Dua bulan lalu, si bocah akhirnya lahir ke dunia. Jumat Kliwon tanggal 16-12-16, angka cantik jam 6.01 pagi. Syukurlah, proses lahirannya lancar banget. Jam 12 mulai kontraksi teratur, jam 1 masuk ke rumah sakit, hahahihi sambil nahan perihnya kontraksi sampai jam 5.40 hingga akhirnya bukaan lengkap. Tepat jam 6 pagi, terdengar pertama kali tangisannya si bocah. Keras banget. Edan tenan. Campur aduk rasanya, tapi lebih lega lagi ngeliat si Nesya yang nggak harus berjuang lama-lama untuk melahirkan si bocah. Nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya bila proses lahirannya harus diinduksi dengan intensitas kontraksi yang pasti sangat luar biasa sakit. Fiuh..serem banget emang. Syukurlah, walaupun saling berkomunikasi dengan bahasa orangutan, si Nesya bisa mengikuti instruksinya dengan baik.

Beberapa hari sebelum lahir, setelah melalui perdebatan dan proposal nama yang ditolak terus menerus. Akhirnya, kita pun menemukan nama yang cocok buat si bocah. “Hagia Sastrajendra” adalah nama yang dipilih. Banyak yang bertanya, Hagia tu apa sih? Sastrajendra tu juga apa? Gimana kok akhirnya bisa memakai nama itu?

Sebenarnya Hagia adalah nama yang dipakai untuk nama blog ini. Diambil dari lagu-nya Barasuara (buat yang nggak tau Barasuara bisa menuju tulisan ini) dengan judul yang sama. Kenapa lagu ini bisa menjadi istimewa? Saat pertama kali mendengarkan, lagu ini langsung nempel di pikiran karena liriknya yang sangat kontradiktif dengan situasi ke-agama-an dan kebe-ragam-an di Indonesia akhir-akhir ini. Begini liriknya:

“Sempurna yang kau puja dan ayat-ayat yang kau baca

Tak kurasa berbeda,

kita bebas untuk percaya

Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”

Lagu ini sepertinya muncul dari kekhawatiran atas interaksi keberagamaan yang semakin memar dipukuli oleh pihak-pihak yang secara sadar atau tidak sadar sedang berada dalam sandiwara kehidupan berjudul “Pura-pura jadi Tuhan” .Mereka pun merasa punya legitimasi utuh untuk menghakimi mereka yang tidak sejalan dengan apa yang mereka pahami. Menghina, mengolok-olok, mencibir mereka yang berbeda adalah sesuatu yang sepertinya lumrah untuk dilakukan.

Lirik terakhir di lagu itu sama persis dengan penggalan ayat dalam doa “Bapa Kami” yang merupakan salah satu doa yang saya idolai dalam agama Katholik. Sebuah penggalan ayat yang sangat amat susah untuk dijalankan sebagai manusia. Di lagu tersebut, lirik ini diulang sampai 4x, mungkin dimaksudkan supaya setiap mereka yang menyanyikan lagu ini bisa menghayati liriknya secara mendalam dan bisa mendapatkan pengalaman reflektif yang berguna untuk membangun ulang perspektif terhadap kehidupan.

Ayat utuhnya berbunyi “Ampunilah dosa kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Saya nggak pernah belajar tentang asal muasal doa Bapa Kami, tetapi sebenarnya akan lebih gampang bila ayatnya berbunyi “Ampunilah dosa kami” saja tanpa harus ada prasyarat yang harus dipenuhi lebih dahulu. Kalau begini urusannya kan dosa-dosanya orang Katholik ini nggak mungkin bisa diampuni kalau kita nggak lebih dulu memaafkan orang lain. Kan nyebelin dan bikin hidup makin susah. Tapi emang sih, nyuruh-nyuruh Tuhan tu emang nggak gampang, mesti ada syarat berat yang harus dipenuhi lebih dulu. Hehehe.

