Di lingkaran pertemanan di sini, ada satu fenomena yang cukup aneh terjadi. Banyak sekali teman-teman saya yang nggak bisa bertahan menjalani hubungan jarak jauh. Berangkat dari Indonesia dengan status pacaran tapi begitu sekolah, malah putus. Saya hitung sih ada satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.. ya kira-kira mungkin lebih dari sepuluh pasanganlah yang gagal dengan alasan LDR (ada yang mau nyusul mungkin? Nyaha). Mungkin mereka suatu saat bisa bikin support group discussion untuk saling menguatkan satu sama lain agar tabah menjalani kehidupan sebagai seorang jomblo baru di negeri orang. Kondisi kronis yang biasanya akan berdampak pada perasaan kesepian dan mellow yang tak kunjung henti. Wkwk. Lama-lama mereka mungkin bisa bikin partai, dikasih nama Partai Gagal LDR (PGL) atau sekalian bikin sekte gara-gara saking banyak penganutnya. Nanti, ketua partainya diambil dari yang paling lama pacaran tapi harus putus gara-gara LDR. Biar bisa diceng-cengin sampai puas. Ngahaha. Dyar.  

Saya dan Nesya juga salah satu yang mengalami LDR, tapi bedanya, kita mah seloow, jadi baik-baik sampai sekarang. Sering banget saya bertanya sama diri sendiri, apa ya yang bisa membuat hubungan jarak jauh ini “berhasil”, paling enggak bisa sampai jenjang pernikahan. Sedangkan banyak sekali orang yang tidak mampu mempertahankan hubungan pada saat mereka harus terpisah jarak dengan pasangannya. Kami sendiri sering dibuat bingung dengan pertanyaan ini. Karena sebenernya kami nggak pernah tahu apa resepnya, nggak pernah terlalu dibuat pusing dengan kondisinya. Semua dijalani dengan nikmat-nikmat, kalau ada masalah ya udah diselesaikan secara sebisanya, nggak pernah berusaha untuk mencari tahu tips & trik biar bisa sukses LDR.

Kayanya sih, selama ini ada mispersepsi tentang menjalin hubungan jarak jauh. Ya, memang “terasa” lebih sulit gara-gara pasangan tidak berada dalam jangkauan pelukan tangan. Bakal rindu gandengan tangan, jalan bareng, cium dahi di depan rumah, atau beragam kontak fisik lainnya. Tapi yang gitu-gitu kan bukan hal yang pokok sebenernya. Menurut saya sih, alasan LDR cuman dijadiin sebagai kambing hitam dalam sebuah hubungan. Masalah mendasarnya adalah “Kalian mah udah nggak cinta plus udah nggak mau aja satu sama lain”. Wkwk.

Ini bukan gara-gara masalah jarak, tapi murni masalah kualitas hubungan dengan pasangan. Putus gara-gara LDR mah cuma alasan yang dibuat-buat aja sih menurut saya. Banyak orang yang bisa sukses menjalani pernikahan jarak jauh (misalnya orangtua Nesya). Beberapa oknum (saya sebut oknum karena kisahnya cukup anomali) di Jepang yang berhasil menjalani LDR dan bahkan sampai menikah, misalnya adalah mantan teman serumah, si Vincent, dan tetangga sebelah kamar, si Indro, yang secara sukses dan gemilang menjalani LDR. Cuma ketemu setahun sekali sama pacarnya, tapi akhirnya mereka juga bisa nikah.  Dulu, si Ansyori, juga LDR Jogja-Lombok sama pacarnya semenjak kuliah, akhirnya nikah-nikah aja, sekarang punya anak kembar. Jadi, anggapan kalau LDR pasti putus mah sekedar mitos belaka buat saya.

Kalau liat dari website-website sih, biasanya tips biar sukses LDR adalah komunikasi yang baik, atur waktu ketemuan, bla bla bla. Ya emang bener sih itu semua, tapi tips-tips itu nggak akan berguna kalau dianya nggak mau sama elu. Hahahaha. Iya nggak sih? Kalau emang udah nggak cocok dari sananya, ngobrol udah nggak nyambung, nggak ada visi yang sama tentang gimana menjalani hidup. Ya nggak usah pake LDR, lu juga bakal putus.

Sejauh pengalaman kami, yang paling penting adalah sama-sama paham tentang komitmen, kepercayaan, dan punya value + visi hidup yang sama. Punya pacar mah ibarat maen ganda campuran badminton. Kalau visi mainnya beda ya bakal susah buat nemu tektoknya, jelas bakal kalah terus. Apalagi kalau kitanya jago tapi pasangannya katrok, kan nyebelin. Yang enak adalah sama-sama katrok karena bisa latihan bareng terus mengasah visi bermain bersama-sama atau keduanya udah jago plus punya visi bermain yang mumpuni. Kalau udah punya pegangan value dan visi hidup yang sama mah, mau LDR atau dihadapin sama situasi lainnya, ya bakal lewat-lewat aja (walaupun kadang prosesnya berliku).

Komunikasi sebenarnya memegang peranan penting dalam LDR. Tapi teori ini tidak berhasil kami anut karena komunikasi kami nggak bisa dibilang bagus juga. Nesya punya dunia dan kesibukan sendiri sehingga sering males nge-cek hape, saya juga kadang males ngubungin karena sibuk main sama yang lain. Telpon juga jarang, paling seminggu sekali (pas udah ada di sini), itu pun nggak terlalu rutin, kadang bisa 2 minggu sekali. Sms-an juga sekenanya. Tapi, yang membuat bertahan adalah karena nggak ada yang lebih keren dari dia je. Mau gimana lagi. Udah incer sana sini, udah liat cewek-cewek sana sini, tapi nggak ada yang lebih yahud dari Nesya (hal ini tidak berlaku sebaliknya kayanya, hahaha, sial). Ya masak mau diputusin sih. Hahaha.

LDR itu sebenarnya hanya membuat threshold untuk mempertahankan pacar jadi lebih rendah daripada sebelumnya. Berbanding lurus dengan keinginan untuk gonta-ganti pasangan. Biasanya mereka-mereka yang udah bosen sama pasangannya terus udah pingin putus, bakal ada rasionalisisasi dengan “Ah, pake alasan  LDR aja lah. Lagian kayanya orang juga udah maklum kalau LDR putus. Susah.” Coba bayangin kalau di satu kota, semisal bosen pacaran, biasanya kita juga agak susah untuk jujur bahwa kita bosen. Bakal ada banyak alasan yang menghalangi, misalnya, satu kampus, satu kelompok kerja, udah kenal sama bapaknya, belum balik modal gara-gara keseringan nraktir, udah terlanjur cinta sama anjingnya, belum sempet ciuman, dan banyak alasan lainnya. Padahal ya udah nggak cinta, tapi masih tetep aja dilanjutin.

Nah, kalau pas LDR ternyata salah satu pihak dilanda kejenuhan kan bisa tinggal bilang sama pacarnya “Kayanya aku nggak bisa deh LDR-an sama kamu.” Padahal yang sebenernya terjadi adalah………………

Dianya  udah terlanjur bilang sayang sama selingkuhannya, ahahaha.

Warning: Percayalah, bakal ada yang selalu mencuri kesempatan dalam bubarnya LDR. Ahe. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s