Salah satu kegemaran saya tiap hari Senen pagi adalah ndengerin podcastnya-Adriano Qalbi yg judulnya Podcast Awal Minggu. Minggu kmrn, saya pun iseng-iseng utk kirim email pertanyaan. Saya tanya, “Kalo lu punya anak kira2 bakal bikin anak lu jadi straight A student atau jadi bandel aja?”

Setelah kirim pertanyaan itu, saya pun jadi mikir sendiri. Saya jadi inget perbincangan dengan tetangga sebelah rumah beberapa waktu lalu. Dia banyak cerita kalau pas SMP sama SMA, dia nakalnya minta ampun. Pernah bikin nangis guru, ngejeblukin pilok di kelas, playboy kabel paling yahud dan berbagai macam kenakalan lainnya. Dia punya prinsip, boleh kismin, tapi jangan kalah pinter sama yang kaya.  Anehnya (atau hebatnya? Hahaha), dia bisa jadi dosen di ITB tu lho. Edan tenan. Mantan anak bandel yang hobinya nge-bully orang (sampek sekarang sih…), bisa berhasil secara akademik. Pas ngedenger cerita-ceritanya dia, saya berasa jadi tipikal anak baik2 yang nggak pernah bikin onar, taat aturan, pokoknya ya manut-manut aja gitu lah, oh meenn…cupu banget…

Lain lagi sama temen sekelas saya , pernah pas kelas 1. Dia digebuk pake penggaris kayu sama guru gara-gara pas pelajaran dia ngantuk, terus tidur di lantai. Bayangkan, ngantuk, terus tidur aja gitu ndlosoran di lantai. Pas ketahuan sama gurunya, didatengin langsung dipukul. Kebetulan, saya duduk paling belakang dan sebelahan persis sama TKP Hahaha. Edan. Banyak juga kebandelan lainnya yang mungkin tidak terekam di ingatan saya. Tapi, dia sekarang jadi salah satu orang tersukses di angkatan, punya bisnis foto dan kuliner yang menggurita. Hebat banget.

Kadang-kadang saya jadi iri gitu sama mereka, bisa dapet banyak banget pengalaman selama masa sekolah yang bisa diceritakan di masa-masa setelahnya. Menurut ane, bandel pada masanya adalah sebuah keharusan. Spektrum kenakalannya bisa berbeda tiap-tiap orang. Pas SMA, ada yang nakal dengan  mbolosan, misuhi guru soale gurune ra mutu, diusir dari kelas, tidur, malak temen, dll. Ada juga yang mungkin secara tindakan terlihat nggak terlalu bandel, tapi dari segi pemikiran rebel-nya luar biasa.

Nah, tapi masalahnya adalah sekolah-sekolah di Indonesia ini nggak pernah mau memfasilitasi orang-orang yang dianggap “bandel”. Mereka pokoknya menjunjung tinggi mitos bahwa tiap anak itu harus berkembang jadi “anak baik2”. Indikatornya apa? Ya, dia nggak banyak ngelawan dan punya nilai akademis yang bagus. Disuruh ini manut, disuruh itu ngikut. Padahal, anak2 yang dianggap “bandel” itu kadang2 punya pemikiran alternatif yang tidak sesuai dengan pemikiran orang kebanyakan. Mereka malah punya daya kreatifitas dan eksplorasi yang lebih bagus dibandingkan anak baik2. Ya, walaupun kadang2 bisa juga terjerumus ke hal-hal yang nggak bener juga sih.

Lagipula,  anak bandel pada masa sekolah kan banyak sebabnya, bisa aja keluarganya broken home, mengalami kekerasan fisik/seksual di keluarganya, dan berbagai macam sebab lainnya. Kalau anak SMP sama SMA tawuran yo wajar, malah yang kaya gitu kan harusnya disalurkan to? Misalnya aja bikin pertandingan perkelahian resmi antar sekolah. Lumayan bisa kaya mixed martial art gitu kan, 5 vs 5. Ada arena pertandingannya, ada wasitnya, ada peralatan untuk melindungi diri. Kan seru dan malah aman. Lah, tapi sering banget kalau tawuran ya solusinya biasanya adalah dinasehati. Yo nggak masyuk lahhhh. Nggak masuk akal banget gitu kalau penawaran solusinya kaya gitu. Nah, kalau ada anak yang ternyata punya pemikiran yang rebel, ya diajak diskusi atau berdebat aja gimana dampak pemikirannya terhadap pergaulannya di masyarakat. Gitu kan jadi lebih terarah sebenernya.

