Akhir minggu kemarin, di tengah rusuhnya situasi, ada hal bagus yang menarik untuk diceritakan. Hari sabtu minggu ke-empat, ada misa bahasa Indonesia di gereja Umeda. Biasanya, setelah pulang gereja, untuk mengantisipasi kejombloan yang akut, orang-orang ngajakin makan malam sekalian nongkrong-nongkrong cantik. Kebetulan, sabtu kemarin ada dua anggota KelKath yang mau melanjutkan petualangannya ke luar Jepang. Akhirnya, kita pun sepakat nongkrong di restoran Chinese nggak jauh dari gereja. Lalu, hari minggu-nya, sepulang dari beli mainan buat si bocah, saya ketemu salah teman yang baru saja jadian, akhirnya kita pun mampir makan terus ngobrol-ngobrol. Malemnya, masih dilanjut lagi untuk nongkrong kesekian kalinya di rumah Cosmas, yang kebetulan akan pindahan ke Tokyo hari ini. Nongkrong di rumah Cosmas berakhir pukul 1 dini hari, itu pun gara-gara udah kenyang makan pizza. Kalau belum kenyang, ya pasti bakal dilanjut tuh ngobrolnya.

Apa yang menarik dari nongkrong-nongkrong selama weekend kemarin? Nggak ada sih sebenernya. Apakah ada ilmu yang bisa dipetik dari nongkrong-nongkrong itu? Nggak ada. Isinya kebanyakan gosip sama ngomongin orang. Wkwkwk. Nggak berguna banget sih. Tapi karena emang lagi rusuh banget di lab. Nggak sengaja terjebak dalam nongkrong bersama teman-teman, bisa ketawa-ketawa ngakak adalah sebuah anugerah yang sangat patut untuk disyukuri. Masing-masing nongkrong berlangsung selama 3 jam dan hampir selalu ada objek bully-an yang berhasil untuk bikin nangis karena ketawa saking kerasnya. Yah gitulah. Menyenangkan banget.

Menurut saya, selama tinggal di sini, ada satu hal penting yang mungkin dialami oleh banyak orang, tidak terkecuali mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di sini, yaitu kesepian. Saya menduga ada banyak orang yang merasa kesepian di tengah-tengah segala rutinitas keseharian yang sangat padat. Mereka nggak punya tempat untuk berkeluh kesah. Nggak ada teman untuk sekedar cerita-cerita nggak jelas, nggosipin orang, nyampah, dll. Padahal, dulu pas masih kuliah atau SMA. Frekuensi kita untuk nyampah lebih banyak daripada ketekunan untuk belajar. Lebih sering buat jalan-jalan nggak jelas sama teman-teman se-geng sambil haha-hihi nggak jelas. Saya kira banyak orang di sini yang rindu dengan situasi itu. Di tengah kesuntukan mereka experiment atau masalah hidup yang tak kunjung henti, mereka pasti sangat membutuhkan “terapi” ini. Namun, sayangnya, nggak banyak yang mempunyai waktu, tenaga, pikiran, rasa atau kemauan untuk bisa berkumpul bersama, sekedar mendengarkan orang lain  bercerita atau mencari solusi dari mereka yang lebih berpengalaman. Mungkin di pikiran mereka “Hidup ane aje udah susah, masak ya harus ngedengerin plus ngasih solusi buat masalah orang lain juga. Tambah berabe hidup ane.”

Situasi ini diperparah dengan kecanduan kita terhadap gadget dan sosial media. Menurut saya, sosmed ini nih kaya kutukan untuk generasi milenial. Banyaknya fasilitas yang ditawarkan semacam Youtube, LINE, facebook, twitter, atau instagram kayanya berhasil memanipulasi pikiran kita terhadap kebutuhan akan interaksi dengan orang lain. Dengan menyibukkan diri berselancar di dunia maya, kita seakan-akan telah berhasil mengenyahkan rasa kesepian tersebut. Kecanduan gadget membawa kecenderungan untuk tidak peka terhadap lingkungan sekitar, merasa diri paling penting dan meningkatkan individualisme. Mereka merasa bahwa saya bisa kok hidup sendiri tanpa orang lain, membunuh waktu dengan browsing-browsing nggak jelas, juga sudah cukup untuk bisa bertahan hidup.

