Kalau nggak bisa tidur, kadang saya ngobrol ngalor ngidul sama Nesya. Salah satu yang pernah diobrolin adalah tentang pendidikan si bocah. Kita sih menyadari betul bahwa kita bakal sangat gagap mendidik si bocah di era teknologi yang sangat cepat ini. Dimana anak lebih suka nonton Youtube dibandingkan berinteraksi langsung dengan temannya di luar rumah, dimana anak cranky-nya bukan disebabkan karena pingin jajan di warung, tapi gara-gara dia pingin maen game di hape bapaknya. Tantangan-tantangan yang nggak pernah kami alami ketika kecil dulu. Jadi agak susah membayangkan bagaimana menyiasati problem-problem tersebut karena kurangnya pengalaman thdp hal tersebut.

Kami cuma berpikir bahwa menanamkan nilai-nilai dasar sebagai manusia itu sangat penting dilakukan sedari dini. Belajar menghadapi kegagalan, belajar menemukan solusi, belajar welas asih, belajar untuk jujur, belajar untuk minta maaf, belajar untuk minta tolong, belajar menghargai manusia, dan berbagai macam pembelajaran lainnya. Saya dulu pernah berteori bahwa pendidikan nilai dasar itu harus sudah selesai pada saat anak umur 12 tahun (pas udah lulus SD). Selepas usia itu, si bocah bakal masuk ke “hutan belantara” mini di dunia nyata. Di SMP, jelas dia akan menemukan dunia yang sama sekali berbeda dengan di SD. Dia akan menghadapi peer pressure dari lingkungannya, mungkin juga bakal dibully, bakal mencoba-coba hal yang baru dan bisa jadi berbahaya, dan berbagai macam problem lainnya yang dulu saya pun nggak mudah untuk menjalaninya. Tanpa penghidupan nilai-nilai dasar yang baik, saya rasa kok turbulensinya akan sangat kencang di usia-usia segitu.  

Kami rasa, menemukan siapa dirinya semenjak dari kecil adalah hal yang perlu dilakukan pertama kali sebagai orangtua. Menemukan talenta, memahamkan karakter dan keunikan sifat adalah hal-hal yang perlu untuk digali pertama kali. Kami sih nggak mau si bocah berkembang jadi “manusia anonim” (mengambil istilah dari guru SMA saya dulu).  

Manusia yang nggak paham akan identitas dirinya karena tenggelam dalam identitas komunalnya. Manusia-manusia jenis ini ibarat manusia tuna pikir, yang nggak pernah mau peduli apa yang diomongkan oleh tetua komunitasnya, pokoknya selama dia melihat bahwa yang berbicara adalah orang yang “dihormati”, maka dia akan berusaha untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari kelompok tersebut. Karakteristik seperti ini akan membuat seseorang mengabaikan kesadaran pribadinya karena dia tidak terbiasa untuk mensintesis apa yang terjadi di sekelilingnya, menganalis, baru kemudian mengeluarkan kondisi tersebut sebagai sebuah respon otentik dari pribadi tersebut. Seperti manusia yang berjalan tanpa otak aja gitu. Kalau ini ngomong A ya diikuti, kalau ini ngomong B ya diikuti. Tanpa pernah mau melakukan telaah kritis tentang alasan yang mendasari munculnya omongan tersebut. 

Ya bisa dipahami sih kalau untuk diterima dalam suatu kelompok atau ideologi tertentu, seseorang kadang harus melacurkan nurani/idealisme-nya dia supaya nggak ditendang secara paksa keluar dari sistem yang sudah bertahun-tahun terbangun.

Menurut saya sih nggak ada untungnya kita punya bonus demografi kalau kualitas sumber dayanya juga masih gini-gini aja. Nggak ada gunanya juga gitu, menang secara kuantitas tapi kalah jauh secara kualitas. Ibarat negara lain udah perang pake senapan mesin, tapi kitanya masih sibuk nyerang pake bambu runcing. Ya kalaupun berhasil menang, mesti lebih banyak korbannya lah. Tapi emang sih, perlu diakui kalau kita lebih senang berlindung di balik “keseragaman”, dibandingkan harus bersusah-susah mengalami turbulensi sosial gara-gara memperjuangkan apa yang kita yakini benar. 

Maka nggak heran bila kita jadi sangat terkaget-kaget dengan Jokowi yang berani melawan arus dominasi ketamakan di birokrasi yang sarat dengan budaya korupsi yang bertahun-tahun dirawat dan dipelihara. 

Ya emang gitu sih kalau mau jadi legenda mah, harus berani mempertanyakan, mempertahankan dan mendobrak tradisi-tradisi usang yang secara moral memang tidak benar. Kalau maunya jadi medioker ya bisa-bisa aja sih, hidup tenang tanpa gangguan, dan segala macamnya. Tapi, hidup kan sebenarnya tentang bagaimana kita meninggalkan legacy yang baik sehingga spirit hidupnya akan tetap dirawat bahkan ketika kita sudah meninggal.  

