GhibliAkhir-akhir saya baru seneng ndengerin konser untuk memperingati 25 tahun berdirinya Studio Ghibli. Konser yang melibatkan banyak sekali musikus dan juga choir, baik anak maupun dewasa, ini sih udah dilangsungkan tahun 2010 di Nippon Budokan (bukan Budokai ya..kalau itu mah tempat martial arts di Dragon Ball, haha). Film pertama Ghibli adalah Castle in the Sky yang dikeluarkan tahun 1986, film kedua yang muncul adalah Grave of Fireflies tahun 1988 dan diikuti oleh Tonari no Totoro (My Neighbor Totoro) pada tahun yang sama. Salah satu mastermind dari scoring film-film Ghibli adalah Joe Hisaishi. Orang ini mungkin “Hans Zimmer”-nya Jepang kalau bisa saya bilang. Seorang komposer yang mampu membuat pendengarnya merasakan tiap-tiap nada yang dihasilkan dan membawa imajinasi mereka entah melanglang buana kemana. Dia membuat komposisi ost Ghibli sejak pertama kali berdiri, walaupun ada kontribusi dari komposer lainnya juga. Kalau kita ngedengerin konser ini pakai earphone atau headset, suasana magisnya kerasa banget. Kadang-kadang kita bisa senyum-senyum sendiri saking senengnya ataupun malah terharu gara-gara notasinya yang sendu. 

Saking terkenalnya, mungkin hampir semua anak-anak Jepang tumbuh dengan soundtrack dari film-film ini deh. Terbukti, kemarin pas si Otong berenang, pelatih renangnya selalu menyanyikan salah satu OST dari Tonari no Tottoro yaitu Arukou. Saya terus mikir, gila lho, ini film udah berumur 29 tahun semenjak dirilis pertama kali (bahkan lebih tua dari saya sebulan) dan masih juga jadi lagu favorit yang selalu diajarkan ke anak-anak di sini. Saya membayangkan bahwa mungkin di keluarga Jepang, mereka selalu rutin memainkan lagu-lagu dengan komposisi ciamik ini. Serasa mengenalkan musik klasik ala Mozart atau Bethoven tapi dengan kemasan yang mudah dipahami oleh anak-anak.   Sebenarnya nggak cuma lagu anak-anak dari studio Ghibli aja yang terkenal. Lagu-lagu dari Anpanman atau lagu anime lain juga nggak kalah bagus sih dan rutin dinyanyikan oleh anak-anak.

Di Indonesia, saya masih ingat dan hapal lagu-lagu yang sering dinyanyikan oleh para penyanyi cilik jaman dulu seperti Joshua, Tasya, Geovanni, Trio Kwek-kwek dan sederet penyanyi lainnya. Nggak bakal lupa kayanya sampai saya mati mah. Saya mikir, berarti influence lagu anak tuh sebenarnya besar banget dalam perkembangan bocah-bocah itu nanti ya. Lagu-lagu itu akan secara bawah sadar mengendap dalam memori-memori mereka. Sungguh sangat menyenangkan bila anak-anak bisa tumbuh dengan mendengarkan komposisi lagu-lagu yang indah, grande, dan lirik-lirik sederhana yang bisa mereka cerna sendiri dalam bahasa Indonesia. Betapa kita bisa dengan sangat mudah menanamkan hal-hal yang baik sedari kecil lewat lagu-lagu tersebut.

Agak khawatir juga sekarang ini karena nggak ada stock lagu-lagu anak asli Indonesia yang baru, kebanyakan adalah lagu-lagu lama yang dirilis oleh begawan-begawan lagu anak semacam Pak Kasur, Ibu Kasur, Pak AT Mahmud atau Papa T.Bob. Setau dan seinget saya, lagu anak-anak yang terakhir kali dirilis adalah “Jangan Takut Akan Gelap” yang dinyanyikan Sheila on 7 dan Tasya. Itupun sudah berumur 10 tahun yang lalu. Kayanya praktis nggak ada lagu-lagu anak setelah era itu deh atau saya aja yang kudet. Padahal, kalau mau dibikin industri, pasar lagu anak-anak pasti akan besar banget peminatnya, mengingat nggak ada pelaku yang mau berkiprah di kancah ini.

Medianya sebenarnya nggak usah melulu lewat tv nasional. Cukup upload video di youtube juga kayanya sekarang banyak yang nonton. Yang penting adalah ada pencipta lagunya dan ada yang mau nyanyiin. Lumayan lho, anaknya bisa jadi artis terkenal kalau emang punya suara dan lagunya juga bagus. Bisa jadi legenda kaya Sherina atau Joshua pula, kalau semisal banyak yang ndengerin. Kurang keren apalagi coba. Plus menyebarkan inspirasi kebaikan buat semua orang. Nah lho, kan pahalanya bisa berlebih-lebih to kalau kaya gitu urusannya.

Hah, tapi kayanya susah sih buat mengharapkan adanya lagu-lagu anak sekeren jaman dulu gitu. Sekarang mah yang penting anaknya dicecoki sama ortunya lagu-lagu dewasa. Lah ya gimana lagi, kalau ortunya nggak mampu mengakses internet yang layak dan nggak bisa nonton Youtube, ya konsumsi hiburan satu-satunya kan cuma dari tv. Sedangkan, lagu anak-anak di tv udah jarang lagi yang nongol secara rutin. Dulu masih ada Ci Luk Ba atau Tralala Trililili. Tapi, sekarang kan punah sama sekali, entah nggak tau dimana.

Jadi ya jangan heran sampai pada saatnya nanti, kalau bocah-bocah udah gedhe, yang diingat sebagai lagu kenangan dan jadi soundtrack masa kecilnya mereka adalah lagu Sambalado-nya Ayu Ting Ting. Wadaw.

Konser 25 Tahun Studio Ghibli.

 

Lagu Paporit, Ashitaka and san.

 

Wawancara Adriano Qalbi dan Joshua tentang artis-artis cilik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s