kenji

Sebagian besar pem-bully-an ada di sekolah. Masalahnya, pihak sekolah sering mengacuhkan adanya fenomena ini. Mereka merasa bahwa semua siswanya adalah anak2 yang manis, penurut, mudah diatur. Padahal, usia-usia SMP kaya gitu, mana ada mereka mau ikut aturan. Yang ada, mereka ramai-ramai menunjukkan diri untuk merasa paling dewasa dan paling jagoan. Makanya tawuran jamak terjadi di usia itu, nggak pernah to ada berita anak TK tawuran? Hahaha.

Tapi, pihak sekolah dan guru-guru juga harusnya mulai memperhatikan kasus-kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah. Pengawasan menjadi  kunci penting untuk mengetahui kasus tersebut. Karena guru-guru itu super sibuk dengan urusan administrasi, mengajar, baca koran, ngopi2, dan berbagai aktivitas lainnya. Maka, akan bagus kalau tiap sekolah/kelas dipasang CCTV yang bisa mencakup area dan gambar yang lumayan jelas. CCTV ini mungkin bisa dipasang di hotspot-hotspot yang sering menjadi area pem-bully-an, misalnya di kantin, di lorong sekolah, di parkiran, atau di area2 gudang. Kalau udah teridentifikasi kan jadi mudah untuk mengambil tindakan.

Nah, terkait dengan kondisi psikologis si bocah dengan usia segitu. Menurut saya, cara-cara seperti menasihati, memberikan bimbingan konseling, ngasih ceramah adalah hal-hal konservatif yang (mungkin) tidak terlalu memberikan dampak yang besar untuk mengurangi kasus bullying. Seperti yang saya bilang di post sebelumnya, bahwa korban bullying kebanyakan adalah anak2 yang dianggap lemah, cemen, cupu, dan tidak punya kemampuan untuk membalas.

Lah, masalahnya, kebanyakan tukang bully bekerja secara kelompok, paling minimal 3 orang kaya di film Harpot (Draco, Crabe, Goyle). Yang mana sangat susah untuk dilawan secara fisik. Untuk mengantisipasi terjadinya pengeroyokan dan situasi perkelahian yang tidak adil. Harusnya pihak sekolah bisa menyediakan suatu arena khusus untuk anak-anak yang mau berkelahi. Jadi tiap anak yang teridentifikasi lewat CCTV, dikasih jadwal untuk bertarung satu lawan satu. Nanti bakal ada semacam matras atau ring tinju, terus si bocah dilengkapi dengan sarung tinju, pelindung kepala, pelindung gigi, ada wasitnya juga untuk mengawasi. Dengan kondisi ini, kita bisa memastikan bahwa si korban punya kesempatan untuk melampiaskan kekesalannya pada si pembully plus dia jadi terlindungi secara fisik (bila emang ada perbedaan kekuatan fisik yang cukup besar). Semuanya bisa dilakukan secara aman dan terkontrol. Walaupun, besar kemungkinan untuk si pembully memenangkan pertarungan, tapi pertandingan yang dilakukan dalam kondisi yang fair akan menumbuhkan rasa percaya diri yang cukup besar dari si korban bully. Kalau di komik sih, bisa ngasih pukulan sekali aja si bocah udah jadi seneng banget. Kalaupun kalah, secara nggak langsung, itu akan menumbuhkan fighting spirit dari si bocah dan ngebuat dia jadi lebih semangat untuk bisa mengalahkan si pembully.

Guru-guru dan orangtua tu harusnya sadar bahwa nggak semua anaknya punya kelakuan kaya Anies Baswedan gitu lho. Banyak juga anak-anak dengan latar belakang yang terganggu (misalnya broken home, sering dipukul orang tuanya) juga patut mendapatkan perlakuan yang sama, walaupun manifestasi tindakan mereka mungkin berujung pada kenakalan remaja.  Yang begini2 itu harusnya diberdayakan sedemikian rupa, dikasih kesempatan untuk menyalurkan agresifitasnya di jalur yang benar yaitu tinju/MMA/karate/ dan sebagainya. Bukan tidak mungkin, bila agresifitas ini dikelola secara baik, Indonesia bisa melahirkan petarung2 berbakat yang mampu bersaing di kancah internasional. Jadi yang nakal-nakal gitu malah jangan dijauhin, tapi diberdayakan sehingga emosinya menjadi terarah.  Yang namanya guru kan emang tugasnya mendidik anak-anak yang nggak bener (secara ilmu atau perilaku), menjadi pribadi-pribadi  yang lebih pinter, tangguh, sportif, dan mampu menghargai orang lain. Menurut saya, pertarungan satu lawan satu, selain akan menurunkan jumlah korban bullying,  jelas akan menggugah rasa persaingan, percaya diri, jiwa sportifitas, dan punya efek jangka panjang yang cukup penting.

Tapi, bagi saya pribadi, ada satu topik bully yang sangat susah untuk dihilangkan dari muka bumi (dan masih jadi topik bully favorit saya), soalnya terlalu bullyable....yaitu ngeceng2in jomblo yang putus gara2 LDR. Ouch! Hahahaha.

Sekian.

Kalau ada yang mau komentar atau kasih ide/solusi/perspektif, dipersilakan. ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s