Beberapa waktu lalu, kami pergi ke Umeda. Karena waktu udah larut malam, maka kami pun memutuskan untuk naik bis menuju ke rumah. Di dalam bis, saya pun bilang ke Nesya “Eh, aku nggak punya uang kecil sama sekali lho di dompet, kamu punya nggak?” Dia pun membalas, “Coba deh cari di dompetku, kayanya masih ada…” Akhirnya, saya pun ngubek-ubek dompetnya dia, ternyata dia sama sekali nggak punya uang kecil. Cuma ada selembar 10.000 Yen yang tersisa. Saya pun ingat kalau semua uang kecil sudah dihabiskan untuk membeli tiket kereta.

Waduh, gimana ya? Padahal halte tujuan sudah tinggal sebentar lagi. Dalam kebingungan, saya pun berusaha untuk menukarkan uang pada penumpang lain, tapi usaha itu nggak membuahkan hasil. Mereka malah menyarankan untuk bilang aja ke pak sopirnya kalau nggak punya uang kecil. “Lah, gimana sih, kok malah harus bilang ke sopirnya, aneh banget”, kataku dalam hati. Akhirnya, karena sudah sampai di halte tujuan. Saya pun terpaksa harus bilang ke sopirnya kalau saya Cuma punya uang 10.000 Yen.

Saya awalnya mengira kalau dia pasti bawa beberapa uang kecil yang bisa dipakai buat menukar. Biasanya di Indonesia juga gitu kan? Kalau uangnya gedhe banget ya pasti si pak sopirnya pasti menyiapkan kembalian buat penumpang. Tapi, saya sadar bahwa di sini, semua pembayaran dilakukan lewat mesin. Kita bayar pakai uang pas dan biasanya receh karena Cuma berkisar 220-400 yen tergantung jarak. Kalau semisal kita nggak punya receh pun, kita harus masukin uang maksimal 1000 yen ke mesin di samping sopir dan mereka akan memecah uang tersebut dalam beberapa nominal yang lebih.

Nah, tapi kondisi ini adalah kejadian pertama kali yang kami alami. Nggak pernah ada pengalaman sebelumnya. Akhirnya, setelah saya bilang ke pak sopirnya, dia pun dengan entengnya bilang, “Ya udah nggak papa, besok lagi kalau naik bis, kamu bayar buat dua kali ya…” Gile. Saya pun melongo keheranan gara-gara ucapan si bapak sopir itu.

Spontan saya bilang sama Nesya, “Wah..ini kalau nggak punya duit, bisa dipakai buat naik bis gratis nih ya berarti. Bisa disebarkan ilmunya ke semua orang nih, hahaha.” Dia pun menjawab, “Iya juga ya..aku juga heran kok dia bisa percaya-percaya aja sama penumpang yang nggak dia kenal, orang asing pula..kayanya aku sangsi kalau ucapan kaya gitu bisa dengan mudah diucapkan sama sopir-sopir di Indonesia…Yang ada malah dimarah-marahin gara-gara nggak nyiapin duit kecil…”

Kami pun turun dari bis dan mulai jalan menuju rumah. Saya yang masih larut dalam kegembiraan karena mendapatkan tips untuk naik bis gratis pun mikir. Lalu, saya bilang ke Nesya, “Eh, kayanya ada yang salah deh sama ucapanku tadi.” “Kenapa emang?,” balasnya. “Ya menurutku agak aneh aja pemikiran yang kaya tadi. Soalnya ya masak kita mau menukarkan integritas kita hanya demi duit 220 yen sih? Padahal si Pak Sopirnya udah berbaik hati memberikan kepercayaan penuh terhadap kejujuran kita. Masak yang kaya gitu mau dengan gampang dikhianati sih? Lagian, selalu ada balasan untuk setiap perbuatan jelek kan? Ya bisa aja kita nggak bayar 220 yen sekarang, tapi mungkin di lain waktu kita harus membayar kecurangan itu dengan uang yang jauh lebih besar. Nggak mau lho aku kalau harus kaya gitu.”