Tapi ya itu, saya kira guru-guru juga nggak siap untuk memfasilitasi kebandelan-kebandelan remaja macam ini. Mungkin beban hidupnya juga udah terlalu banyak, gajinya kecil, sering dieyeli sama murid2nya, kerjaan kurikulum yang bejibun, sehingga mereka pun pingin anak2 didiknya jadi yang baik2 aja. Nggak usah nambahin masalah hidup mereka dengan tindakan-tindakan yang nggak mutu macam itu. Atau mungkin guru-gurunya juga produk anak baik2 sehingga mereka nggak punya pengalaman untuk menangani masalah2 beginian. Mereka nggak akan pernah bisa memahami mendidik anak seperti Awkarin atau Young Lex gara-gara mereka nggak pernah mengalami apa yang mereka lakukan.

Intinya sebenernya adalah biarin aja si anak ini bisa mengeksplorasi segala pengalaman yang bisa didapat sesuai dengan masanya. Kamu nggak bisa lho tawuran-tawuran pada saat umur 30 tahun gitu, udah kerja, punya anak terus masih hobi tawuran. “Eh eh, lu udah siap-siap bawa rantai sepeda kan? Anak perusahaan sebelah ngajakin tawuran nih, nyebelin banget. Nggak terima gw dikatain kaya kemarin mah. Pokoknya nanti bolos kerja aja deh terus kumpul di perempatan belakang kantor” Kan nggak mungkin juga gitu lho. Bakal aneh.  Atau semisal kamu nonton bokep bareng-bareng sama temen rame2an pas umur 35 tahun, kan nggak mungkin. Ya, kalau umur2 35 mah palingan borongan ke tukang pijet plus-plus. Nggak bisa juga lho, kamu di umur segitu bolos kerja buat sekedar nongkrong2 di cafe atau game centre. Jadi ya, jangan sampai kehilangan pengalaman sesuai dengan masanya lah.

Sebenernya yang juga perlu ditekankan adalah konsep kebebasan yang bertanggung jawab. Nah, masalahnya, anak2 di seumuran sekolah juga mungkin nggak mengenal konsep “sembodo”. Mereka sering nggak sadar bahwa kebebasan yang kamu dapatkan itu, harus juga dipertanggungjawabkan di hal lainnya, dalam hal ini yo nilai akademis. Mereka sering nggak tau bahwa dalam tiap tindakan akan ada konsekuensi yang menyertainya, kalau tawuran ya konsekuensinya kepala bisa bocor, kalau sibuk nge-game tapi lupa belajar ya bisa nggak naek kelas. Mereka mengira kalau saya udah bandel yo brarti bandel aja gitu, nggak harus melakukan hal lain untuk mengkomplementari hal tersebut.

Kalau semisal kamu bandel tapi bodo ya kamu bakal dapet konsekuensi buat nggak naek kelas. Dua kali nggak naek kelas, berarti keluar dari sekolah. Kalau nggak gitu, apa bedanya kamu sama berandalan2 di tv yang pokoknya waton ngotot, tapi nggak disertai logika berpikir yang analitik, runut, sistematis. Pokoknya kalau bedo berarti harus diberantas. Masak yo kamu mau jadi orang-orang yang cekak pikir dan pendek sumbunya macam gitu. Ngisin-ngisini.

Saya jadi inget, dulu pas SMA kelas 1,  saya jadi ketua kelas dimana 14 dari 40 orang murid terpaksa nggak naik kelas. Hampir setengahnya nggak naek kelas. Tahun itu, mungkin total yang nggak naek kelas ada 30 orang kayanya seangkatan. Kejem banget? Ya emang gitu ajarannya. Oleh nakal tur sing sembodo.

Salam baper.

Terjemahan judul: Boleh nakal tapi harus bertanggung jawab.

Advertisements

One thought on “#13 Oleh Nakal tur Sing Sembodo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s