuh ?” Besok lagi nggak usah dibawain saja apa ya? Berkecamuk aneka pikiran tapi bisa diredam dalam hati. Tapi, bapak itu selalu yakin bahwa tidak disentuh itu karena ibu sedang tidak lapar/haus, ada banyak konsultasi yang masuk dan segera ditanggapi dan BUKAN TIDAK MENGHARGAI apa yang yang sudah disediakan.

Pink          : Hooo…kok apik…

Bapak     : Nah tapi kadang-kadang kalau kebetulan waktunya mepet dan tidak bawa minuman dan snack pernah ada komentar “wah nggak kreatif nih….” Kebetulan situasi saat itu memang minuman dan snack dibutuhkan, karena pas haus dan lapar.  Jadi bapak harus pandai-pandai membaca situasi. Tapi ibu sering juga kok memberikan apresiasi yang melegakan, biasanya ibu bilang  “nah kalau kaya gini kan  kreatif” sehingga   interaksi yang menyediakan dan yang memanfaatkan menjadi harmonis.

Pink          : Tapi, kok bisa to bapak tetep aja ngebawain ibu makanan?

Bapak     : Setelah pensiun bapak berpikir bagaimana  supaya lebih bisa bermanfaat untuk keluarga, karena selama masih kerja merasa bahwa kurang optimal dalam keluarga (karena capek). Ketersinggungan dan sakit hati pasti ada tetapi dibandingkan dengan segala” pengorbanan, perjuangan dan kerelaan” ibu untuk mendukung keluarga, yang kaya gitu itu jadi tidak ada artinya apa2. Bagi bapak, ketersinggungan dan sakit hati itu hanya mau menunjukkan ego sebagai laki-laki bahwa “berkuasa” lalu dapat menyalahkan pihak lain. Dan yang kaya gitu itu udah bukan jamannya.

Pink          : Kalau ibu, juga suka ngelakuin kaya gitu juga pak?

Bapak     : Ibu juga sering melakukan hanya dalam bentuk yang berbeda : misalnya kalau tau bapak menginginkan sesuatu (makanan/baju/celana/sepatu)  tetapi bapak merasa bahwa harga terlalu mahal untuk ukuran penghasilan bapak, maka tanpa sepengetahuan bapak ibu langsung membelikan dan bapak mengapresiasi dengan memakan, memakai pada kesempatan pertama. Dan ini membahagiakan ibu.

Pink          : Sebenarnya, sesederhana itu ya pak untuk menghargai orang lain ki….

Bapak     : Iya, sesederhana itu sebenarnya. Hal yang sama juga bapak lakukan kepada anak2 dengan bentuk yang berbeda misalnya : motor/mobil dalam keadaan bensin/solar mau habis padahal baru saja dipakai anak2 terus tak isi sampai penuh, anak2 tidak bilang terima kasih (tidak diapresiasi) bapak ya enggak merasa kenapa-kenapa. Motor/mobil habis dipakai tidak dibersihkan terus tak bersihkan dan tidak ada komentar apa2. Bapak ya enggak pernah sakit hati.

Jadi “seluruh kebaikan” yang dipunyai ibu dan anak2  tidak cukup pantas untuk membuat  bapak harus tersinggung atau sakit hati. Kan tidak harus setelah kita memberi/membantu ybs harus memberi apresiasi. Tuhan akan menggerakkan orang lain untuk membahagiakan bapak. Mau enak atau enggak itu tergantung kita kok. Rugi kalau tergantung orang lain, meskipun orang tersebut “njelehi” Jadi memberi/berbagi memang harus berlandaskan keikhlasan supaya menentramkan dan membahagiakan

Pink        : Hehehe…iya ya? Sering banget aku sama Indra kaya gitu, sorry lho pak…Eh tapi, kalau kita berbuat kebaikan ke orang tu, wajar nggak sih kalau kita mengharapkan orang lain juga berbuat baik ke kita? Atau seharusnya kebaikan yang kita lakukan itu, emang harus bener2 dilepaskan aja, artinya kita sama sekali nggak usah mikir tentang pamrih/ balas jasa dari orang tersebut ke kita…

Bapak  : Yang ideal ya harusnya dilepaskan saja. Bahwa sekali-kali diperbincangkan boleh-boleh saja tetapi tidak mengubah sikap kita yang selalu ingin memberi  dan membantu. Dari pengalaman hidup melalui orang lain (Tuhan yang menggerakkan)  akan dapat anugerah yang berlipat-lipat dari yang kita lepaskan. Dan yang tidak kalah penting yaitu “Selalu bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk dapat  memberi dan berbagi.”

Pink        : Jadi gitu ya, susah banget e, mesti kalau kita berbuat baik sama orang lain, pasti kita bakal mengharapkan orang lain untuk baik juga sama kita…

Bapak     : Yo, nggak papa le. Namanya juga belajar, nanti juga sama lama-lama bisa. Itu reaksi wajar kok. Tapi yang perlu kamu ingat adalah, setiap kita melakukan kebaikan pasti akan ada lingkaran-lingkaran imajiner yang terbentuk. Nah, kebaikanmu itu adalah awal mula lingkaran itu, yang pada nantinya akan kembali lagi ke kamu. Tapi, kamu itu nggak akan pernah tau, seberapa besar lingkaran itu akan terbentuk atau kapan garis lingkaran itu akan kembali ke kamu. Jadi ya, dipercayai saja, dilakukan terus, dan pasti garisnya akan kembali ke kamu pada saat kamu membutuhkan.

Pink        : Hoooo….gitu yo pak…Oke deh kalau gitu…nuwun yo pak ceritanya…semoga iki iso diterapkan iki…angel je…hahaha…

Bapak     : Yo, nggak papa, namanya manusia kan terus belajar to? Yang penting jangan pernah lupa bilang “terima kasih” sama siapapun yang berbuat baik sama kamu yo le…

Pink          : Iya pak…

Dan, kami pun menyeruput tape hangat yang sudah mulai mendingin ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s