“Iya juga sih Pink, kenapa ya mereka kok bisa terbangun budaya kaya gitu ya? Heran banget lho aku.”

“Ho..nggak tau ya kenapa. Tapi (mungkin) kultur itu akan sulit berlaku sih kalo di Indonesia. Ya aku nggak bilang kalau semua orang nggak jujur sih, tapi kayanya kita tu seneng kalau bisa ngakalin sesuatu gitu. Iya nggak sih? Hahaha..” kataku.

“Emang bener sih, ga tau, mungkin ada hubungannya sama banyak orang yang masih merasa “tidak sejahtera” kali yak, jadi urusan-urusan value penting kaya gini jadi nggak tersadari sebagai sesuatu yang harusnya tiap orang hidupi sih. Kalau di sini kan masyarakatnya relatif udah sejahtera, at least kebutuhan pokoknya terpenuhi. Kalau mereka bisa makan, minum, dan punya rumah yang layak, ya nilai-nilai kaya gini gampang aja diterapkan dalam kehidupan mereka.”

Ane pun menimpali, “Ah masak gitu sih? Ya mungkin itu bisa menjelaskan sebagian. Tapi, sudut pandang makmur dulu sebelum beradab itu bakal langsung patah kalau kamu liat banyak banget pejabat yang jadi maling lho. Seenak-enaknya aja nyuri duit dalam jumlah banyak. Emang mereka nggak makmur po? Emang mereka nggak bisa makan po? Nggak cukup minum? Nggak tinggal di rumah mewah dengan segala fasilitas yang nggak pernah bisa kita bayangin? Mereka dalam kondisi lebih dari makmur. Tapi dengan hidup yang kaya gitu aja mereka masih serakah untuk nguasain dan ngemalingin duit yang seharusnya bukan jadi haknya.”

“Ya aku nggak ngerti faktor apa yang lebih rentan bagi seseorang untuk mengkhianati integritasnya, apakah kondisi pra-sejahtera atau orang serakah yang pingin lebih kaya. Tapi analoginya mungkin gini, semisal kamu kerja di perusahaan tertentu,  terus kamu disuruh berbuat curang sama bosmu. Malsuin laporan keuangan, cotohnnya. Kalau kamu nggak ngelakuin, kamu bisa terancam dipecat. Sedangkan, masih ada 2 anak dan 1 istri yang harus kamu kasih makan. Kalau dipecat terus nasib mereka gimana dong? Kalau nggak bisa makan gimana? Siapa yang harus menanggung semua biaya hidupnya mereka. Kalau udah dihadapkan dalam situasi kaya gitu, apalagi kita nggak punya safety net yang cukup memadai. Aku kok mikir bahwa orang bakal rela-rela aja ngelakuin kecurangan-kecurangan semacam itu ya?”

“Hmmmm….bisa jadi sih. Tapi, kamu sadar nggak, efek destruksi yang dihasilkan dari pejabat-pejabat yang jadi maling itu sangat jauh lebih besar dibandingkan kecurangan-kecurangan kecil yang mungkin dilakukan oleh orang dalam contohmu tadi. Jadi, ya walaupun dua-duanya punya porsi kesalahan karena berbuat tidak jujur. Kamu mungkin masih lebih “dimaafkan” kalau kamu melakukan sesuatu itu demi kelangsungan hidup anak istrimu, dibandingkan dengan ketidakjujuran yang berakhir pada kesenangan dan kebanggaan diri sendiri atau demi kelanggengan jabatan. Ya mungkin gitu…ah susah ah…males mikirnya…” imbuhku.

“Eh tapi ngomong-ngomong soal anak. Hagia mana ya? Bukannya tadi sama kamu, Pink?”

“Lho…tadi bukannya kamu yang ndorong strollernya? Jangan-jangan ketinggalan di halte?”

“Wooooooo……………@#$$%$#@#$$#$%.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s