Akhir-akhir ini, saya sangat sedih. Tolong jangan beranjak dulu. Cerita ini tidak akan berakhir menye-menye seperti remaja galau yang ditinggal oleh pacarnya. Ataupun berkeluh-kesah layaknya seorang wanita muda yang diberi harapan palsu oleh lelaki pujaannya. Bukan. Ini bukan seperti itu. Saya sebenarnya tidak ingin menambah kesedihan di tengah situasi yang semakin carut marut. Tapi, mau tidak mau, ini harus diceritakan.

Baru-baru ini saya harus menerima kenyataan bahwa istri yang sangat saya cintai sedang sakit kronis. Dia yang dulunya berwajah cantik, perlahan-lahan kehilangan semua sinar di wajahnya. Muram dan kusam. Dua kosakata yang akhir-akhir ini lekat sekali dengannya. Entah sudah berapa lama saya menanti untuk istri saya bisa sembuh. Berkali-kali saya diberikan asa akan kesembuhan, yang ternyata hanya omong kosong belaka. Mungkin saya memang harus merelakan dia untuk terus bergelut dengan sakitnya.  Betapapun saya tahu penderitaan yang dia rasakan atas kondisinya.

Mari bercerita sedikit tentang istri saya. Semoga ini menjadi kisah cinta yang menarik.
Saya pertama kali bertemu dengan istri saya sekitar 13 tahun yang lalu. Waktu itu saya sedang bercengkrama sendirian malam-malam di sebuah cafe. Di tengah udara yang dingin, saya melihat seorang wanita muda yang sangat cantik melewati pintu cafe itu. Menyapa barista dengan senyumnya yang hangat, “Mas, kaya biasanya ya…” “Oke mbak, tumben mampir mbak, lama nggak ketemu…” balasnya. Ah, ternyata dia langganan cafe ini. Mukanya sangat sumringah, mungkin saja dia baru saya naik gaji atau habis memenangkan sesuatu. Segala sesuatu tentang dia langsung terpatri di dalam benakku malam itu.

Terus terang,  saya mulai merasa bosan dengan asmara nomaden, gonta-ganti pacar setiap setahun sekali. Tidak juga berhasil memenuhi rongga hati yang masih saja menganga. Mungkin ini malam keberuntunganku. Saya pun memberanikan diri untuk beringsut mendekatinya. Menyapa basa-basi. Dia pun membalas dengan senyumnya yang manis. Ah, mungkin memang ini jodohku. Tidak terasa kami ngobrol sekitar 2 jam lamanya. Semakin saya menyelami kepribadiannya. Semakin saya yakin bahwa ini adalah wanita yang dikirimkan Tuhan untuk mendampingiku.

Tidak butuh waktu lama sejak pertemuan itu. Kami pun menikah. Upacaranya sederhana saja. Hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat terdekat. Rumah tangga kami berlangsung harmonis selama 2 tahun pertama. Sampai pada akhirnya, dia berkata ingin membangun rumah baru untuk kedua orangtuanya. Maklum, rumah yang dia tinggali semenjak kecil sudah tergolong reyot. Singkat cerita, karena sifatnya yang ambisius, dia pun merancang rumah yang sangat mewah untuk orangtuanya. Tentu butuh dana yang tidak sedikit. Dia pun akhirnya berutang pada pihak bank dalam jumlah yang sangat besar.

Pembangunan rumah itu adalah titik balik dari hubungan kami. Ambisinya ternyata tidak cukup mampu untuk mencicil utangnya di bank yang terus membengkak karena bunga. Sedangkan di sisi lain, dia tidak ingin menerima sepeser pun uang dariku. Baginya ini adalah wujud tanda baktinya sebagai seorang anak untuk membahagiakan orang tua. Akhirnya, semua aset-aset yang sejak dulu dia kumpulkan. Dijual demi pembangunan rumah itu. Tidak ada lagi perhiasan-perhiasan berharga yang terpampang di tubuhnya. Tidak ada lagi make-up nomor wahid yang selalu menghiasi wajahnya yang memesona. Semua dia korbankan demi rumah tersebut.

Lambat laun, depresi yang berulang kali menimpa, membawanya pada kondisi psikologis yang teramat parah. Wajahnya sudah tidak secantik dulu. Kemampuannya bersolek tidak lagi menarik perhatian. Dia hanya mampu membeli perhiasan ala kadarnya. Mengais-ngais berharap mendapatkan perhiasan kelas satu di tukang loak. Utopis. Tapi, hanya itu yang bisa dia lakukan. Tutur katanya sudah penuh dengan pesimisme. Olok-olok adalah santapan pahit yang harus dinikmatinya setiap hari. Tidak ada lagi gelora yang muncul dalam setiap tindak tanduknya. Antusiasme dan kegembiraan sudah dia museumkan dalam kabinet kayu yang kotor berdebu. 

Dulu, dia sering ikut arisan ibu-ibu muda kosmopolitan. Tempat dimana dia bisa bersosialiasi dengan wanita-wanita terkaya yang ada di lingkaran pertemanan kami. Dia selalu nyaman berada di tengah-tengah mereka. Walaupun dia tidak pernah bisa tampil sebagai wanita yang paling cantik, tapi kehadiran istri saya cukup menyita perhatian. Hampir semua wanita mengakui bahwa dia adalah wanita yang sangat anggun. Seorang wanita yang bisa menyihir setiap orang dengan gaya bicara dan tutur kata yang memikat. 

