“Congratulations to Rayo Vallecano for Spanish League Championship 2029-2030!”

Itulah spanduk yang mungkin terpampang di ruang ganti para pemain Rayo Vallecano. Sebuah klub yang bermarkas di Madrid tapi bernasib sangat jauh berbeda dari dua raksasa dari Madrid lainnya, Real Madrid dan Atletico Madrid. Bagi sebagian orang, ungkapan itu hanyalah menjadi sebuah khayalan kosong yang tidak akan pernah bisa terwujud. Skeptisme yang bagi saya sangat beralasan, mengingat hampir semua sumber daya (uang.red) seperti dimonopoli oleh dua klub teratas negara itu, Real Madrid dan Barcelona. Sedangkan, klub-klub miskin macam mereka hanyalah menjadi pelengkap bagi sebuah liga. Kasian sekali.

Inilah yang membuat Liga Spanyol tidak menarik lagi. Dominasi yang tak kunjung bisa terpatahkan hanya menuai kebosanan bagi para penggemarnya. Bahkan saya sangsi ada penggemar klub-klub gurem macam Rayo Vallecano selain mereka yang berada satu kota dengannya. Inilah yang terjadi bila persebaran uang tidak merata dalam satu liga tertentu. Mereka yang kaya tentu akan lebih punya daya dan upaya untuk bersaing di level juara, dibandingkan dengan mereka yang seret secara keuangan. Kalau kita secara random mencari di Google tentang revenue klub-klub Liga Spanyol sebelum tahun 2016-2017 (*tahun ini mereka mengubah model distribusi hak siar TV), kita bisa lihat bahwa pendapatan paling besar diperoleh oleh Madrid dan Barcelona dengan revenue sekitar 140 juta Euro. Sedangkan, klub-klub semenjana macam Rayo Vallecano hanya mendapatkan 18 juta Euro! Hampir 8x lebih rendah. Situasi yang sama juga terjadi di Liga Italia yang didominasi oleh Juventus. Bayangkan, bagaimana klub-klub macam itu bisa memberikan perlawanan yang mumpuni untuk klub-klub langganan papan atas. Yang ada mereka biasanya cuma jadi bulan-bulanan para penyerang kelas wahid. Nggak adil banget emang.

Munculnya Chelsea dan Manchester City sebagai kekuatan baru sepakbola Inggris adalah contoh gamblang bagaimana kekuatan uang bekerja. Sebelum mereka diakusisi oleh Abramovic dan Syekh Mansour, siapa yang kenal sama klub nggak ada sejarahnya macam mereka? Nggak ada kan. Begitu dibeli sama orang-orang super kaya itu, baru mereka bisa mencuri dan mengumpulkan pemain-pemain terbaik dan akhirnya bisa menjadi kampiun liga tersebut.

Tapi, di balik invasi para milyuner itu, Liga Inggris bisa menjelma sebagai salah liga yang paling menarik di dunia.Tidak ada liga sepakbola lain di dunia yang seketat Liga Inggris. Sebuah liga dimana klub yang berada dalam jurang degradasi saja bisa mengalahkan klub-klub papan atas. Bahkan, kalau nggak salah, satu atau dua tahun lalu, ada masanya dimana klub-klub Liga Inggris bisa. Contoh mutakhir musim lalu adalah Arsenal yang harus takluk 1-2 lawan Watford yang pada akhir musim hanya menempati posisi 17. Selain gara-gara Arsenal yang emang katrok, saya kira kondisi tersebut sangat jarang terjadi di liga-liga lainnya.

Salah satu kunci dari kompetitifnya Liga Inggris adalah persebaran hak siar TV yang tidak begitu jauh antar klub-klub papan atas dan papan bawah. Sebagai contoh, tahun 2013-2014, Liverpool, yang entah tahun berapa terakhir kali menang liga, memperoleh pendapatan yang paling tinggi (117 juta euro), sedangkan Cardiff dengan revenue paling kecil saja bisa mendapatkan 74 juta euro. Ini hampir 4x lipat lebih besar dari revenue paling kecil di Liga Spanyol dan Liga Italia. Hak siar TV bisa menjadi salah satu pendapatan paling vital dari sebuah klub sepakbola. Cardiff menggantungkan 81% finansial klubnya dari hak siar TV, dibandingkan dengan Arsenal yang hanya mengambil 31% proporsi dari uang ini. Bisa dilihat dengan jelas linearitas antara persebaran kemakmuran dengan tingkat kompetisi sebuah liga di Eropa kan?

