Kemarin, untuk menghindari Nesya yang mood-nya mendadak berantakan karena rambutnya rewo-rewo nggak karuan, saya menemani dia potong rambut di Kitasenri. Sembari menunggu si bocah yang nyenyak tidur di stroler, saya pun menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Ada banyak wanita sedang menikmati untuk cuci rambut, semir sambil goda-goda mas-mas kapster yang gayanya kaya boyband Korea, atau pun simbah-simbah keriput yang masih berusaha untuk tetep tampil trendi. Tiba-tiba mata saya tertuju pada aktivitas yang dilakukan oleh salah satu pegawai salon tersebut. Si mbak itu sedang membersihkan sisa-sisa rambut yang terhampar di lantai. Mendadak, saya langsung merasa sedih. Perasaan sendu tiba-tiba menyeruak menyadari bahwa orang-orang itu bisa dengan seenak udelnya memotong dan kemudian membuang-buang rambutnya agar tampak lebih keren. Sedangkan saya! Harus berjuang sedemikian rupa supaya bisa terlihat memiliki rambut yang lebat. Sebuah impian yang tampaknya terlalu utopis untuk diwujudkan dalam waktu dekat.

Ya, momok para lelaki yang menginjak usia akhir 30-an tampaknya menghampiri saya lebih cepat. Kebotakan yang dari dulu sepertinya mustahil untuk terjadi, perlahan-perlahan menjadi ketakutan yang tidak bisa dihindari. Sebenarnya, sebelum datang ke Jepang, rambut saya masih utuh di seluruh bagian kepala, tidak ada satu helai pun yang jatuh ke tanah sia-sia. Tapi, begitu pindah ke Jepang, mendadak, rambut-rambut di kepala mulai bertumbangan secara terstruktur, masif dan sistematis. Situasi tersebut terjadi paling parah pada 6 bulan pertama tinggal di Jepang. Batas rambut yang dulunya masih terlihat sedahi, mulai mundur teratur dan menyisakan bagian-bagian kepala dengan rambut jarang berbentuk tapal kuda. Kaya rambut-rambut di film-film zombie jaman dulu itu. Sial. Mungkin pas saat itu, saya bisa sukses kalau jadi pengepul bahan untuk rambut palsu. Ha gimana enggak, sekali kibas paling sedikit ada 10 helai rambut yang bakal jatuh ke meja kok. Belum lagi kalau pake tak cabut-cabut, minimal bisa dapet 5 helai sekali cabut. Kan lumayan kalau bisa dikumpulin terus bisa dijual. Jigur.

Salah satu hipotesa penyebab kerontokan adalah kelebatan rambut mungkin berhubungan dengan kadar karbon monoksida dan cahaya matahari. Di Indonesia, dengan kadar polusi yang tinggi dan matahari yang menyengat, mungkin eksistensi si rambut masih sangat dibutuhkan untuk melindungi kulit kepala. Nah, kalau polusi udaranya rendah dan nggak tropis kaya di Jepang, si rambut mungkin bakal insecure, ngerasa nggak berguna, merasa dicampakan, sehingga daripada eksistensinya makin tercabik-cabik, ya mendingan bunuh diri aja. (Baper banget sih!). Alhasil, rambut rontok bakal semakin merajalela.  Sialan tenan. Padahal dulu, rambut cepak “5cm” model Wenthworth Miller adalah andalan paling yahud untuk tampil nggantheng. Tapi, semua itu sekarang hanya tinggal sejarah. T.T

