Dari dulu saya paling nggak bisa bersikap pura-pura, Nesya yang sejak lama bergaul dengan saya, tahu pasti kalau raut muka saya nggak pernah bisa bohong. Kalau saya nggak suka sama orang, pasti akan kelihatan dari nada bicara, ekspresi muka, atau gesture. Tapi itu dulu, lambat laun saya menjadi terbiasa melakukan skill paling mutakhir yang wajib dimiliki bila kita beranjak dewasa, yaitu pura-pura baik.

Saya jadi nggak habis pikir, kenapa sih hal ini kayanya menjadi suatu keharusan untuk dilakukan bila kita mau survive di kehidupan nyata. Saya dari dulu paling nggak suka kalau harus pura-pura baik sama orang, terutama yang lebih tua.  Doktrin HARUS menghormati yang lebih tua itu bagi saya adalah ajaran yang konyol. Bagi saya, orang itu tidak melulu bisa dinilai dari umur, jabatan, kekayaan, dll, tetapi murni karena sifat kemanusiaannya. Kalau dia orang tua/ hartanya melimpah/ pejabat, tapi kelakuannya brengsek, masak ya harus nunduk-nunduk untuk menghormati yang kaya gitu. Tetapi ya lagi-lagi, karena kebutuhan hierarkis dan sosial ekonomi, saya pun (kadang2) mau nggak mau berusaha untuk terlihat baik di depan orang tersebut, tentu saja dalam batas yang menurut saya masih wajar.

Menurut saya, sikap pura-pura baik adalah omong kosong paling besar yang selalu ditanamkan oleh masyarakat kita. Hal ini timbul dari sikap orang untuk selalu mau dihargai dan dihormati. Orang-orang macam ini, selalu menghakimi orang lain yang tidak “melayani” dia. Orang2 tsb, terutama yang berada dalam posisi yang lebih tinggi, sangat senang untuk diperlakukan dengan baik. Walaupun sikap yang muncul adalah kebaikan yang semu, tidak murni. Dia sebenarnya tidak pantas mendapatkan perlakuan sebaik itu, tapi karena dia punya uang, kekuasaan, pengaruh, maka kaum2 yang lebih rendah derajatnya pun sibuk memakai topeng dan menjilat orang tersebut. Untuk apa? Ya untuk keselamatan dirinya, karir, keluarga, dan sebagainya.

Saya itu selalu percaya, kalau orang tsb pantas untuk dihargai, maka perlakuan itu akan datang dengan sendirinya kok. Orang lain akan dengan tulus membalas apa yang dia perbuat untuk sesamanya. Semuanya akan berjalan dengan natural dan apa adanya, bukan sesuatu yang di-setting sedemikian rupa demi agenda-agenda tertentu.

Dalam dunia kerja, kondisi ini kadang membuat orang-orang yang sebenarnya punya kompetensi lebih mumpuni, tetapi tidak bisa menjadi “pelayan” senior, terdepak oleh mereka yang sebenarnya kalah secara kemampuan, tetapi punya “attitude baik” di hadapan senior. Mereka yang tidak bisa melayani dng baik, akan dianggap tidak mempunyai “attitude” yang layak untuk bisa berada di dalam lingkungan tersebut. Penilaiannya kemudian sama sekali menjadi tidak objektif, semua hanya didasarkan pada mereka suka atau tidak suka dengan perlakuan si junior terhadap senior. Bukan lagi, apakah orang ini mempunyai skill, kepintaran, yang memadai untuk bisa memajukan tempat tersebut.

Saya hanya khawatir, kalau budaya pura-pura baik ini dipelihara terus menerus, maka kita akan merasakan sakitnya kehilangan orang-orang terbaik. Sigh….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s