Kemarin saya baru aja baca berita tentang populasi Jepang. Di berita tsb, disebutkan kalau penduduk Jepang akan turun sebanyak 40 juta di tahun 2065, dimana 40% nya adalah orangtua dengan umur 65 tahun. Posisi sekarang jumlah penduduk adalah 127 juta dengan jumlah kelahiran pada tahun lalu hanya mencapai kurang dari 1 juta kelahiran sehingga pada tahun tersebut estimasi jumlah penduduknya cuma sebesar 88 juta. Jumlah kematian juga lebih banyak dibandingkan kelahirannya sehingga pertumbuhan penduduknya menjadi negatif. Kondisi ini adalah situasi pelik yang bikin pemerintah Jepang pusing tujuh keliling. Mereka sudah mulai kampanye masif tentang fasilitas-fasilitas bagi ibu bekerja yang akan punya anak dan berbagai macam iming-iming lainnya. Bahkan ada pemerintah daerah yang sengaja bikin kondom tapi dilubangi buat meningkatkan angka kehamilan (hahaha, lupa baca sekilas dimana). Anjay banget. Tapi, tampaknya usaha ini belum juga membuahkan hasil. Orang-orang Jepang masih juga enggan untuk berkeluarga, apalagi memiliki keturunan.

Ditambah lagi, kebijakan kran imigrasi juga agak ragu-ragu untuk dibuka terlalu lebar, nggak seperti negara lain di Eropa yang lebih welcome terhadap pendatang ketika mereka menghadapi stagnasi pertumbuhan penduduk. Ya walaupun harus diakui bahwa menerima pendatang dalam jumlah masif juga punya dampak sosial yang perlu dipertimbangkan demi kemaslahatan interaksi sosial sih.

Tapi, ya saya kira wajar aja sih kalau pemerintah masih ragu-ragu. Jepang ini baru bisa membuka diri terhadap dunia luar tahun 1868, pada waktu restorasi Meiji. Setelah pada saat Edo period, selama 250 tahun mengisolasi diri dari dunia luar. Itupun proses membuka dirinya nggak dilakukan secara sukarela, ada intrik-intrik politik kekuasaan dan ekonomi yang akhirnya harus memaksa penguasa waktu itu untuk menerima negara lain menancapkan pengaruhnya di negeri ini. Agak maklum kalau (mungkin) ada trauma yang membekas sampai sekarang. Alhasil, jumlah usia produktif makin berkurang dan sudah mempengaruhi pergerakan ekonomi di perusahaan-perusahaan.

Ketika saya boker, saya pun mikir, ini kenapa ya kok banyak orang Jepang nggak mau nikah dan  punya anak. Padahal kan ya enak, punya anak yang lucu-lucu, bisa maen-maen bareng menghilangkan penat kalau lagi stres di kantor atau kerjaan. Atau, apa ya nggak pingin to wanita-wanita Jepang tu bertransformasi menjadi mamah-mamah muda beranak dua kaya Dian Sastro tapi tetep berhasil memikat hati para jejaka? Hahaha.

Saya pun mikir, ini sih kayanya dampak nggak langsung dari pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat di negara ini. Jepang, setelah perang dunia ke-II berkembang jadi negara super kaya di dunia. Situasi ini jelas mempengaruhi keputusan para penduduknya untuk bisa menikah. Kalau kita lihat lagi negara-negara dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang paling rendah di dunia, pasti didominasi oleh negara-negara maju semacam Monaco, Jerman, Singapura, Taiwan, dan lain sebagainya. Sementara itu, ranking negara dengan angka kelahiran paling tinggi ditempati oleh negara-negara yang notabene negara miskin/negara berkembang (kebanyakan sih berada di Afrika). Niger, Burundi, Mali, Somalia, dan Uganda adalah 5 negara dengan angka kelahiran 5-6 anak per wanita. Anjay. Gila banget. Di jaman modern kaya gini masih ada aja negara yang angka rata-rata kelahirannya segitu banyaknya. Nggak pusing apa, si emak-emak itu ngurusin anak segitu banyaknya. Heran.

Gara-gara penduduknya kaya, maka orang-orang di negara maju jelas punya kebutuhan lebih tinggi untuk memenuhi rasa emosionalnya yang paling personal. Udah capek di kantor, dimarah-marahin sama bos, belum lagi tagihan-tagihan yang super banyak. Masak ya masih harus meng-handle anak-anak yang tingkahnya nggak karuan di rumah. Apalagi kalau anaknya masih kecil dan butuh perhatian ekstra. Ya mesti mereka males lah kalau harus ada tanggungjawab tambahan setelah beban pekerjaan yang teramat berat. Alhasil, ya mending nggak usah nikah sama punya anak aja lah. Apalagi nge-maintain relationship juga susah, istri/suami juga kadang nggak jelas maunya apa, seringnya marah-marah muluk. Kan ya malah bikin hidup tambah runyam to? Bukan malah bikin bahagia. Bahkan, di dokumenter BBC, ada dua orang pria Jepang usia 30 tahun yang diwawancarai tentang alasan untuk nggak punya relationship. Jawabannya asoy banget. “Ngapain saya menjalin hubungan sama wanita asli kalau saya bisa ngerasa puas dengan wanita di virtual game. Mereka setia ngebangun tiap pagi, nemenin jalan ke kantor, tanpa pernah menuntut apa-apa”, kata mereka. Hahaha.