Selain itu, Hagia juga dipakai sebagai nama bangunan di Turki, Hagia Sophia. Dalam bahasa Yunani, Hagia berarti suci. Hagia Sophia adalah bangunan yang didedikasikan untuk the Logos, Yesus, the second person of Trinity. Secara utuh, nama tersebut diartikan sebagai Shrine of the Holy of God. Bangunan tersebut pada awalnya adalah  pusat dari Kristen Orthodox selama lebih dari 900 tahun. Sebelum akhirnya Turki ditaklukkan oleh Ottoman. Bangunan tersebut pun berubah fungsi menjadi masjid sehingga kita pun bisa melihat percampuran ornamen Kristen dan Islam di dalam bangunan tersebut. Bangunan ini pun akhirnya dikonversi menjadi museum oleh pemerintah Turki tahun 1953. Bagi saya, pertemuan antara berbagai agama, Kristen dan Islam, di dalam satu “tubuh” adalah salah satu bentuk keindahan yang tidak ternilai harganya.

Alasan itulah yang membuat kami memutuskan untuk memberikan nama Hagia pada si bocah. Kami berharap agar mengalir spirit kemanusiaan yang tercermin dari laku hidup suci the Logos dan juga penghargaan atas diversitas yang bersetubuh secara harmonis di dalam diri dan pandangan hidupnya.

Sedangkan, kata “Sastrajendra” ditemukan pada saat saya iseng membaca cuitan dari Sudjiwo Tedjo. Terdengar cukup asik untuk disuarakan, maka saya pun mengusulkan nama tersebut ke Nesya. Untunglah dia setuju. Hehe. Sastrajendra sendiri merupakan penggalan nama dari ilmu pewayangan yang bernama Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu. Sastrajendra sendiri berarti tulisan milik raja/dewa/Tuhan. Sejatinya, ilmu ini adalah ilmu luhur tentang ujung dari segala akhir atau bisa juga dimaknai sebagai akhir dari penjelmaan hidup. Untuk mencapai ilmu ini, maka orang tersebt harus mampu menahan diri, atau mampu mengendalikann hawa nafsu, yaitu harus mampu menahan atau menyingkirkan nafsu angkara, nafsu perut, dan nafsu kelamin dengan jalan berpuasa. Sujiwo Tejo dalam salah satu ceritanya berpendapat bahwa ilmu ini mempunyai arti bahwa Hanya Tuhan yang benar-benar tahu dan boleh menilai baik serta buruk. Penjelasan terakhir dari si dalang edan semakin memantapkan niat kami untuk memberikan nama Sastrajendra pada si bocah. Biar dia nggak jadi orang yang sok tau, suka nyalah-nyalahin orang lain, padahal dianya sendiri juga belum tentu diterima di surga.

Walaupun orangtuanya jauh dari kata holy, paling enggak  kami berharap dia bisa menjadi orang dengan perspektif murni yang selalu bisa melihat seseorang/sesuatu hanya dari spirit kemanusiaannya tanpa pernah memedulikan identitas yang menempel pada mereka. Belajar dan meneladan tokoh-tokoh favorit macam Gus Dur, Cak Nur, Cak Nun, Buya Syafii Maarif, Paus Fransiskus, Romo Mangun, Romo Frans Magnis Suseno, Pak Suwardi Suryaningrat dan sederet tokoh-tokoh lainnya adalah hal wajib yang harus diajarkan sedari kecil. Semoga dia bisa mengenal, memahami dan mempraktekkan laku hidup dan pikiran mereka.

Salam AMDG.

Sumber inspirasi:

https://qubicle.id/story/hagia-dan-tubuh-tubuh-yang-bicara
http://sujiwotejo.com/wayang-twit-sastrajendra-1/
http://sujiwotejo.com/dongeng-cinta-kontemporer-i-sujiwo-tejo/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s