Disadari atau tidak, situasi sosial berubah secara drastis dalam 6 tahun terakhir. Dominasi sosial media yang begitu kencang telah berhasil mengubah tatanan interaksi masyarakat kita. Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa pengaruh sosmed (facebook, instragram, path, snapchat, twitter) sudah masuk ke alam bawah sadar kita. Tidak ada lagi kesadaran yang membuat kita bisa mengontrol perilaku untuk selalu mengecek timeline sosial media. Semua berjalan seperti tindakan yang otomatis, tanpa ada kemampuan untuk bisa menghentikan. Dimana pun, kapan pun, pasti selalu ada kegatelan tersendiri untuk melongok situasi sosial media kita. Entah itu membalas komen, mengecek likes/views, dan berbagai macam aktivitas menyenangkan lainnya yang tidak mungkin untuk dilewatkan.

Bagi saya pribadi, situasi akhir-akhir ini sudah terlalu membahayakan. Saya menyadari bahwa otomatisasi terhadap sosial media sudah mulai merengut banyak waktu. Ada sekian jam yang terbuang percuma hanya untuk berpindah dari satu sosial media ke sosial media yang lain. 15 menit pertama mengecek timeline facebook, 10 menit berikutnya mengecek timeline twitter, 10 menit kemudian beranjak ke instagram, 5 menit selanjutnya beralih ke path, lalu siklusnya berulang dari awal. Sadar nggak kalau hal pertama yang kita lakukan kalau bangun tidur adalah mengecek timeline facebook? Pas boker nunggu si uuk keluar, mesti selalu scrolling timeline twitter? Ada berapa banyak dari kita yang mengalami ini? Saya kira ada banyak orang yang juga merasakan hal yang sama seperti saya.

Padahal, diakui atau tidak, ada berapa banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari aktivitas seperti tersebut di atas?  Okelah, kita bisa memanfaatkan itu untuk bisa berkomunikasi dengan teman lama yang sudah sekian tahun tidak ketemu. Bisa tahu perkembangan ponakan2 yang lucu2 atau bayi2 kerabat yang baru saja lahir. Toh, sebenarnya tanpa harus tau dari sosial media pun, masih ada sarana komunikasi lain yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan ini. Apalagi selain itu? Oh, mungkin kita bisa jadi lebih update terhadap berita-berita terhangat, yang sebenarnya juga bisa diakses melalui website-website berita (tanpa harus melalui tautan yang disebarkan). Buat yang nggak menggantungkan mata pencahariannya dari sosial media, aktivitas-aktivitas di sosial media itu sebenarnya nggak penting-penting amat untuk dilakukan. Malah, akhir-akhir ini, postingan mengenai SARA bisa membuat silaturahmi yang tadinya adem ayem malah jadi amburadul nggak karuan. Kalau gitu, apa dong yang bisa ditawarkan lewat sosial media?

Saya berpikir cukup keras untuk bisa menemukan apa value yang bisa diambil dari sosial media yang saya punya. Nggggg…kayanya nggak ada hal lain yang bisa diperoleh deh. Coba kita telaah kerugian yang akan timbul. Berkurangnya waktu untuk bercengkrama dengan keluarga (anak, istri, orangtua), terbengkelainya pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya diselesaikan karena fokus yang berulangkali terdistraksi dengan pengecekan sosial media (oh mennn…gawat..), waktu untuk menambah skill melalui eksplorasi  lewat kegiatan2 yang bermanfaat pun menjadi berkurang, waktu yang sebenarnya bisa dipakai untuk membaca (berapa buku/jurnal/artikel produktif yang sudah dibaca bulan ini?) habis tanpa bersisa untuk aktivitas-aktivitas yang sifatnya hanya sementara.

Selain itu, social comparison, yang merupakan insting dasar manusia untuk bisa terus mengevaluasi diri menjadi lebih baik, akan tersedia dalam hitungan detik. Ya, kalau perbandingan itu bisa selalu memicu diri kita untuk terus bergerak maju. Kalau enggak, yang ada malah semakin tidak puas terhadap apa yang dipunyai diri sendiri karena melihat betapa enaknya hidup orang lain, kok mereka bisa jalan-jalan ke luar negeri terus, dan berbagai macam hal-hal yang kelihatannya membahagiakan di kehidupan.Tau sendiri kan kalau banyak orang yang emang berniat (atau sebenarnya nggak berniat) untuk pamer lewat sosial medianya. Kita jadi kemudian menggerutu dan mengutuk Tuhan karena tidak memberikan kehidupan semenyenangkan yang teman-teman kita punya. Padahal, kita kan nggak pernah tau, bagaimana perjuangan mereka untuk bisa mencapai ke titik tersebut. Penelitian di University of Michigan menunjukkan bahwa makin banyak menggunakan Facebook maka level terhadap kepuasan hidup akan semakin berkurang. Mereka akan semakin merasa kesepian, depresi, stress, dan kepercayaan diri yang makin rendah.

Karena melihat situasi yang sudah semakin mengkhawatirkan, di penghujung tahun ini, saya menantang diri sendiri untuk keluar sementara dari sosial media dalam sebulan. Ada 3 sosial media yang sering saya buka: facebook, twitter, (kadang2) instagram. Line, whatsapp, dan facebook messenger akan tetap berjalan seperti biasa karena fungsinya jelas untuk komunikasi (dan saya nggak ada masalah dng hal2 itu). Oh satu lagi, youtube akan dibatasi cuma 1 jam setiap harinya (ini juga ngganggu nih). Jadi, tidak akan ada akses ke sosial media dan limitasi terhadap youtube sampai tahun baru. Saya penasaran berapa banyak buku/jurnal yang bisa saya baca dalam satu bulan, seberapa sering interaksi saya dengan Nesya akan meningkat, berapa banyak hal baru yang bisa saya pelajari dalam sebulan, berapa banyak waktu yang bisa saya habiskan untuk menulis/berefleksi atau memikirkan langkah-langkah yang harus ditempuh di masa depan. Saya nggak bisa memperkirakan luaran (outcome) yang akan terjadi selama experiment ini. Tapi, saya berharap menemukan hal-hal menarik yang bisa diceritakan sebagai cerita awal tahun. Cerita-cerita mengenai experiment ini akan secara berkala di update melalui blog ini atau akan saya jadikan dalam satu cerita pada awal tahun baru 2017.

Kalau ada yang mau melakukan experiment serupa, silakan membagi ceritanya. Embuh piye carane, mungkin ditulis di blog atau dimanapun. Ane pingin baca juga, hehehe.

Oke. Sampai jumpa gaes di awal tahun depan!

PS:
1. Kalau mau komen atau ngasih like di blog juga boleh lho. hahaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s