Minggu kemarin, saya nonton Black Mirror, film serial yang bercerita tentang efek kemajuan teknologi terhadap kondisi sosial masyarakat. Di episode 1, saya sudah terpana dengan ide ceritanya karena di film tersebut dikisahkan bahwa di masa depan, kita bakal dengan sangat mudah dijudge secara sosial. Jadi, tiap orang akan mempunyai rating dari 1-5 yang didapatkan dari interaksi mereka dengan orang-orang lain. Bila orang lain menilai bahwa image diri/kelakuan/kesan yang didapatkan setelah bertemu anda berakhir dengan baik, maka mereka akan memberi rate 5 pada anda. Hal sebaliknya juga berlaku bila org lain nggak suka dng apa yg dilakukan. Kita akan secara gamblang melihat nilai orang itu, misalnya Jalu ratenya 2,7. Dan kita akan dengan bebas memberikan penilaian real-time pada orang yang baru saja kita jumpai tersebut. Aneh banget ya sistemnya. Hanya dari impresi sesaat, kamu bisa menilai apakah orang itu berharga atau tidak. Selain itu, rate yang dipunyai seseorang akan membuat dia mendapatkan akses ke layanan tertentu, misalnya: boleh masuk kantor kalau nilai minimal 3, dapet diskon rumah kalau nilainya di atas 4.5. Tiap orang pun berlomba-lomba untuk terlihat baik di depan semua orang. Berdandan paling cantik, berkelakuan paling manusiawi, menunjukkan kebahagiaan yang tanpa batas, dan berbagai macam kepalsuan-kepalsuan lainnya. Saya nggak bisa membayangkan kalau harus hidup di dunia semacam itu, dimana kita nggak bisa jadi diri kita sendiri dan sibuk untuk memakai topeng ke sana kemari hanya untuk direken sebagai orang yang “baik”. Oh men. Serem.

Episode berikutnya lebih menyeramkan lagi.  Di cerita tersebut, ada seorang anonim yang berhasil menemukan dosa dari beberapa orang, ada yang secara nggak sadar direkam via webcam ketika sedang masturbasi dng anak kecil sbg fantasinya, ada seorang bapak yang ketauan memesan pelacur, ada seorang politisi yang ketahuan mengirimkan email bernada rasis, dan beberapa dosa lainnya. Si anonim ini berhasil menemukan “pressure point” orang-orang tersebut sehingga mereka bisa diperalat sedemikian rupa untuk merampok bank atau melakukan perintah-perintah lainnya demi memuaskan keinginan si anonim tsb. Mereka diancam agar dosanya tidak dibongkar, tapi pada akhirnya dosa-dosa mereka tetap dibuka dan efek buruknya nggak bisa dihindarkan. Sebuah fakta yang kemudian diperkuat dengan dokumenter Edward Snowden (Citizenfour, Terminal F, dan film Snowden).

Internet membuat kita sangat mudah untuk dimata-matai. Orang-orang IT itu bisa dengan mendapatkan akses untuk seluruh email, chat history, panggilan telepon, dan berbagai macam privasi lainnya. Bahkan, mereka bisa menyalakan webcam pada saat komputernya mati (ane baru tau kalau Bill Gates nutup webcam di laptopnya pake selotip gara-gara nggak mau dimata-matai, ckck) Benarlah adanya kalau di masa depan, yang memegang peranan paling besar adalah orang-orang yang menguasai teknologi informasi. Mereka akan dengan mudah menemukan hidden sins yang selama ini tidak pernah diketahui oleh publik, lalu memanfaatkan informasi itu untuk mencapai tujuan-tujuan yang tidak baik. Orang akan dengan mudah mengikuti apa yang mereka mau karena pada dasarnya, seperti cerita di episode 1, tiap orang tidak mau keburukannya terbongkar, mereka hanya mau orang lain melihat segala hal yang baik dalam diri mereka. Padahal, namanya manusia, pasti ada sisi baik dan sisi buruknya juga. Kita dan orang lain juga harus belajar menerima diri seseorang secara utuh, bukan hanya mau enaknya aja.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dunia dalam 20 tahun lagi. Mungkin banyak dari generasi saya yang akan tergagap-gagap menghadapi perubahan teknologi dan trend yang begitu cepat. Sama kaya generasi bapak-ibu kita harus bersusah payah untuk bisa mengikuti apa yang sedang trend pada masa sekarang. Gadget dan segala macam kecanggihan yang sangat dengan mudah ditemui pada masa sekarang, pasti tidak pernah mereka bayangkan pada saat mereka muda sekitar tahun 70/80-an. Dan kita akan berada dalam posisi yang sama dengan mereka dalam beberapa tahun ke depan. Serem banget.

Tapi kemajuan teknologi yang begitu cepat, di satu sisi menyenangkan, tapi di sisi lain akan sangat membahayakan untuk keberlangsungan umat manusia. Dalam 50 tahun ke depan, profesi apa yang kira-kira masih dilakukan oleh manusia? Dominasi mesin sudah pasti akan terjadi di segala bidang. Kemarin baru ngeliat gimana cara Amazon ngambil barang-barang pesanan dan semuanya sudah pake robot yang bisa dengan gampang memproses pesanan customer. Edan. Internet akan menggulung banyak hal-hal yang bersifat fisik lho. Disadari atau enggak, masa depan adalah dunia tanpa infrastruktur. Mall-mall akan secara lambat laun gulung tikar karena nggak bisa bersaing dengan toko online, restoran akan tutup perlahan karena tiap orang bisa dengan gampangnya melakukan pesan-antar, pabrik-pabrik akan melakukan pemecatan berkala kepada buruh-buruhnya karena semua akan diganti dengan mesin yang lebih cost-effective dan cost-efficient. Pernah mbayangin nggak ada berapa banyak orang yang kemudian harus kehilangan pekerjaan gara-gara perkembangan teknologi yang sangat drastis ini.

Pertanyaannya adalah apakah dengan kemajuan teknologi, kesejahteraan akan semakin meningkat? Kebahagiaan akan semakin naik? Saya kira kok enggak juga, kekayaan bakal semakin terpusat pada orang-orang tertentu. Pada taipan-taipan media dan teknologi besar yang jumlahnya hanya segelintir. Merekalah yang akan menikmati kemajuan teknologi yang bergerak semakin pesat ini. Sementara orang-orang kismin seperti kita ya seterusnya bakal jadi pasar yang empuk untuk perbaruan teknologi yang datang tanpa henti. Kita akan terus-terusan jadi konsumen yang dicecoki doktrin sedemikian rupa sehingga rela antri menginap hanya untuk mendapatkan iPhone paling gress. Kalau gitu apakah makin bahagia? Ah, definisi kebahagiaan akan jadi semakin kompleks karena itu akan diukur dari berapa banyak barang yang sudah kamu beli, seberapa tinggi nilaimu di sosial media, dan segala macam hal-hal artifisial lainnya. Yang ada malah makin nggak tentram hidupnya karena herus selalu ngikutin perkembangan. Nggak ada lagi tuh, tiba-tiba seneng hanya gara-gara bisa nongkrong sore-sore sambil makan gorengan + minum teh di beranda rumah.

Anjrit. Nggak siap gw. Jadi orang katrok aja udah, malah nyaman hidupnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s