Beberapa waktu yang lalu ada kejadian yang cukup menyebalkan. Jadi ceritanya, salah seorang tetangga sudah menyelesaikan studinya dan akan pulang ke negaranya yang merupakan salah satu dari negara Dunia Ketiga (tp bukan Indonesia sih). Layaknya seseorang yang sudah mau pulang, maka dia pun membuang barang-barang yang sudah tidak dipakai seperti peralatan dapur, kasur, rice cooker, dan berbagai macam barang lainnya.

Nah, masalahnya, entah motivasi apa yang mendasari, mungkin karena banyak urusan atau ribet-ribet yang lainnya. Dia membuang semua barang (gelas, panci, wajan, rice cooker, kasur, dan berbagai macam barang lainnya) ke dalam plastik yang didesain untuk sampah burnable. Yang mana ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Ya tentu saja, karena cara membuang sampahnya nggak bener, sama petugas sampahnya juga nggak diangkut. Cuma dibiarkan saja teronggok di sana dan kena hujan. Akhirnya, pemilik kontrakan yang super baik hati lah yang mengelompokkan sampah tersebut. Heran banget, kayanya ya udah sekolah jauh-jauh, tapi kok ya masalah beginian aja nggak bisa dilakukan dengan benar lho.  

Padahal di kota ini, ada peraturan tertulis tentang kapan, barang apa, dan bagaimana  cara membuang barang. Misalnya, sampah rumah tangga yang bisa dibakar (burnable) seperti bungkus makanan, kertas, popok bayi, dan sebagainya harus dimasukkan ke dalam plastik bertuliskan burnable (beli atau bisa dikasih sama pemerintah kota) yang bakal diambil seminggu dua kali. Sedangkan, sampah unburnable semisal panci, gelas, wajan, harus dimasukkan ke dalam plastik  bertuliskan unburnable yang bisa dibeli di supermarket atau toko obat, harganya sih 770 yen untuk plastik 30 liter (5 buah). Untuk barang-barang lainnya, seperti botol plastik PET, harus dicopot tutup dan plastik merknya baru bisa dibuang sendiri, juga untuk botol-botol kaca bekas minuman beralkohol dan kaleng minuman juga harus dipisahkan dan dikumpulkan tersendiri.

Buang sampah di negara ini adalah urusan yang lumayan susah. Di tempat umum, bahkan di tempat-tempat yang ramai sekalipun, sangat jarang dijumpai tempat sampah. Malah kita bakal lebih gampang menemukan vending machine dibandingkan menemukan tempat sampah. Alhasil, sampah yang dihasilkan di jalan ya harus dibawa pulang. Nggak cuman sampah yang dihasilkan manusia, pemilik anjing atau kucing juga nggak bisa membiarkan anjing mereka eek atau pipis sembarangan. Bila peliharaan mereka buang hajat di taman, mereka bakal mengambil eek tsb lalu dimasukkan ke plastik atau mengguyur pipis dengan air yang mereka bawa sendiri dari rumah. Makanya, anak-anak di sini juga nggak masalah main-main pasir di taman. Soalnya, tamannya bebas dari eek anjing atau kucing. Jadinya, nggak rentan untuk menyebarkan penyakit. Hebat juga sih kalau yang udah sampai tahap ini mah.

Mungkin kebiasaan buang sampah belum menjadi hal yang dipahami oleh masyarakat negara dunia ketiga kali ya. Padahal, urusan buang sampah di negara-negara tersebut, termasuk juga di Indonesia, bisa jadi lebih simple dibandingkan dengan di negara-negara maju. Hal ini karena pemerintah nggak mewajibkan untuk memilah-milah sampah. Jadi ya, asal sampahnya masuk ke tong sampah aja udah cukup. Nggak buang sampah di sungai, selokan, atau di sembarang tempat dianggap sudah lumayan membantu pengelolaan sampah. Lah, se-simple itu aja, kayanya banyak juga yang nggak bisa menerapkannya kok. Apalagi harus pakai acara milah-milah sampah dan dibuang sesuai harinya. Bikin hidup tambah ribet aja, mbok yang gampang-gampang aja to, begitu mungkin yang ada di pikiran.

Saya jadi ingat salah satu video yang menginterview orang asli Jepang, si eyang ini berkata, salah satu yang dia nggak suka dari orang asing adalah gara-gara mereka nggak bisa buang sampah secara benar. Kata beliau, banyak dari mereka yang sering salah mengklasifikasikan jenis sampah dan bagaimana cara membuangnya.

Nah, bisa dilihat, bahwa masalah buang sampah ini adalah salah satu hal yang seharusnya dipahami dengan baik oleh orang-orang yang mau tinggal di sini. Ternyata, bagi beberapa orang, hal-hal kaya gini cukup sensitif. Apalagi kita biasanya bertetangga langsung dengan orang-orang Jepang. Mesti akan ada sentimen negatif bila kita tertangkap mata nggak bisa buang sampah dengan benar. Jangan sampai mereka yang sudah secara baik menerima kita sebagai orang asing yang tinggal di negara mereka. Malah jadi punya image yang buruk gara-gara masalah-masalah kaya gini. Apa ya nggak malu po kalau negara kita dicap sebagai negara yang primitif gara-gara sering buang sampah sembarangan. Hhhhhhhhhhhhhhhhh.

Untuk info lengkap tentang persampahan di kota Minoo bisa dilihat di tautan berikut:

https://www.city.minoh.lg.jp/jinken/kokusai/guidebook/garbage.html

Advertisements

2 thoughts on “#36 Buang Sampah (Tidak) pada Tempatnya

  1. ya ampun apik banget! aku akan dg senang hati ngikutin aturan pemerintah soal pemilahan sampah ini loh. Udah dibikinin sistem yg baik, tinggal ngikutin, apa susahnya ya. kapan di Jakarta pembuangan sampah bisa diatur sedetil ini? huhuhu…

    Like

    1. Halo mbak, salam kenal. Baru aja follow gara-gara dengerin interview-nya di PAM, hahaha.
      Nggg..mungkin agak susah sih kalau nggak ada budayanya, kalau sedari dulu cuma dididik untuk mau gampangnya aja sih, ya macam gini mesti ribet banget itungannya..tinggal dicontek sebenernya kalau mau bikin peraturan mah, yang susah ya ngebangun budayanya..yaahhh..smg pelan-pelan bisa lah..hehe..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s