bully-cartoon

Ini adalah bagian pertama dari 4 tulisan cukup panjang mengenai bullying. Semoga bisa menimbulkan kesadaran bahwa bullying bisa menimpa siapa saja, kapan saja, bermacam bentuknya dan jangan sampai anak2 atau orang2 terdekat kita yang jadi korban.Selamat membaca.

Pas SMP, saya adalah salah satu korban bully. Saya nggak pernah paham kenapa saya bisa jadi korban bully, mungkin gara2 saya waktu  itu saya lumayan pinter, bisa deket sama cewek2 cantik, atau ada alasan lain yang nggak pernah saya tahu sampai saat ini. Hal lain yang memperparah keadaan adalah, saya punya sohib karib yang kebetulan Chinese, pinter, duitnya banyak, tunggangannya udah CBR, terus saya sering pasti diajak ke Galeria Mall, ditraktir KFC plus dibeliin koin buat maen dingdong. Dia tu dulu ibarat bos2 kaya di film gangster, udah bergelimang harta terus selalu ada cewek2 cantik di sekitarnya. Nah, biasanya kan ada jongosnya to? Lah….itu aku, hahahasyem.

Kondisi itu berlangsung hampir tiap hari, mungkin 3-4x seminggu, bayangin aja betapa mulianya hidup saya di awal tahun 2000an itu. Gimana anak-anak lain nggak jadi merasa iri dengan apa yang saya punya. Nah,masalahnya si bocah Chinese ini (sebutlah namanya Bobby) adalah orang yang nggak ada takutnya, semacam si Ahok lah kalau di jaman sekarang. Banyak temen2 yang sebenarnya nggak suka sama dia, tapi karena dia galak, nggak ada yang berani ngelawan. Akhirnya, satu2nya cara utk menunjukkan ketidaksukaan adalah mem-bully orang terdekatnya, yaitu saya. Kampret banget. Ya, walaupun nggak sampai pem-bully-an secara fisik, tapi cemooh, olok2, intimidasi dan sebagainya adalah makanan sehari-hari selama satu tahun itu.

Salah satu olok2 yang paling membekas adalah terkait dengan kebiasaan saya buat boker di sekolah. Karena jarak rumah yang lumayan jauh dari sekolah dan harus ditempuh naik sepeda, terkadang ritual boker saya di rumah nggak tuntas. Ya, terpaksalah saya sering ijin pada waktu jam pelajaran buat pergi ke toilet, eek sampai lega, terus balik lagi. Nah, teman2 yang tahu kebiasaan ini, lama-lama pun jadi agak menjauhi atau kadang meledek dengan bilang “Heegghhh….” sambil tutup hidung kalau semisal saya lewat. Jigur banget. Bahkan saya pernah dapet julukan “Si hegh…” Gitu aja terus sampai sering saya takut keluar dari kelas kalau istirahat. Takut diceng-cengin. Kalau saja waktu itu saya udah tahu kalau nggak bisa boker itu tersiksanya bukan maen, udah tak sumpahin tuh bocah2 supaya nggak bisa boker minimal seminggu, biar kapok. Lagian, saya juga sih yang salah, ngapain juga harus maksa diri buat boker di toilet, kenapa dulu nggak boker di sembarang tempat aja, pasti nggak bakal di-bully deh. Yakin!

Perpaduan dua kondisi itu membuat saya stres secara mental. Pernah suatu hari saya mimpi buruk tentang orang yang setiap hari mem-bully saya. Lalu bangun pagi-pagi dengan pikiran, ngapain sih aku harus ke sekolah, menerima bully-bully-an macam itu lagi. Untung nggak pernah terlintas untuk bunuh diri. Tapi kejadian itu membuat saya tersiksa scara psikologis, kemana-mana merasa takut, nggak bisa bersosialisasi dengan tenang, belajar juga jadi terganggu, nggak bisa konsentrasi di kelas,tiap berangkat sekolah kepinginnya cuma biar cepet pulang, supaya nggak di-bully. Seorang pun nggak ada yang tahu apa yang saya rasain, bahkan bapak ibu aja nggak tahu. Agak bingung juga harus ngadu ke siapa, masak ya ke guru BP, cemen banget kalau sampai bilang ke mereka. Akhirnya, ya cuma saya simpan sendiri aja. Beruntung, situasinya membaik begitu naik kelas 3. Mungkin mereka udah bosen juga plus udah mau ujian, makanya mereka berhenti untuk mem-bully.

Sampai saat ini, pengalaman itu menimbulkan trauma yang cukup mendalam. Sebuah periode yang nggak mungkin saya lupakan dalam hidup. Saat ini sih saya udah nggak masalah dengan orang2 yang dulu mem-bully, tapi tetep nggak gampang untuk bisa menghapus memori kelam yang ada di kepala. Saya tu kadang suka ngerasa kasian sama anak2 yang di-bully di sosial media, semacam Florence, Awkarin,  terus anak yang ngadu ke bapaknya terus bapaknya mukulin gurunya, dan yang lain2. Kita tu kok bisa jahat banget ya, mentang2 dia “salah” terus kita bisa seenaknya aja gitu menghujat si pelaku dengan hinaan yang brutal banget. Kita jadi kaya orang-orang suci yang nggak pernah salah terus bebas aja gitu ngehina-hina orang semau kita. Pernah mbayangin nggak sih apa efek yang bakal dirasain sama anak2 itu, saya aja yang cuma di-bully sama temen2 sekolah, traumanya bisa entah sampai kapan bakal hilang, ini gimana rasanya digebukin sama seluruh Indonesia. Apa ya kita ini nggak punya rasa kasian lho, kalau sampai mereka terkena kejadian buruk, misal bunuh diri, depresi atau segala macamnya, secara nggak langsung, kita yang nge-bully berarti juga ikut andil dalam melakukan pembunuhan secara masif, sistematis dan terstruktur lho. Duh jaann….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s