Namun, saya ragu dia bisa kembali ke lingkaran itu dengan kondisinya sekarang. Dia tidak lagi bisa bersaing dengan wanita-wanita itu. Dia pun harus menerima kenyataan terlempar dari pertemanan yang sedari dulu bersamanya. Apakah yang lain peduli? Ah, mereka hanya peduli dengan diri sendiri. Malahan, mereka bersorak ketika salah satu pesaing tersungkur jatuh dalam penderitaan. Tak acuh dan tetap saja berlomba untuk menjadi ratu di kelompok itu. Mengenaskan.  

Layaknya seorang suami yang normal, tentu saya mengharapkan bahwa dia akan tetap anggun dan elegan seperti ketika saya menjumpainya pertama kali. Namun, apa daya, bibit-bibit penyakit mulai menggerogoti organ tubuhnya teramat parah. Saya sudah membujuknya untuk mencari second opinion. Mungkin ada jalan keluar kalau dia mau berganti dokter. Mengingat dokter yang menanganinya sudah terlampau tua. Memang, dokter itu adalah dokter langganannya. Mulai dari dia masih cantik sampai sekarang dia dalam kondisi tidak berdaya. Tapi, bagi saya, metode pengobatan dokter tersebut sudah kuno. Sama sekali tidak bisa uptodate dengan perkembangan jaman. Alhasil, istri saya diberi pengobatan yang sama terus menerus. Walaupun (mungkin) dia sendiri sudah tahu kalau obat yang dia berikan sudah tidak lagi manjur untuk mengembalikan kecantikan istri saya. Dokter itu terlampau bebal untuk mau menerima kemajuan jaman. Bagi dia, pengobatan kuno adalah cara terbaik untuk mencapai kesembuhan. Cuih. Basi.

Situasi ini terbaca jelas oleh orangtua saya. Mereka berulang kali menyarankan untuk mencari istri baru. Mereka beralasan bahwa tidak ada gunanya lagi kamu mempertahankan dia. Toh, dia sudah tidak cantik seperti dulu. Mereka juga enggan untuk mengajaknya lagi ke pesta pernikahan. “Memalukan keluarga”, begitu mereka berkata. Terang saja, saya menolak dengan keras ide itu.

Sebenarnya, akan gampang bagi saya untuk  menikah lagi. Toh, banyak juga teman saya yang gonta-gonti istri. Bosan dengan istri yang lama. Cerai. Menikah lagi dengan wanita yang lebih muda. Kata mereka, “Buat apa kamu mempertahankan pernikahan bila sudah tidak ada gairah? Lagipula, saya punya penghasilan yang lebih dari cukup untuk menarik wanita manapun yang saya suka.”

Saya tidak habis pikir. Lelaki macam apa yang hanya mau mendampingi istrinya hanya ketika dia masih cantik. Kalau hanya seperti itu. Urusan akan jadi sangat gampang. Semua lelaki juga bisa.Tidak bisa dipungkiri, bahwa sempat terbersit untuk berpindah hati ke wanita lain. Mungkin hidup akan jauh lebih menyenangkan dibandingkan sekarang. Namun, setiap niatan itu muncul, selalu ada pikiran yang mengingatkan saya pada ucapan 12 tahun lalu.

Waktu itu, saya sudah berucap untuk mencintainya dalam suka maupun duka, dalam sehat ataupun sakit. Tetap mendampingi sampai maut memisahkan. Janji itu terlampau sakral. Saya tidak punya keberanian untuk mengkhianati janji sesuci itu. Karakter sejati seorang lelaki memang baru tampak kalau dia bersedia menemani wanita tercintanya melalui masa-masa terkelam dalam hidupnya. Bukan malah meninggalkannya ketika sudah tidak mampu bersolek. Bukan seperti itu lelaki seharusnya bersikap.

Mungkin, saya memang harus bertahan ditempa dengan siksa batin yang entah kapan akan berakhir.  Saya sudah tidak peduli dicibir sebagai penikmat sadomasokis kelas kakap yang hobinya menyiksa diri sendiri. Bagi saya, hidup bukan melulu tentang siapa yang paling cantik, siapa yang berdandan paling glamor, siapa yang memakai tas paling bermerek. Hidup lebih berharga daripada semua hal-hal superfisial itu.

Atau, mungkin saya yang terlalu naif? Bersikeras untuk tunduk menghamba pada kesetiaan.

Tapi, hal apa di dunia ini yang lebih mulia dibandingkan kesetiaan pada istri tercinta?

Saya cuma punya satu harapan yang tersisa. Saya hanya ingin melihat dia kembali tersenyum bahagia seperti dahulu kala.

Oh iya, saya sampai lupa belum memperkenalkan istri saya tercinta.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

Namanya adalah Arsenal.


# Posisi 5, dikangkangi Tottenham Hotspurs setelah 20 sekian tahun, nggak masuk liga Champion setelah 21 tahun, paling besok juga kalah sama Chelsea di piala FA. Sanchez dan Ozil nggak perpanjang kontrak. Cazorla cedera sampai entah kapan. Dark age.
#Wengerout #AllenatoreItalyIn #Gazidisout

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s