Sore ini, saya tiba-tiba berpikir, kenapa ya orang nggak pernah mau menerima kejelekan orang lain dan hanya mau menerima hal-hal yang baik aja dari teman2/kerabat2nya? Padahal yang namanya manusia kan pasti satu paket, ada sifat yang baik ada sifat yang buruk.

Kadang,begitu tau ada sifat yang buruk langsung dicap jelek, dijauhin dan nggak dianggep temen lagi. Bisa aja gitu, semua kebaikan yang pernah dia lakukan, mendadak hilang tanpa bekas begitu dia ngelakuin hal yang tidak sesuai dng norma/pandangan kita. Padahal kan ya, nggak boleh kaya gitu. Wong kita pasti juga punya kejelekan atau kesalahan yang pingin dipahami oleh orang lain kan? Nggak bisa kita terus  jadi orang yang selamanya baik, pasti ada satu noment dimana kita bikin tindakan yang kurang tepat dan nggak adil banget kalau perspektif kita langsung berubah 180 derajat gara2 kejadian itu.

Alhasil, makin dewasa, kita makin terbiasa utk tidak jujur terhadap diri kita. Banyak ketakutan yang muncul kalau semisal kita menunjukkan sikap asli kita, bakal banyak yg mungkin menjauhi, menentang, mencibir dan berbagai macam bentuk pengabaian lainnya. Kita mungkin sebegitu takutnya utk bisa menunjukkan pemikiran, prefensi, opini thdp sesuatu karena kita takut utk menjadi berbeda dengan kebanyakan.

Kalau mau memperlihatkan pemikiran atau yang sifat yang “kontroversial” pasti akan langsung muncul simulasi2 reaksi yang bakal diterima dari lingkungan. Terus takut, terus pura2 lagi deh. Gitu aja terus siklusnya. Menyiksa lho yang kaya gini. Saya sering kasian sama temen2 yang selalu nolong orang lain, membantu tanpa pamrih, tapi langsung dikucilkan dari pergaulan gara2 mereka ngaku kalau mereka LGBT. Atau semisal ada seorang wanita yang sangat amat perhatian sama anak2nya, tapi dia harus kerja jadi PSK gara2 ditinggal selingkuh sama suaminya dan kita bisa dengan enaknya menjudge bahwa wanita itu adalah wanita yang nggak baik. Nggak juga kan? Sampai kapan gitu lho, kita mau jadi orang2 ciprik yang selalu ngelihat orang lain dari apa preferensi seksualnya, pekerjaannya, agama, dll. Padahal kemuliaan kita sbg manusia kan tidak bisa diukur dari hal2 tersebut.

Saya kadang-kadang iri dengan beberapa teman yang bisa selalu jujur terhadap apa yang ada di kepalanya. Misalnya salah satu senior di SMA, dia selalu bilang dirinya adalah katholik yang sesat. Saya kurang lebih  juga punya pemikiran yang sama, bisa memahami apa yang dia pikirkan. Tapi berapa orang yang kemudian men-judge dia berdasarkan apa yang dia tulis? Banyak pihak yang (mungkin) memperlakukan dia bukan sbg orang katholik, tanpa pernah memahami apa maksud dibalik kalimat tersebut. Apakah dia nggak takut karena tidak diterima oleh lingkungannya? Menurut saya, kok dia lebih bahagia karena jujur pada dirinya sendiri, dibandingkan harus berpura-pura untuk menyenangkan orang lain.

Kapan ya bisa kaya gitu? ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s