Semenjak off dari sosial media seminggu yang lalu hidup saya mendadak jadi lebih tenang. Nggak ada lagi kedongkolan yang mewarnai keseharian gara-gara postingan debat yang tidak kunjung henti. Tidak lagi peduli terhadap hal-hal yang bisa memicu distraksi terhadap fokus utk belajar dan yang lainnya. Jadi lebih produktif juga rasanya. Enak lho, wajib dicoba, hahaha.

Kalau dipikir-pikir lagi, dengan memeluk suatu agama tertentu kan harusnya bisa memberikan rasa nyaman, tentram, damai ketika kita menjalani kehidupan. Agama kan memang dimaksudkan utk menjadikan kehidupan manusia jadi lebih baik, bukan malah memicu penyebaran kebencian kepada sesama. Semua mengklaim sbg pemeluk yang paling benar dan dengan tega (kadang cenderung brutal) menyalahkan mereka yg tidak sepaham. Ini kayanya hampir tidak berbeda antara agama yang satu dengan yang lainnya, selalu ada konflik bahkan di tingkat internal agama itu sendiri.

Saya mencoba kritis, apa yang salah terhadap situasi akhir-akhir ini. Mungkin salah satu yg bisa saya pikirkan adalah orang-orang tersebut memperebutkan surga. Ya, mereka berjuang untuk bisa terkualifikasi sbg umat yang berhak dan pantas untuk duduk enak-enak di surga. Padahal, surga ada atau enggak aja nggak bisa dibuktikan secara empiris. Perjalanan ke surga itu bukan seperti kita mau piknik ke Jakarta dimana kita sudah tau secara pasti bahwa naik pesawat bakal lebih cepat + lebih mahal dibandingkan naik bis. Kita kan nggak akan pernah bisa membuktikan bahwa umat agama X sudah pasti masuk ke surga sedangkan yg lain enggak. Mereka saling mengklaim terhadap suatu tempat/konsep yang didasarkan pada keyakinan atau kepercayaan. Yang gini gini kan harusnya nggak bisa diperdebatkan to sebenernya?

Yang saya heran, dengan kemampuan supranatural orang Indonesia yang sangat mumpuni, bisa memanggil arwah orang yang meninggal, bahkan bisa sampek jadi program tv, kenapa mereka nggak kepikiran utk manggil arwah orang lain yang sekiranya sudah masuk surga. Terus ya kaya biasanya tv, si arwah bisa memberikan kesaksian surga itu kaya gimana, terus agama mana yang paling cepat utk masuk ke sana. Kan malah enak to nek gitu. Semua terang benderang dan bisa dibuktikan. Mungkin nggak yo? Hahaha.

Lagian kalau gini gini terus, saya malah takut, kalau semisal kita diijinkan masuk surga, di sana malah kita rebutan lagi untuk jadi siapa yang berhak menguasai daerah tertentu. Wajar lho, karena yang namanya surga kan tempatnya enak, sejuk, penuh fasilitas, ya mesti bakal banyak arwah yang berusaha untuk menguasai. Jangan-jangan ketika sudah masuk surga, kita juga nggak menemukan kedamaian karena sibuk gontok-gontokan sana sini.

Ah entahlah, sepemahaman saya yg sangat cetek dan kadang sesat, saya menganggap surga itu bukan suatu tenpat yang harus dituju sih. Surga lebih tepat disebut sebagai sebuah situasi/tahap dimana orang bisa menemukan kedamaian hidup dng melepaskan semua 7 dosa besar manusia (deadly sins):sombong (pride), tamak(greed), iri hati (envy), marah (wrath/anger), hawa nafsu (lust), kerakusan (gluttony), malas (sloth). Bisa dibayangkan betapa surgawinya hidup bila berhasil menaklukkan dosa-dosa tersebut. Kita malah bisa menyibukkan diri dengan melakukan rendah hati, kasih, kebaikan, kesabaran, kemurnian, penguasaan diri, dan ketekunan. Ah enak banget…

Mau bikin damai aja kok susah banget to yo, ckckck.

^^balik ke lab, duh^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s