Akhir-akhir ini kondisi kesehatan simbah (ibunya bapak) semakin hari semakin menurun, sempat berfluktuasi beberapa kali dan sekarang syukurnya bisa cukup stabil. Beliau adalah simbah terakhir yang saya punya, yang lainnya sudah meninggal sejak berpuluh tahun yang lalu. Seluruh keluarga berjuang dengan keras untuk beliau. Mulai dari bergantian jaga, bersabar meluangkan waktu, tenaga, materi di tengah kesibukan yang bertubi-tubi. Anak-anak dan cucu yang setia untuk datang berkunjung walaupun harus menempuh jarak yang jauh. Ada yang tinggal di Jakarta dan Jogja. Mereka berjuang untuk bisa melihat simbah kembali sembuh seperti sedia kala.

Saya seperti melihat dedikasi, kesetiaan dan cinta kasih yang begitu besar dari seluruh keluarga untuk memberikan upaya terbaik yang bisa mereka lakukan. Sudah sejak lama simbah sakit dan saya melihat bahwa mengurus seseorang dengan kondisi kesehatan yang lemah lunglai dengan respon yang tidak seperti dulu, pasti membutuhkan kesabaran yang sangat luar biasa. Pernah membayangkan nggak seberapa besar stok kesabaran, ketaletan, kesetiaan yang harus dimiliki seseorang anak untuk mau mengurus orangtua yang sudah sepenuhnya bergantung pada bantuan orang lain. Yang ada mungkin kita lebih senang agar orangtua kita bisa secepatnya meninggalkan kita agar bisa mengurus pekerjaan-pekerjaan yang pasti akan menumpuk. Tidak harus repot ini itu, bisa fokus dengan keluarga dan diri sendiri, dan berbagai macam rasionalitas lain yang mungkin akan hinggap di pikiran kita. Saya nggak pernah bisa membayangkan darimana bapak ibu dan seluruh keluarga besar punya kekuatan serta semangat yang begitu besar untuk bisa merawat simbah dengan sepenuh hati.

Saya menduga bahwa simbah pasti dulu juga berusaha memberikan yang terbaik untuk perkembangan anak-anaknya. Dengan kondisi yang serba terbatas dan juga jumlah anak yang banyak, terlebih lagi harus menjadi single parent pasti hidupnya lekat dengan kesusahan yang teramat sangat. Saya nggak bisa membayangkan sih, punya anak 9, harus mengurus sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita aja yang cuma punya anak dua, repotnya bukan main, apalagi harus merawat anak segitu banyak. Hebat bangetlah pasti orang-orang tua jaman dulu perjuangannya.

Mungkin memang inilah saat yang tepat bagi anak-anak dan juga seluruh keluarga besar untuk membalas jasa-jasa dan berterima kasih atas apa yang sudah diberikan simbah. Saya sangat yakin bahwa kalau dikalkulasikan, apa yang sudah beliau berikan kepada kami selama ini masih sangat jauh lebih besar dibandingkan apa yang dilakukan pada saat ini. Saya masih ingat betapa beliau selalu menyambut dengan tangan terbuka setiap kami, cucu-cucunya, berkunjung dan bermain ke rumahnya di daerah Sleman. Beliau pasti selalu memastikan bahwa kami nggak akan kelaparan. Walaupun cuma dikasih makan Indomie, tapi itu cukup sukses untuk membuat kami betah tinggal di sana. Ada banyak pengalaman yang saya dapatkan dengan beliau. Tapi, hal yang paling besar bukanlah datang dari pengalaman fisik dengan simbah. Beliau selalu menghujani kami, anak2 dan cucu, dengan doa-doa yang tak kunjung henti. Setiap kami mau ujian atau ada hal besar yang harus dilewati, pasti kami akan minta doa restu dari simbah agar semua rintangan akan bisa dilewati dengan baik. Ya begitulah cara beliau berinteraksi, tidak banyak omong tapi saya yakin bahwa berkat doa-doa beliau jugalah, kami semua bisa sampai ke titik ini.

Saya kadang suka sedih melihat kondisi simbah yang seperti itu. Terpasang infus, mayo, NGT, dan alat-alat kesehatan yang menunjang kehidupannya. Belum lagi obat-obatan yang setiap hari harus masuk ke tubuh beliau. Di tengah ketidakmampuan beliau untuk berkomunikasi, pasti beliau merasakan banyak kesakitan, perih, kebosanan, dan hal-hal lain yang tidak mungkin diungkapkan. Saya kadang berpikir, dengan kondisi yang seperti itu, apakah simbah ini bahagia ya? Apakah beliau ini memang menginginkan semua yang berusaha diberikan untuk anak-anaknya kepadanya? Apa beliau nggak kepikiran untuk mengakhiri saja semua penderitaan yang beliau alami dan berkumpul lagi dengan simbah lanang? Ataukah kita keluarganya terlalu egois untuk terus membiarkan simbah berada dalam penderitaan yang sepertinya tak berujung?

Namun, mungkin saja, simbah sama sekali tidak menderita lho. Beliau malah senang dan gembira dengan semua perhatian dan cinta yang diberikan oleh keluarganya. Di dalam hati dan pikiran, beliau pasti bungah melihat keluarga yang dia perjuangkan bertahun-tahun bisa berkumpul, berbagi tanggung jawab satu sama lain, saling membantu, dan saling menguatkan setiap harinya. Saya kok yakin bahwa yang namanya orangtua, pasti akan selalu berjuang memberikan yang terbaik demi anak-anaknya, sebesar apapun penderitaan yang mungkin beliau alami sekarang. Mungkin beliau sudah menyingkirkan semua egoisme yang ada di dalam dirinya, hanya untuk melihat keluarga besarnya bisa rutin berkumpul, bercengkrama, saling memperhatikan, dan berbagai macam hal positif lainnya yang mungkin akan jadi kenangan yang tidak akan mungkin dilupakan oleh kami semua. Bahkan, sampai pada saat-saat beliau “tidak berdaya” pun, beliau masih mampu memberikan pelajaran sangat berharga yang akan menjadi pijakan kami untuk hidup di masa depan. Bahwa dalam keadaan apapun, kami haruslah berguna bagi orang lain.

Cepat sembuh ya simbah T.T

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s