Alhasil, kemampuan mereka untuk bisa bersosialisasi dengan orang lain pun jadi menurun. Nggak pernah bisa mengeluarkan bahan obrolan, nggak pernah bisa mancing pembicaraan, nggak pernah belajar bagaimana bisa berempati terhadap kesusahan orang lain, dan berbagai macam softskill lain yang pasti akan berguna untuk survive di dunia nyata. Ini seperti lingkaran setan aja menurut ane, setiap orang punya kebutuhan untuk berintimasi dengan orang lain, ketika tidak terpenuhi mereka akan lari ke hal-hal lain seperti makan, ngemil, ngerokok atau mainan hape. Ketika terlalu lama tidak juga mengalami intimasi sosial yang memadai, maka dia jadi kehilangan kemampuan untuk bisa berinteraksi. Sehingga, dalam situasi yang kondusif untuk berinteraksi pun, dia akan craving untuk bisa memenuhi kebutuhan emosionalnya sendiri. Akhirnya, mereka akan rentan pada depresi, stres yang berkepanjangan, dan berbagai masalah mental lainnya.

Ya begitulah, semakin dewasa  kayanya kemungkinan kita untuk kesepian akan semakin besar.  Yang laki-laki akan dianggap cengeng kalau berkeluh kesah tentang kesusahan hidupnya, dianggap bukan sebagai sosokyang kuat. Atau yang wanita juga nggak mau mengeluh karena melihat pasangannya yang sudah stres begitu sampai di rumah, sedangkan nggak ada orang lain lagi yang bisa diajak bicara.

Saya kok nggak pernah yakin bahwa kemajuan teknologi itu bisa menggantikan sepenuhnya kebutuhan kita untuk berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata. Waktu nongkrong-nongkrong kemarin, saya heran karena sama sekali nggak ada yang mainan hape, semua sibuk terlarut dalam obrolan. Situasi yang jarang-jarang terjadi karena biasanya orang tetap sibuk dengan dirinya sendiri di tengah kumpulan teman-temannya.  

Salah satu konsep yang menarik adalah menyediakan “tempat untuk pulang.” Tempat di sini tidak selalu berbentuk fisik, tetapi lebih kepada suasana atau situasi yang memungkinkan semua orang untuk melepaskan beban-beban yang ada pundaknya, sejenak membuang semua topeng yang dia pakai dan diterima sebagai dirinya yang sebenar-benarnya, tanpa tedeng aling-aling apapun.

Ada banyak orang yang kehilangan tempat ini dalam keluarga, terlebih karena orangtuanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak menyediakan waktu untuk berbincang dengan anak-anaknya. Atau anak-anak yang enggan untuk menjadikan rumah mereka sebagai tempat untuk pulang karena orangtuanya yang berespektasi terlalu tinggi terhadap kehidupan anaknya, sehingga muncul banyak judgment yang tidak mengenakkan. Yang terjadi kemudian adalah anak-anaknya akan bergerak menjauh dari rumah, merasa kesepian, berjalan tanpa panduan dan cenderung untuk mengambil keputusan bukan berdasarkan informasi terbaik yang seharusnya mereka punya. Nggak jarang juga kita menemukan orang yang kehilangan kompas kehidupannya gara-gara tidak mendapatkan interaksi yang seharusnya mereka terima dari orangtua mereka.

Konsep ini harusnya diadopsi dimanapun kita berada. Menyediakan “ tempat untuk pulang” harus diletakkan dalam upaya untuk bisa memudahkan kehidupan orang lain. Seperti apa yang selalu dibilang oleh para tetua-tetua di PPI bahwa semakin banyak kita memudahkan kehidupan orang lain, maka hidup kita juga akan semakin dimudahkan. Mungkin akan susah untuk hanya sekedar menyediakan telinga untuk mendengar, pikiran untuk memberikan saran-saran sederhana atau waktu untuk berbincang ringan tentang kehidupan di tengah-tengah kehidupan kita yang sebenernya juga nggak bagus-bagus amat. Tapi kayanya, kita nggak akan pernah bisa menduga seberapa besar impact perbuatan kita terhadap orang lain, sesederhana apapun bantuan yang kita berikan.   

Maka benarlah apa yang teman-teman saya dulu bilang, “Mahir ngekek-ngekek adalah kunci penting untuk kehidupan yang lebih sukses, gembira dan bahagia.”

Salam uhuy!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s