Disadari atau tidak, mudahnya berita bohong yang tersebar luas di sosial media adalah cerminan dari banyaknya manusia-manusia anonim di Indonesia. Yang mungkin akan menimbulkan ancaman bagi kehidupan interaksi sosial-ekonomi kita, bahkan sudah terasa dampaknya akhir-akhir ini. 

Mungkin ini adalah buah yang harus dipetik dari sistem pendidikan yang hanya menekankan murid untuk menghafal, tanpa mendorong adanya analisis. Ini adalah sebuah kondisi dimana pendidikan formal ternyata gagal untuk menciptakan orang-orang yang mampu bersikap kritis dan skeptis terhadap berbagai hal di sekitarnya. Bagaimana bisa bersikap kritis ketika jamak dijumpai bahwa pembungkaman keberagaman pola pikir itu paling masif malah terjadi di ruang-ruang kelas. 

Murid-murid kayanya nggak pernah dibiarkan untuk berkembang menjadi dirinya sendiri. Diberangus ketika berusaha untuk mengutarakan buah pikirannya. Salah seorang teman pernah cerita kalau dulu dia pernah dimarahi oleh gurunya hanya gara-gara dia mengkritisi cara gurunya menyelesaikan soal di papan tulis. Gila nggak tuh. Pendidikan macam apa yang malah membuat orang menjauh untuk memahami esensi kemanusiawiannya. Proses dimana seharusnya murid dipicu untuk mengolah pola pikir dan rasa, malah menjadi ajang pengkultusan guru-guru yang akan marah ketika terbukti salah, bukannya mengajak untuk menelaah.

Ada salah satu pelajaran waktu SMA yang menjadi sampai sekarang masih berusaha diterapkan dalam kehidupan keseharian, yaitu refleksi. Ini adalah satu dari tiga pilar utama  dalam pendidikan Ignasian (Yesuit). Saya lupa apakah ada pelajaran khusus terkait ini. Tapi, sering sekali kayanya kami disuruh untuk menilik kembali apa yang baru saja dilakukan (misalnya habis live in atau apapun) dan menuliskan hal tersebut. Waktu itu sih, nggak banyak anak yang suka dengan proses ini karena membosankan, nggak menarik, tampak tidak ada faedahnya bagi kehidupan, dan berbagai macam alasan khas anak-anak SMA. Namun, bagi sekolah, proses ini adalah bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dalam upaya menjadi mendidik manusia-manusia dengan kepribadian yang utuh. Yang tidak sekedar mem-beo dan gampang meng-iyakan ucapan orang lain. Supaya sebagai manusia bebas, si murid bisa juga bertanggungjawab terhadap pilihan yang diambil dan tidak gampang reaktif dengan situasi-situasi eksternal.

Hal paling menyebalkan dari proses ini adalah kita harus mau jujur pada diri sendiri. Yang mana, pada beberapa situasi, bahkan ketika kita harus bicara pada diri sendiri saja, ada kecenderungan untuk berbohong, menutup-nutupi, merasionalisasi, atau ngeyem-ngeyemi sebuah kondisi yang sebenarnya nggak baik-baik banget. Tapi, ya itulah, refleksi akan membuka ruang-ruang kesadaran atas pengalaman yang sangat mungkin terlewat karena ritme hidup yang sangat cepat. Kalau bisa dibilang sih, semacam belajar meditasi. Bagi saya, proses ini sangat menarik dan sangat perlu diterapkan di sekolah-sekolah lainnya. Ini menjadi penting karena manusia itu gudangnya salah. Jadi, kalau kita tidak pernah melihat kembali pengalaman-pengalaman kita sebagai manusia, ya kayanya kita nggak pernah bisa beranjak untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Ada banyak cara manusia untuk bisa menemukan siapa dirinya sendiri sehingga tidak berkembang sebagai manusia anonim, salah satunya mungkin lewat refleksi. Dengan cara ini, kita akan “nyaman” berteman dan berdamai dengan diri sendiri. Bisa menyadari serta memahami setiap pola pikir, omongan dan tindakan diri sendiri adalah hal yang sangat amat sulit dilakukan akhir-akhir ini. Apalagi, di tengah kepungan untuk “nggak apa-apa” menjadi manusia autopilot. Ya begitulah, agak susah untuk mengurai benang yang udah terlanjut kusut mah.    

Namun, kalau dipikir-pikir lebih lanjut, sebenarnya pangkal masalahnya cuma satu: 

Kalau kita masih butuh validasi atau pengakuan orang lain untuk bisa ngerasa bahagia, yang gini-gini mah nggak akan pernah selesai.

Hashhhhh…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s