Sebenarnya, situasi ini harusnya sudah bisa diramalkan sedari dulu. Soalnya, bapak saya juga botak. Saya jadi kasian sama si Hagia, besok pasti pas masih SMP dia bakal di-bully sama temen-temennya gara-gara bapaknya botak. Kaya dulu pas saya masih SMP, tiap kali ada pesawat lewat di atas sekolah, pasti ada aja yang nyeletuk “Pink, bapakmu kon siap-siap, itu pesawatnya mau mendarat!” atau kalau enggak “Wah, enak ya Pink punya banyak duit kaya kamu.” “Lho kok bisa to?” tanyaku. “Ha itu, bapakmu kan punya bandara sendiri to? Sugih dong kowe” Sambil si temen ngusap-ngusap dahi. Malah dulu sempet ada yang manggil dengan nama “Tak botak, Darmadi botak…”. Cen kampret. Tapi, ya gitu, emang bapaknya botak, mau gimana lagi. Hahaha. Diterima aja. Harusnya dulu pas ngambil raport ki pake rambut palsu aja yo, jadinya nggak ketahuan. Fakta lainnya adalah si Indra (adik) juga mengalami kebotakan, tipe botaknya aneh pula. Rambutnya jarang-jarang kaya hutan di lereng gunung yang barusan kena awan panas Merapi. Haha. Ambyar. Dua fakta itu harusnya sudah bisa jadi peringatan awal bahwa saya pasti akan juga mengalami situasi yang sama. Tapi, saya tetep nggak menduga bahwa kejadiannya akan berlangsung secepat ini. Singo.   

Punya kepala botak juga sebenarnya bakal berhubungan dengan pilihan selera musik. Nggak mungkin kalau rambutnya gampang rontok terus jadi penggemar musik metal atau hardcore. Kan nggak masuk akal. Situasinya menjadi dilematis kalau harus datang ke konser band-band idola, buat yang rambutnya gampang rontok, jelas nggak bisa goyang-goyang kepala ekstrem sambil kibas-kibas rambut di tengah konser. Kalau nekat, bisa-bisa udah jadi gundul sepulang dari konser. Kan nggak keren banget jadinya. Ya untungnya, saya sukanya musik-musik santai macam jes-jesan atau sejenisnya lah. Walau terbawa suasana kan paling banter cuma goyang-goyang kepala kecil-kecil sambil sok-sok asik gitu kan. Pokoknya paling enggak, situasi kerontokan rambutnya bisa diminimalisasi sekecil mungkin.  

Tapi memang, diakui atau enggak, kebotakan emang jadi salah satu teror paling mencekam yang harus dihadapi oleh para lelaki. Masalahnya adalah bila kebotakan itu terjadi pada usia-usia mid-20 sampai awal 30-an. Kita nggak akan pernah merasa keren dengan situasi itu. Dandanan masih gaul, baju klimis, sepatu mengkilap tapi harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kepalanya botak. Kan nyebelin. Image dirinya langsung turun drastis ke level om-om atau bapak-bapak yang sukanya goda-goda daun muda di tempat karaoke. Kan nggak asik banget gitu.  

Beda cerita kalau botaknya terjadi pada usia yang sudah seharusnya, katakanlah 40-an ke atas. Nggak punya rambut adalah salah satu bentuk amplifikasi terhadap kemaskulinitasan seorang pria matang. Salah satu tips untuk tampil keren dengan kepala botak adalah dengan menciptakan distraksi dan keseimbangan. Ketiadaan rambut dikompensasi dengan gondrong di tempat lain yang bisa diakses secara visual. Nggak ada gunanya kalau gondrong tapi ketutupan celana kan? Haha. Nah, ada baiknya janggut dan kumis harus ditumbuhkan sampai lebat tapi masih tetap rapi. Selain bisa sebagai kompensasi visual yang mumpuni, janggut dan kumis juga bisa berguna untuk mendistraksi pandangan dari kepala yang botak. Apalagi ditambah dengan kacamata. Beugh. Liat aja contoh-contoh semacam Steve Jobs, Dwayne Johnson, Jason Statam, atau Andy Noya.  Kegantengannya bisa bertambah berkali-kali lipat dengan penampilan yang seperti itu. Lagipula, kata tante-tante atau emak-emak di pusat kebugaran, pria dengan kepala botak itu bisa menimbulkan sensasi tersendiri. Nggak tau deh apa maksudnya. Wkwkwkwk.

Fiuhhhhhh. Udah ah ngeluhnya. Emang beneran susah sih, harus mengalami kebotakan di usia-usia segini. Tapi, selalu ada hal yang bisa dipetik dari sebuah situasi, sejelek apapun itu. Dari kerontokan rambut yang belum juga tertangani ini, saya jadi bisa belajar satu hal pokok yang wajib disadari sejak awal. Saya jadi bisa belajar gimana rasanya mengelola sebuah kehilangan. Tsaaahhhh……..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s