Bullying juga terjadi di Jepang, negara yang sangat mengedepankan harmoni antara manusia dan alam, ternyata tidak bisa lepas dari fenomena ini. Kemarin saya sempat nonton film dokumenter ttg seorang anak bernama Masaya Shinohara, anak kelas 3 SMP, yang bunuh diri di toilet rumahnya gara2 nggak kuat di-bully oleh temen sekelasnya (https://www.youtube.com/watch?v=XNRwCcLjo3I). Temen2 sekelasnya sih tau kalau di bocah ini di-bully, tapi mereka nggak mau ngebelain dan nggak ngelakuin apa2 ngelihat temennya dianiaya gitu. Akhirnya, dua hari setelah trip sekolah, dia kirim email terima kasih dan minta maaf ke temennya, terus bunuh diri. Ngeri banget ya…

bully 2

Jepang adalah salah satu negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia, dan penyebab kematian tertinggi pada umur 15-39 tahun. Statistik pemerintah menunjukkan bahwa ada total 18.000 anak di bawah 18 tahun yang bunuh diri antara rentang waktu 1972-2003. Di Jepang, ada satu tanggal yang jadi favorit untuk bunuh diri, yaitu tanggal 1 September. Kenapa tanggal itu bisa jadi populer banget? Gara-gara tanggal itu adalah hari pertama anak2 untuk masuk sekolah setelah liburan musim panas. Stres berat langsung melanda mereka begitu liburan usai karena mereka harus menghadapi situasi yang sangat tidak mengenakkan di sekolah. Alhasil, mereka pun memilih untuk mengakhiri hidupnya dibandingkan harus pergi ke sekolah. Nggak ada tuh di pikiran bahwa mereka sebenarnya bisa aja membolos buat menghindari bully-an di sekolah.

Situasi ini diperparah dengan cara pikir kolektif yang dianut oleh masyarakat Jepang. Mereka terbiasa untuk berpikiran secara seragam, sehingga bila ada orang yang berpikiran berbeda atau tidak bisa mengikuti aturan/ norma kelompok tersebut. Maka mereka akan dikucilkan atau di-bully. Salah satu siswa yang diinterview oleh CNN, Nanae Munemasa, mengatakan ,“You are required to have a unified opinion, and it crushes the uniqueness every person has. But that uniqueness is not something to destroy.” 

Di Jepang, bullying yang disebut ijime, secara definisi punya makna tersendiri dibandingkan bullying di negara barat (yang biasanya berakar pada “siksaan” psikologis yang bisa terkait / tidak terkait dengan kekerasan). Sekitar 80% bullying oleh anak2 sekolah di Jepang dilakukan secara kolektif, artinya bisa satu kelas lawan satu orang, dan 90% kasusnya sedang berlangsung, dan bertahan lebih dari 1 minggu. Susah banget nggak sih harus bertahan dalam tatanan norma masyarakat yang seperti ini. Padahal kan, tiap orang dilahirkan dengan kondisinya masing2, berkembang dengan pola pikirnya dan latar belakang yang berbeda, sedih banget rasanya kalau berada di posisi korban.

Fenomena ini adalah hal yang banyak terjadi di seluruh dunia. Di UK, ada 1,5 juta anak muda (50%) yang mengalami pem-bully-an dan hampir sekitar 19% nya di-bully tiap hari. Yang lebih mencemaskan adalah lebih dari 40% orang yang di-bully mengalami depresi + social anxiety dan ada 33% yang berpikiran untuk bunuh diri. Di sekolah2 di Amerika, angka2 yang memprihatinkan juga muncul, lebih serem malahan.

Kondisi ini juga pasti banyak terjadi di Indonesia, lah saya korban ini lho, hahaha. Berarti banyak di luar sana yang pasti juga mendapatkan perlakuan seperti apa yang saya alami. Data dari Global School-based Student Health Survey (GSHS), atau survei kesehatan global berbasis sekolah, pada 2007 sekitar 40% murid berusia 13-15 tahun di Indonesia melaporkan telah diserang secara fisik selama 12 bulan terakhir di sekolah mereka. Setengah dari anak2 yang disurvei melaporkan telah mengalami bully di sekolah. Ini data yang keluar tahun 2007 lho, dengan perkembangan internet dan tontonan televisi yang semakin menunjukkan mengumbar sisi agresif, tidak heran bila angkanya mungkin sudah melonjak daripada sebelumnya.

Angkanya makin lama makin mengkhawatirkan deh kayanya. Saya nggak berpikiran kalau angka ini bakal semakin menurun di masa depan. Dengan mudahnya ekspos anak2 terhadap hal-hal yang berbau kekerasan, maka mereka yang berada di usia2 akil baliq, jelas akan dengan mudah meniru apa yang mereka lihat di televisi, facebook, youtube, dan berbagai sumber lainnya.

 

Sumber:

http://edition.cnn.com/2015/09/01/asia/japan-teen-suicides/index.html?sr=cnnitw

http://nobullying.com/bullying-statistics-2014/

On Being Bullied in Japan

http://kabar24.bisnis.com/read/20150226/19/406778/pbb-40-anak-indonesia-jadi-korban-bully-di-sekolah

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s