Saya nggak habis pikir, Amerika aja yang dikenal sebagai negara paling kapitalis, bisa menerapkan prinsip sosialisme dalam liga-liga olahraga mereka. Contoh paling gampang adalah Golden State Warriors yang menjadi juara 2x dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Tahun 2012, siapa sih yang bakal menyangka bahwa GSW bisa hampir triplet juara dalam kurun waktu hanya 2 tahun? Nggak ada yang kenal Steph Curry, Klay Thompson, Draymond Green. Periode pergantian juara yang sangat singkat menandakan bahwa liga tersebut adalah liga yang sehat. Setiap klub betapapun guremnya mereka saat ini, diberi kesempatan yang sama untuk bisa rebuilding team dan menjadi kompetitif di masa depan (seperti yang dialami Bucks, Wolves, atau 76ers untuk masa sekarang). Sebuah sistem yang tidak akan pernah disetujui oleh klub-klub langganan juara di Eropa.

Selain itu, adanya salary cap membuat arena tanding menjadi seimbang. Klub-klub tidak bisa memberikan gaji jor-joran yang bertujuan untuk menarik minat pemain-pemain terbaik untuk bergabung dengan klub mereka. Ya, walaupun sejak tahun 2009, UEFA udah menerapkan Financial Fair Play (FFP), tapi kayanya itu nggak cukup ampuh untuk meratakan arena tanding. Jadinya ya, kita nggak bakal tahu kapan kompetisi sepakbola di Eropa bisa berlangsung dengan kompetitif.Ah, andai aja ada salary cap di Liga Inggris, mungkin si Theo Walcott yang nggak ngasih kontribusi apa-apa udah ditendang dari Arsenal sejak kapan tahun.

Inilah salah satu alasan saya mendukung Arsenal. Arsene Wenger betapapun kolotnya dia dalam hal taktik dan strategi permainan. Perlu diakui bahwa dia menjalankan manajemen Arsenal dengan cara yang sangat sosialis. Dia tidak terbuai dengan gemerlapnya kapitalisme dengan gelontoran uang untuk membeli seorang pemain. Walaupun, kadang-kadang (sering sih sebenernya), prinsipnya ini sangat menjengkelkan karena secara tidak langsung berdampak pada performa tim yang super angin-anginan. 

Memang perlu diakui bahwa kekuatan modal telah mencerabut esensi kompetisi dari sepakbola itu sendiri. Olahraga yang sejatinya hanya urusan teknik dan strategi di lapangan harus tercampuri oleh faktor-faktor non-teknis yang kadang malah jadi penentu sebuah pertandingan. Kalau udah tercampur dengan pride dan bisnis, olahraga itu tidak lagi fair secara competitiveness. Lari, badminton atau olahraga-olahraga individual masih bisa kita bilang fair karena itu benar-benar mengandalkan kompetisi antar manusia.  

Jadi benarlah apa yang dikatakan oleh Platini bahwa sepakbola harus kembali ke akar yang sesungguhnya, yaitu adu kompetisi di atas lapangan, bukan lebih ke arah adu kompetisi finansial. Kalau terus berlarut dalam dominasi kapital para klub-klub dengan gelimang harta, mungkin bagi klub-klub kismin macam Rayo Vallecano, menjadi juara liga hanyalah utopia mewah yang hanya bisa dinikmati lewat layar game saja.  

Sumber:

  1. http://www.telegraph.co.uk/sport/football/competitions/premier-league/11604019/Why-TV-cash-is-vital-for-Premier-League-clubs.html
  2. http://www.goal.com/id-ID/news/1108/sepakbola-inggris/2013/06/26/4074948/fan-view-financial-fair-play-sepakbola-ke-arah-sosialisme
  3. http://www.salon.com/2014/12/22/nbas_socialist_revolution_how_a_new_plan_could_radicalize_the_league_and_america/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s