bullying-fight-funny-haha-hell-yeah-Favim.com-197349

Kadang2 saya sama Nesya suka test case utk kejadian2 yang mungkin bakal dialami sama si bocah nantinya. Salah satu yang kami perbincangkan adalah soal gimana kalau anak kita jadi tukang bully atau malah jadi korban bully. Agak susah untuk menformulasikan sikap yang tepat bila bertemu dengan situasi seperti itu. Tapi, mungkin beberapa pemikiran ini bisa jadi pertimbangan lah. Mungkin bisa banyak salahnya karena cuma opini berdasarkan imajinasi belaka, bukan pengalaman nyata. Hahaha.

Sebenarnya solusi untuk bullying ada di orangtua sih kalau menurut saya. Identifikasi perubahan sikap adalah skill paling krusial yang mutlak untuk dikuasai. Korban bullying pasti akan menunjukkan perubahan perilaku yang sangat kentara. Dia yang biasanya ceria, trus mendadak jadi murung, stres, sering berdiam diri, dll. Interaksi orangtua dengan anak wajib untuk terus dibangun. Kita jadi lebih gampang untuk menyadari perubahan2 yang ada dalam diri si bocah. Kalau semisal tidak pernah berinteraksi ya bakal susah untuk tahu perasaan sebenarnya dari si bocah. Jangan sampai terlambat untuk mengidentifikasi karena efek destruksinya lama2 akan semakin besar kalau tidak ditangani sejak awal.

Nah, setelah bisa mengidentifikasi perubahan situasi psikologis dan perilaku si bocah. Mereka harus diajarkan bagaimana bisa bersikap bila ada teman yang berbuat tidak baik kepada dia. Kita kasih contoh aja beberapa contoh perlakuan dimana dia harus berani untuk mengambil tindakan, misalnya kalau dilecehkan, dihina secara fisik, dipukul, diintimidasi, diperas, dan berbagai macam lainnya.  Diam saja dan membiarkan itu berlalu, sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Malah, kalau si bocah nggak bisa menyelesaikan periode tersebut, dia bakal kebayang2 dan dihantui rasa penyesalan di masa depan.

Maka dari itu, berani melawan si pem-bully adalah sikap yang harus ditanamkan sejak dini. Jangan mau dilecehkan gitu lho. Tapi tentu nggak serta merta si bocah harus langsung membalas bila dia kena bully, ungkapkan aja ketidaksukaan kita terhadap perlakuan orang lain itu. Kalau kita nggak pernah berani berkata dan hanya menerima perlakuan mereka, ya pasti mereka bakal terus-terusan menindas. Kalau semisal sudah diberi peringatan sebanyak 3x tetapi perlakuannya tetep nggak mengenakkan, ya saya sih membolehkan kekerasan fisik, hahaha. Ya, gimana lagi. Itu adalah satu2nya cara untuk menumbuhkan percaya diri dalam diri si bocah. Saya kan nggak mau si bocah terus2an jadi pecundang yang diolok2 temen2 sekolahnya.

Nah, sebagai orangtua, jangan terlalu ikut campur urusan si bocah. Yang kaya2 gini harus mampu dilewati oleh si bocah seorang diri, tentu orangtua harus ngasih ilmu dan dorongan, tapi saya sih nggak menyarankan untuk si orangtua terus datang ke sekolah, lapor sama gurunya, dll. Kenapa nggak boleh gitu? Memang, si bocah nggak bakal di-bully lagi, tapi dia jadi nggak punya rasa bangga untuk bisa mempertahankan dirinya sendiri. Menurut saya, itu bakal melukai dia secara psikologis sih. Dia bakal terus2an merasa kalau dirinya adalah bocah yang cupu. Dia malah akan merasa dilecehkan oleh tindakan kita yang melaporkan kejadian itu ke pihak sekolah. Padahal di usia2 pemberontakan seperti itu, dipandang berani oleh teman2 sebayanya adalah perasaan yang tidak ternilai harganya. Kayanya bakal lebih nempel di ingatan, kalau si bocah pernah dengan gagah berani melawan orang2 yang semena2 dengan dia. Hahaha. Kalau di komik2, semisal si bocah pulang babak belur gara2 berkelahi sama temennya (misalnya kejadian di komik Kenji), si bocah malah mendapatkan respect dari orang2  terdekatnya gara-gara keberaniannya untuk melawan. Jangan pulang2 malah dimarahi gara2 berantem sama temennya. Luka fisik itu lebih mudah disembuhkan dibandingkan trauma psikologis. Asal masih dalam koridor yang aman (nggak pake senjata tajam, terus satu lawan satu), berantem mah boleh2 aja.

Oh iya, salah satu bentuk bully adalah dijauhi/diabaikan oleh teman2nya. Kalau semisal si bocah mengalami perlakuan kaya gini. Kasih aja pemahaman kalau dia itu sebagai manusia emang harus bisa berdiri sendiri. Asal dia nggak melakukan hal-hal yang merugikan. Nggak jadi masalah kalau misalnya nggak diterima oleh sebagian besar teman di kelas, misalnya gara2 kutu buku, seleranya aneh, pemikirannya yang nyentrik. Nggak jadi soal kok untuk punya keunikan sendiri. Toh, di antara mereka masak nggak ada yang punya karakteristik yang sama kaya si bocah. Agak nggak mungkin sih. Tapi, emang harus dipesankan bahwa diterima oleh kelompok itu bukanlah suatu kewajiban yang mutlak untuk didapatkan. Selama kamu yakin bahwa apa yang kamu lakuin itu adalah hal yang benar dan nggak menganggu orang lain. Nggak ada salahnya jadi orang yang berprinsip mah.

Lagian, mayoritas itu belum tentu benar juga kok, di dunia nyata ada banyak kejadian dimana kita dikucilkan gara2 nggak mau ikut dalam korupsi berjamaah (misalnya). Kalau saya, mending punya segelintir sahabat yang bisa jalan bareng dalam suka dan duka plus punya pengaruh yang positif dibandingkan punya banyak teman, tapi kampret semua (cuma mau deket pas seneng2nya aja atau cuma kasih influence yang negatif).Punya pendirian dan idealisme tu kadang2 emang nggak terlalu banyak temennya, hahaha. Harus nemuin linkungan yang tepat untuk bisa berkembang jadi seorang manusia dan kadang2 itu nggak ditemukan di lingkup sekolah. Jadi, ya kalau di sekolah kamu nggak banyak temennya gara2 terlalu pinter terus punya hobi yang ngebuat kamu jadi jauh sama temen2 mu, ya udah lakuin aja. Nggak usah peduliin apa kata orang. Gitu aja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s