Lagipula, ngapain juga harus susah-susah membina rumah tangga kalau koneksi internet super cepat kaya di sini. Kalau bosen ya tinggal nonton Youtube atau nonton film atau nonton lainnya. Belum lagi, hiburan-hiburan juga tumpah ruah dimana-mana. Ada klub, bar, cafe atau nonton AKB48 juga bisa jadi pilihan yang menarik. Distraksi-distraksi yang tidak memerlukan komitmen + tanggungjawab tambahan itulah yang membuat orang-orang jadi makin males untuk berumahtangga.

Sebenarnya, Jepang tu harusnya studi banding dan mengadopsi kebijakan-kebijakan Indonesia selama orde baru kok. Dulu Indonesia berhasil menaikkan jumlah populasi pada jaman dimana belum ada listrik sama belum ada internet. Tahun-tahun setelah kemerdekaan mana ada hiburan-hiburan macam jaman sekarang. Satu-satunya hiburan yang bisa dilakukan ya bikin anak. Emang mau ngapain lagi kalau udah habis maghrib? Mau baca buku ya susah karena nggak ada lampu, mosok ya disuruh nangkepin jangkrik muluk tiap hari. Ya nggak mungkin kan.

Makanya, mungkin pemerintah Jepang tu harus mulai mikirin untuk bikin kebijakan yang nggak populis. Koneksi internet akan dimatikan maksimal jam 7 malam, hiburan-hiburan boleh buka cuma sampai jam 8 malam, listrik di rumah bakal dimatikan di atas jam 9. Kalau semua distraksi-distraksi itu di-shut down sama pemerintah pusat, akan tercipta one-kind entertainment yaitu having sex. Ya dengan itu, pasti angka populasinya akan makin merangkak naik lah. Wkwkwk. Coba dipake deh solusi ini, dijamin berhasil!

Tapi, kalau solusi itu dirasai nggak feasible. Ada salah satu solusi instan yang tampaknya perlu untuk dipertimbangkan dengan matang. Kalau dianalisis secara lebih mendalam, sebenarnya keengganan orang-orang Jepang untuk menikah dan punya anak adalah kegagalan negara ini untuk mengembangkan budaya arisan ibu-ibu PKK.

Kenapa bisa begitu? Arisan ibu-ibu sangatlah identik dengan stigma emak-emak rempong yang selalu sibuk nyinyirin urusan rumah tangga orang lain. Dengan munculnya budaya arisan, tentu saja akan berkorelasi positif dengan jumlah gosip dan omongan tetangga yang akan muncul di telinga. Kondisi ini jelas akan berpengaruh langsung terhadap social pressure terhadap para emak yang punya anak belum menikah atau udah menikah tapi menunda untuk punya anak. Emak-emak macam itulah yang pasti akan dijadikan target sasaran nyinyiran si emak-emak yang lain. Emang di dunia ini apalagi sih hal yang lebih mematikan dan menyakitkan dibandingkan nyinyiran emak-emak? Nggak ada kan? Nah, karena dorongan eksistensi dan keinginan untuk diterima dalam kumpulan emak-emak arisan, lalu si emak pun akan ciprik terhadap anaknya dong. Ya yang diciprikin pasti lama-lama nggak betahlah dengan semua omelan emaknya. Alhasil mereka pun menyerah dengan keadaan terus menikah dan punya anak. Tentu dengan harapan, social pressure-nya terutama dari si emak akan berkurang dengan drastis. Padahal, mereka nggak tau aja kalau nyinyiran orang mah nggak akan pernah berhenti sampai kita mati, wkwkwk. Ya gitu deh, coba aja pemerintah Jepang mengimpor emak-emak arisan macem itu untuk tinggal di Jepang dan mulai membudidayakan budaya gosipan dan nyinyir. Pasti angka pernikahan bakal melonjak drastis. Percaya deh. Hahaha.

Ah ya gitu deh, kasian juga pemerintah Jepang puyeng bgt mikirin solusi buat menambah populasi negara ini. Sebenarnya kalau kran imigrasi tu mau dibuka dengan lebih mudah, ini enak banget lho kalau mau “menduduki” negara ini. Apa sih yang paling penting dari sebuah negara? Menurut ane sih infrastruktur. Indonesia aja masih harus ngebut dalam membangun infrastruktur semenjak Pak Jokowi menjabat. Sementara di sini, sistem dan jalur kereta sudah terkoneksi dengan baik sejak puluhan taun lalu, jalanan juga bagus banget sampai ke pelosok-pelosok, asuransi kesehatan juga udah well-established. Ibarat kata orang travelling, tinggal bawa badan doang kalau mau hidup di sini mah.

Ah, kapan kepinginan itu bisa jadi kenyataan. Mungkin masih beberapa tahun lagi. Padahal, saya tu udah selalu membayangkan lho, kalau besok harus tinggal di sini lagi waktu udah tua. Mungkin ane udah bisa ngirim sms gini pas ngajakin nongkrong,

“Gaes, nanti malem jangan lupa ya kite nongkrong makan tabehodai nasi padang sama sate klathak Pak Pong sambil minum es tape di depan Osaka Station.C u there!”

Wanjaaayyy. Asik. Wkwkwk.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s