Kemarin Sabtu, rumah ane kedatengan salah satu temen omong kosong di sini, di tengah kejombloan lokal-nya yang akut gara-gara ditinggal pulang ke Indonesia oleh pacar kesayangan. Episode terakhir ngobrol omong kosong, kita baru tidur jam 4 pagi. Entah ngobrolin apa saat itu, namanya juga omong kosong.

Dalam oborolan kemarin, ternyata ane baru tau kalau dia adalah salah satu penggemar Mario Teguh. Hahaha. Terus gara-gara penasaran, ane tanya “Kalau dia kena kasus kaya sekarang, lu masih mau dengerin nggak?” Dijawablah, “Ya, tergantung kasusnya kaya apa dulu nih jadinya, makanya gw ngikutin terus biar tau gimana benernya. Tapi suka nggak suka, kasusnya dia sekarang cukup mempengaruhi juga sih. Kaya nggak konsisten gitu antara ucapan dan perbuatan.”

Gara-gara jawaban dia, ane pun berpikir. Kebenaran suatu ucapan seharusnya punya tembok pemisah yang cukup jelas dengan si pengucap. Kalau dalam kasus Mario Teguh, apa yang dia refleksikan terus dia jual dalam bentuk kalimat-kalimat motivasi kan harusnya nggak ada urusannya sama kelakuan dia di masa lalu. Ibaratnya, nggak ada yang salah dengan kalimat-kalimat motivasional tersebut, selama orang menyakini bahwa itu adalah yang benar. Harusnya sih kasusnya nggak punya efek terhadap kebenaran ucapannya. Judgement terhadap kelakuannya adalah urusan lain lagi.

Menurut saya, urusan pribadinya bukanlah suatu komponen untuk bisa menilai omongannya. Tapi biasanya kita menilai omongan dari siapa yg ngomong. Padahal yang penting utk dikritisi adalah ISI OMONGANNYA. Sering banget kita cuma manut-manut aja asal yang ngomong pemuka agama, orang kaya, pejabat, senior, dll, pokoknya orang yg dirasa “lebih”, pasti langsung percaya tanpa pernah mau mengkritisi apa yang diomongkan. Padahal yg mereka omongkan belum tentu benar juga. Otak kita kaya mati nggak bisa mikir kalau berhadapan dng situasi kaya gitu. Jadi sering bgt kaya kebo yg dicucuk terus digiring kesana kemari.

Nah situasi lainnya adalah, gara-gara sering ngelihat dulu SIAPA yg ngomong, maka nggak jarang ide-ide brilian dari mereka yg umurnya lebih muda sering sekali mentah bila diusulkan kepada awak senior. Langsung dilepeh nggak diperhatikan, padahal secara isi mungkin lebih inovatif, kontsruktif. Sayang bgt sebenernya gara2 banyak org2 tua yg sombong, arogan, dan egois shng stagnasi adlh hal yg tidak terelakkan lagi.

Selama ikut2an ubyang ubyung di sini, saya bnyk berhubungan dng temen2 yg lebih muda. Tapi, sebisa mungkin, ane menempatkan diri utk nggak tll pingin selalu bener, dengerin aja apa yg mereka omongin. Kalau omongannya bener ya diikutin kalau ternyata nggak efektif ya pake cara yg udah dipikirin sblmnya.

Tapi, ini semua saya bilang hanya sbg pencitraan belaka. Kalau nggak menekankan bahwa yg penting utk diperhatiin adlh ISI omongannya, bukan SIAPA yg ngomong. Bisa2 pasien2 nggak bakal percaya sama anjuran ane buat olahraga sama diet, lah dokternya aje gendut. Nyahahaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s