Kemarin, saya iseng liat video di youtube ttg macam2 diet. Tapi ketipu. Ternyata isinya adalah video si youtuber lagi enak2nya makan ayam KFC. Agak lebay sih videonya, tapi bagi saya yang seorang  kulit-ayam-crispy-junkie, video kaya gitu adlh godaan paling berat yg ada di muka bumi. Masalahnya, harga KFC di sini lumayan mahal e, daripada beli ayam di KFC mending beli daging ayam halal malah bisa dapet 2 kg. Tapi kan nggak kriuk pink? Ya iya sih. (Piye sih? ra jelas…)

Saya nggak ngerti kenapa kulit ayam KFC seolah menjadi primadona beberapa tahun belakangan. Padahal, dulu, waktu saya masih rajin menyambangi KFC tiap hari (bukan gara2 banyak duit, tapi ditraktir oleh bos besar, hahaha) kulit ayam nya nggak istimewa2 banget lho. Biasa aja gitu rasanya. Nah, makin ke sini, kayanya kulit ayam KFC jadi barang yang sangat amat berharga untuk dimakan terakhir kali. Mungkin, barang ini udah bisa dikategorikan sbg lirik pengganti lagu Keluarga Cemara. Mereka kan bilang, “Harta yang paling berharga adalah keluarga” Nah, kalau sekarang, “Harta yang paling berharga adalah kulit ayam KFC!” Oh mennn.

Bahkan, kulit ayam ini sudah bisa menimbulkan percekcokan tanpa akhir dengan teman. Udah susah-susah menjalankan peribahasa “Save the best for last”. Eh, meleng dikit aja, bisa diambil sama bangku sebelah. Ibarat kalau ngejar cewek, udah berbulan-bulan pedekat, tapi di detik2 terakhir penembakan, malah jadian sama sohib sendiri. Sakit men rasanya. Sakit. Jelas ngamuknya bisa berkepanjangan kalau sampai  kejadian ini menimpa saya.

Nah, untungnya si Nesya nggak suka kulit ayam, jadi kalau makan KFC, pasti kulitnya dihibahkan secara sukarela. “Nih pink buat kamu aja..” Sungguh istri yang sangat dermawan sekali. Kalau tak pikir2, ini bisa jadi tambahan kriteria lho buat memilih istri idaman. Pilihlah istri yang nggak doyan makan kulit ayam KFC. Jadi, kita bisa dapet jatah double. Ah, indah sekali rasanya. Harusnya dulu, seserahannya juga se-bucket ayam KFC aja ya, biar agak anti-mainstream gitu lho. “Saya terima nikahnya, putra bapak, Adrian(i/a) Netiasa Suary, dengan se-bucket ayam KFC, dibayar tunai. Saya akan mencintai putri bapak dalam suka dan duka, dalam sehat maupun sakit, seperti saya mencintai kulit ayam KFC. ” Waaaaaaaaaa…romantis sekali.

Tapi taukah kalian, makanan apa yang sama laknatnya seperti kulit ayam KFC? Yak, itu adalah gorengan pinggir jalan. Oh meeennnn. Coba bayangin, tempe mendoan digoreng pake minyak jelantah lengkap dng plastiknya, ditambah dengan asap knalpot kopaja plus bumbu debu-debu bertebaran yang dicemplungin pake tangan-tangan penjual gorengan yang habis garuk-garuk pantat. Ohhhhh. Itu kenikmatan yang tiada tara. It`s heaven on earth banget lah pokoknya.

Jadi inget kebiasaan pas dulu koas di Banyumas. Kebetulan saya punya partner in crime dalam jajan gorengan,  nama Rachmat Ansyori. Kemanapun kami pergi stase luar kota, hal pertama yang bakal dicari adalah warung penjual gorengan! Wajib hukumnya! Tidak boleh terlewat! Sama sekali tidak menjunjung tinggi etika mahasiswa kedokteran Indonesia utk mendukung makanan sehat. Ckckckck. Ngawur.

Tiap sore, habis pulang dari poli. Dalam perjalanan ke asrama, kami bakal melewati tukang gorengan. Karena di Banyumas, maka yang jadi idola adalah tempe mendoan. Duh, rasanya masih inget banget kenangan indah makan tempe mendoan yang sangat semlohai, ginuk-ginuk, panas-panas klomoh. Apalagi ditambah dengan saos kacang yang dipake buat soto sokaraja. Ajegileeeeee… Biasanya, kami beli 10 ribu, ya dapet 10 biji. Dibagi dua, 5 tempe habis dalam 15 menit lah kira-kira. Sungguh laknat kau tempe mendoan!

Tapi tenang, kebiasaan itu sudah lama saya tinggalkan. Sadar bahwa sebagai seorang dokter maka harus memberikan suri tauladan yang baik pada pasien, maka saya selalu memberikan edukasi paling brilian di muka bumi. “Bapak, mohon hidup sehat ya, kurangi makan gorengan, perbanyak olahraga minimal 30 menit tiap hari 5x seminggu, banyak makan sayur dan minum air putih supaya panjang umur.” Dokter teladan banget. Ahe!

Nasihat tersebut berusaha untuk saya terapkan setiap hari, malu dong, masak dokternya omdo. Biasanya, sesampainya di rumah, pasti langsung kepikiran “Ah, jogging dulu ah biar ngasih contoh yang baik buat pasien-pasien. Lhooooooo, tapi kok nggak punya kaos kaki? Wah, batal aja deh joggingnya. Besok aja, lagian mau hujan, nggak enak buat olahraga” Lalu, copot kaos, nyalain kipas angin, buka youtube sambil tiduran, trus manggil Nesya, “Nesssss….mendoanku dipanasin yaaaaa…” Krauk!

Moral of the story: Nggak ada. Hahahaha. Tapi, kalau jadi pasien, jangan mau disuruh diet kalau dokternya juga gendut plus mengidap adiksi thdp gorengan. Semena-mena banget. Enak di dia, nggak enak di gw gara2 suruh diet. Wek!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s