Malam ini saya baru saja ngobrol2 cantik sama Nesya, ngomongin tentang tipe2 kecerdasan yang dipunyai manusia. Menurut sumber yang saya baca, ada 9 tipe kecerdasan manusia dan salah satunya adalah intellegence of word.

Menulis bagi saya sejak jaman SMA sudah mjd semacam hipnoterapi. Dulu saya sering merasa kalau pada saat menulis saya tidak berada dalam kondisi sadar atau mngkn malah “trans”. Sering sekali saya menulis tanpa berpikir sama sekali dan baru mengetahui apa yang saya tulis pada saat membaca ulang. Saat itu, menulis adalah sane-keeper yang sangat ampuh. Di saat pikiran super amburadul dan nggak ada orang yang bisa memahami, maka menulis adalah jalan keluar satu satunya yang bisa diambil sebagai pemecahan masalah.

Saya masih ingat dulu pas SMA, saya pernah menang lomba essay yang diadain oleh majalah HAI. Dapet duit 300 ribu, tapi hadiahnya disunat oleh beberapa teman buat beli ombe2an, hahaha. Aseng juga. Tapi nggak papalah, itu pertama kalinya saya nulis dan bisa dapet uang. Dan lumayan senang sih. Lupa duitnya buat apa pas itu. Kayanya cuma disimpen aja, nggak punya pacar pas itu ^^

Yang lebih membanggakan pada saat SMA adalah saya berhasil memperoleh nilai 9 pada karya tulis ilmiah kelas 2. Padahal saat itu pembimbingnya adalah pak Agus Prih, yang notabene lumayan killer dalam ngasih nilai. KTI saya saat itu adalah menyoal feminisme dalam novel2nya Djenar Maesa Ayu, seperti Nayla atau Jangan Main2 dng kelaminmu.Wangun yo, hahaha.

Semakin ke sini, saya semakin suka dengan menulis. Nggak tau. Rasanya asik aja gitu bisa menuangkan isi kepala yang kadang aneh-aneh nggak jelas ke dalam suatu bentuk yang bisa dinikmati. Semakin sering nulis, secara nggak sadar, saya makin bisa berpikir secara sistematis, runtut, dan logis. Suatu hal yang belum bisa saya lakukan dengan baik dalam bentuk lisan.Lambat laun, skill ini (mnrt saya) mjd semakin matang karena saya lalu tahu bagaimana mengkritisi atau menilai tulisan2 yang terkadang idenya suka loncat2, nggak runut dalam memberikan penjelasan, dll.

Bagi saya, menulis adalah suatu bentuk mengejar keabadian, hahaha. Kayanya konsep imortal itu seru aja gitu, walaupun hanya dalam bentuk ide. Sering kita lihat dalil2/teori yg sudah beratus2 tahun lamanya masih bisa diserap dan diajarkan sampai sekarang.

Bagi saya, cara orang menikmati tulisan tidak akan berubah sampai kapanpun, mungkin hanya media penyampaiannya saja yang berbeda, kalau dulu di papirus, sekarang ada di internet, dll. Tapi, tulisan pasti akan menimbulkan imajinasi dari pembaca, sesuatu yang menurut saya tidak bisa tergantikan oleh media apapun karena pada dasarnya imajinasi seseorang sangatlah otentik dan tanpa batas. Itulah yang membuat tulisan menjadi semacam candu bagi mereka2 yang suka membaca.Alasan inilah yang menyebabkan kenapa novel selalu lebih menarik dibandingkan filmnya.

Selain itu, menulis adalah salah satu cara untuk mendokumentasikan transformasi yang terjadi dalam kepala saya dari sejak jaman sekolah sampai saat sekarang. Kadang, saya suka membaca tulisan2 jaman dulu, sering sekali saya merasa malu sendiri karena kok ya bisa mikir kaya gitu jaman dulu. Aneh banget ngono lho. Saya seperti melihat album foto tapi dengan visualisasi yang lebih dahsyat aja.

Bukan itu saja, pergeseran pemahaman akan nilai-nilai juga bisa tersadari secara penuh kalau kita terbiasa untuk menulis.Saya sering membayangkan, alangkah kayanya pengetahuan kita kalau dari jaman dulu eyang-eyang rajin menuliskan pengalaman2nya dan dikumpulkan dalam bentuk buku. Mungkin anak cucunya akan punya buku pedoman yang jelas gimana cara mendidik anak, nilai-nilai apa yang harus dipertahankan dalam hidup, dan sebagainya. Menurut saya, value-value yang dipunyai eyang2 kita itu sangat amat masih kontekstual untuk dilakukan di jaman sekarang. Tapi selama ini kan, kita lebih sering menerima pelajaran itu dalam bentuk penuturan, tapi kalau hanya dalam bentuk lisan, berapa persen ide itu tersampaikan 100%? Mungkin tiap generasi, 20% nya akan hilang. Lah, nilai2 leluhur yang baik itu akan hilang setelah generasi kelima dong. Kan sayang banget gitu jadinya.

Seru banget kayanya kalau ada buku pedoman ttg soft skill atau hal2 yang sering terjadi dalam hidup, misalnya gimana caranya menghadapi tetangga yang suka utang, gimana caranya balas dendam sama emak2 arisan yang sukanya gosipan, gimana caranya ciuman yang hot, atau kapan sebaiknya mulai mengenalkan pacar ke keluarga, dll. Kan lucu gitu. Kita nggak usah susah2 memikirkan dan menerka2 apa yang harus dilakukan. Paling enggak, kita punya alternatif pemikiran dari para pendahulu. Ada cara pandang yang bisa menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan gitu lho,, nggak melulu harus mengalami pencarian2 yang kadang melelahkan dan membuat kita salah langkah. Walaupun, sgt besar kemungkinannya utk digunakan krn perbedaan jaman sih,hahaha.

Ya gitulah, saya pingin punya buat buku panduan gimana cara menaklukkan wanita, step by step memutuskan utk menikah, cara menjalani pernikahan, cara mendidik anak, dll. Semacam buku kecil yang mungkin bakal diwariskan sampai generasi ke generasi. Hahaha.

Smg tulisan ini bisa mengawali semuanya karena saya percaya bahwa nilai-nilai kebaikan belum saatnya untuk dimuseumkan dan masih layak untuk dilestarikan.

^^Y

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s