“Eh eh jeng..kamu tau nggak..anaknya bu Jono tu ternyata ngentutan lho..mana kentutnya bau banget lagi?”

“Lho, bu Romlah kok tau?”

“Ya taulah..kan kemarin di instagramnya bu Jono, dia bilang hampir pingsan gara-gara nyium kentut anaknya…”

Mungkin itulah yang akan terjadi saat ibu-ibu ngobrol di sebuah sekolah dasar. Hahaha. Kalau dulu mereka susah banget buat menemukan bahan untuk ngeceng-ngecengin anak dari ibu lain. Sekarang ini, mereka akan dengan gampang mendapatkan referensi untuk membandingkan anaknya dengan anak orangtua lain. Kebiasaan orangtua untuk selalu mengunggah apa yang dilakukan anaknya di sosial media seperti menjadi amunisi yang tak kunjung habis. Enak banget ya. Si emak-emak itu jadi punya bahan buat gosipin anak lain. “Tuh nak, makanya jangan kaya anaknya bu Jono yang suka kentut sembarangan.”

Postingan di sosmed memang sudah jadi sumber gosip paling mutakhir dalam sejarah manusia. Tapi, menurut saya, cara kaya gini tuh malah kurang efektif karena susah nge-recall-nya kalau ketemu orangtua lain. Padahal di dalam hati, hasrat pamernya sudah menggebu-gebu buat menunjukkan kalau anak kita udah mahir ini itu. Kan ribet banget kalo semisal harus scroll timeline facebook atau instagram dulu. Kurang praktis gitu jadinya. “Ah, ibu nih, makanya follow newsfeed saya terus dong, jadinya kan saya nggak usah repot-repot nyari bukti.” Semangat ke-pamer-annya kan jadi nggak bisa tersalurkan secara cepat, lugas, tangkas dan langsung.  Nah, yang kaya gini-gini nih harusnya bisa ditanggulangi sebenernya..

Mungkin metode pas kita dulu pramuka bisa diadaptasi jadi teknologi untuk memfasilitasi keinginan pamer yang terus merongrong sanubari, supaya bisa tersalurkan secara efektif, masif dan sistematis. Kalau di pramuka kan ada selempang yang isinya adalah “Tanda Kecakapan”. Kalau udah bisa sandi morse atau udah jago tali temali kan bakal dapet tanda, terus dijahit di selempang. Nah, kenapa nggak kita bikin tanda khusus yang isinya adalah catatan tumbuh kembang si anak, misalnya Lulus Jalan Kayang 100 meter, Lulus Koprol Depan 10x, Lulus Cebok Cuma Pake Tissue, dan berbagai macam kecakapan lainnya. Dijahit, terus dipake deh selempangnya kemana-mana. Kan jadi enak gitu buat si orangtua atau si anak, nggak perlu repot-repot buka sosmed buat pamer. Semua udah terpampang nyata dan membahana di depan mata. Apalagi kalau pas bareng-bareng ambil raport tuh, beugh..pasti bangganya bukhaann maen kalau selempang anaknya penuh sama tanda kecakapan.

Nah, sekarang bisa bayangin nggak kalau setiap tanda yang menempel di selempang ternyata punya berat 100 gram. Bisa dibayangkan to kalau ada sepuluh tanda di pundak si anak yang harus dia bawa kemana-mana. Makin banyak kemahiran yang ditempelkan ke selempang tersebut, bakal makin berat selempangnya. Apa ya nggak kasian sama si anak tersebut, harus ngebawa-bawa selempang yang berat itu kemana-mana?

Analoginya sama persis kaya kita posting segala sesuatu tentang si anak ke sosial media kan? Sampai sekarang saya masih nggak paham lho, kenapa para orangtua tu berlomba-lomba untuk memberitahukan pada khalayak luas tentang si bocah. Emang ada faedahnya gitu untuk perkembangan dan pertumbuhan mereka. Nggak ada juga kan.

Dengan postingan tersebut, maka kita secara nggak langsung membentuk citra diri dari si anak itu. Citra anak baik, penurut, nggak suka mbantah apa kata orangtua, pintar, juara satu di sekolah adalah image-image positif yang menjadi favorit para orangtua untuk disebarkan ke khayalak. Sadar nggak sadar, yang kaya gini tuh sama aja kaya bikin tag ke si bocah, lama-lama bakal makin berat. Padahal ya belum tentu si anak bakal berkembang sesuai dengan apa yang dicitrakan di sosmed orangtuanya. Seakan-akan, dia adalah apa yang orangtuanya upload di sosial media. Di masa depan, dia bisa aja di-blame sama orang gara-gara ulah orangtuanya. Kalau pas dia kentut sembarangan, pasti ada aja yang ngomentarin “Oooo..ternyata emang bener ya yang ada di instagram bapakmu, kamu emang suka ngentut sembarangan.” Ya gitu-gitu lah. Hahaha. Kasian lho anaknya malahan.

Mungkin, ketika si anak sedang dalam pencarian jati dirinya, dimana biasanya dia bakal bandel dan semacamnya, dia jadi nggak bisa bebas untuk berlaku/bereksplorasi terhadap sesuatu yang secara norma mungkin bisa merusak citra diri yang sudah sekian tahun di bangun oleh orangtuanya. Secara nggak sadar, kita malah memenjarakan si anak dengan persepsi “anak baik-baik” yang dipaksakan oleh orangtuanya. Cilakanya lagi, si bocah malah jadi nggak bisa untuk berproses, berlaku, berpikir dan berkata sesuai dengan apa yang dia mau. Karena, pasti akan ada komentar dan omongan orang yang bakal mencibir, nyindir, atau dia harus mikirin perasaan orangtuanya yang bakal malu berat kalau dia berperilaku “menyimpang”.Tekanan psikologisnya bakal lebih berat dibandingkan mereka yang tidak dibekali oleh citra diri yang dibentuk oleh orangtuanya. Padahal ya dia juga nggak minta digituin. Kan itu emang itu gara-gara orangtuanya yang suka pamer aja sih. Udah agama, suku, ras, nama, semuanya dipilihin sama orangtuanya. Masak jati diri juga harus ditentuin sama orangtuanya juga sih. Kan nggak bener yang macam gini mah.

Seharusnya, kita nggak heran dengan kemunculan fenomena semacam Awkarin. Dia yang dulunya dikenal sebagai anak baik-baik dan pintar juga lama-lama bakal merasa jengah dengan citra diri yang berusaha disematkan oleh orangtuanya. Dia pun akhirnya mengambil jalan yang berbeda dengan kebanyakan orang-orang normal. Sebenernya nggak usah harus dihujat sebegitunya juga, namanya usia segitu ya pasti kan ada sisi liar yang perlu untuk difasilitasi juga. Lagian, masih banyak juga hal positif lain yang akhirnya terkuak dari pribadi tersebut. Biarin aja mereka menemukan ke-otentik-an dirinya sendiri melalui petualangan-petualangan yang terkadang emang membuat orangtuanya sport jantung. Tanpa harus terbebani dengan kebanggaan “semu” yang berusaha untuk ditanamkan pada diri si bocah. 

Emang di dunia ini, apa sih yang lebih menyedihkan sekaligus menyengsarakan dibandingkan tidak bisa menjadi diri sendiri? Hahaha.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s