Image result for physics is fun

Kebetulan saya di sini bertetangga dengan dosen Fisika dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Gara-gara beberapa hari lagi dia bakal balik ke Indonesia, kami pun ngobrol tentang apa yang mau dia lakukan sepulang dari Jepang.  Ternyata, dia punya visi yang keren tentang bagaimana seharusnya orang belajar Fisika dan efek yang bisa ditimbulkan ketika banyak orang mulai memahami/menerapkan Fisika dan atau Matematika untuk kehidupannya sehari-hari.

Ketika mendengar kata Fisika pertama kali, jelas yang ada di benak orang-orang adalah monster yang amat susah untuk ditaklukkan. Itu adalah citra yang dipahami oleh masyarakat umum Indonesia (dan mungkin di negara lain juga). Saya masih ingat pas SMA kelas 2 hampir nggak naik kelas gara-gara nggak bisa sama sekali ngerjain soal-soal Fisika waktu ujian semester. Udah pasrah gara-gara cuma bisa nulis “diketahui” di lembar soal essay. Cuma dikasih upah nilai 5 dari total 32. Hahaha. Edan. Kondisi yang sama berulang waktu mau Ujian Akhir Sekolah di kelas 3. Saking depresinya nggak paham-paham tentang Fisika, malam sebelum ujian, saya dan temen-temen sudah memasrahkan nasib dan kumpul-kumpul bertajuk “belajar bareng” itu hanya diakhiri dengan menyalakan lilin dan berdoa bersama. Saking sudah terlalu putus asa.

Mendengar pengalaman itu, dia pun berkata, “Kamu tau nggak kenapa banyak orang yang benci banget sama Fisika. Ya, itu gara-gara guru-guru Fisika di sekolah nggak bisa memberikan penjelasan dan pemahaman yang baik tentang Fisika. Kebanyakan dari mereka hanya berfokus pada hapalan rumus-rumus tanpa pernah menanamkan konsep cara berpikir tentang Fisika itu sendiri. Ditambah lagi, kalau udah kelas 3, mereka bakal masuk ke bimbingan belajar terus disana bakal dicekoki dengan rumus-rumus cepat. Semakin jauhlah mereka dari pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana menghadapi Fisika.”

“Padahal, kalau mau diajarin dengan cara yang benar. Fisika itu sebenarnya sangat menyenangkan dan applicable dalam kehidupan sehari-hari lho. Saya nyoba ngebandingin teman-teman yang paham Fisika dan nggak paham Fisika. Saya ngeliat kalau mereka yang paham Fisika lebih punya daya analisis yang tajam dibanding mereka yang nggak paham. Kalau nggak paham Fisika, biasanya lebih lambat untuk menganalisis sesuatu dan jatuhnya sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Selain, kalau kita paham Fisika, cara pikir kita akan logis, terstruktur dan sistematis juga. Memang nggak bisa digeneralisir sih, tapi paling enggak, bisa sampai tahap kaya gitu lho, Fisika mempengaruhi cara pikir seseorang.”  

“Makanya, gara-gara hal-hal itulah terus saya mikir bahwa harus ada seseorang yang mampu mematahkan mitos tentang Fisika yang horor. Kalau nggak ada yang mau turun tangan memperbaiki kondisinya ya akan susah bagi Indonesia untuk bisa bersaing dalam hal teknologi dan sains.” imbuhnya.

“Kalau udah ngeliat kaya gitu, berarti apa yang bakal dilakuin sepulang ke Indonesia?” tanyaku.  

 “Rencananya sih, sepulang dari sini, saya mau bikin semacam les-lesan gratis untuk pelajar-pelajar yang berminat untuk belajar Fisika. Saya sih pingin mengenalkan bahwa Fisika itu juga bisa jadi cabang ilmu yang layak untuk dicintai dan dipelajari. Awalnya sih targetnya nggak muluk-muluk, mungkin bisa dimulai dengan jumlah murid yang sedikit. Tapi nanti kalau semisal rencana ini bisa berjalan dengan lancar dan peserta semakin banyak, toh ane punya sumber daya mahasiswa Fisika yang bisa dimintain tolong untuk ngajar adik-adiknya yang masih SMA atau SMP. Kan lumayan bagi mereka, dengan ngajar, ilmu yang didapat di kuliah juga bisa berguna untuk orang lain, sekaligus memberikan pemahaman yang lebih untuk si mahasiswa itu sendiri. Mengajar orang lain adalah cara paling baik untuk memahami sebuah topik tertentu. “ begitu katanya.

“Wedan..hebat banget tuh kayanya, kalau semisal ente bisa membuat murid-murid di kotamu jadi jatuh cinta sama Fisika. Bisa jadi berita nasional tuh…hahaha…” kataku.

“Ya, itu mah keinginan jangka panjangnya sih. Sebenarnya motivasinya sih sederhana banget. Saya itu berasal dari keluarga yang biasa-biasa aja. Dulu, saya sama sekali nggak bisa ikut bimbingan belajar waktu mau ujian nasional, gara-gara nggak punya uang. Akhirnya ya udah, buku-buku temen-temen yang belajar di bimbel, saya fotokopi aja semua, terus belajar dari situ. Eh, kok ya dapet rejeki masuk ke jurusan Fisika terus sekarang bisa jadi dosen.

Saya sih cuma ngerasa kalau pendidikan tu sekarang mahal banget. Kondisi inilah yang membuat gap-nya semakin besar. Kalau mereka-mereka yang kaya mah enak karena punya uang buat masuk ke sekolah yang bagus, dapet guru-guru terbaik ditambah fasilitas yang mumpuni. Lah, anak-anak yang nggak punya uang terus gimana nasibnya? Ya, nggak bisa bersaing dengan mereka-mereka yang punya sumber daya lebih lah. Walaupun, nggak selamanya uang itu jadi faktor penentu. Tapi, menurut pengalamanku, lumayan berpengaruhlah terhadap akses terhadap pendidikan.” kata dia panjang lebar.

“Saya sih cuma kepingin ngeliat orang lain juga pinter gitu lho Pink. Ada kesenangan tersendiri yang nggak bisa diukur dengan uang kalau bisa ngajarin anak yang dulu nggak bisa itung-itungan, terus malah bisa masuk ke SMA favorit. Kepuasannya nggak terbayangkanlah. Lagian, di Pembukaan UUD 1945 juga ada kata-kata “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” kan, ya inilah wujud konkrit yang mau saya lakukan. Saya itu udah dapet kesempatan untuk bisa sekolah sampai S3 plus udah dapat rejeki jadi abdi negara, tapi masak nggak ada timbal balik yang tak berikan ke society sih. Kalau mau peka, ya masih banyak banget yang membutuhkan bantuan untuk mengakses pendidikan-pendidikan dasar. Masak ya cuma mau hidup sampai umur 80 tahun kaya orang-orang kebanyakan tanpa ninggalin apapun ke sesama sih. Males juga kalau kaya gitu. Padahal, mendidik orang lain adalah kewajiban dari mereka-mereka yang terdidik. Nggak malah, kepinterannya cuma buat dirinya sendiri. Yah..gitu lah, saya tu sadar kalau mau ngejar Nobel kaya Einsten ya nggak bakal mungkin kayanya. Atau kalau mau jadi milyuner kaya Bill Gates juga nggak bakal kesampaean. Jadi ya..gini-gini ajalah, nggak usah yang muluk-muluk…hehe…semoga aja bisa dieksekusi…” pungkas dia.

Tiba-tiba terdengar suara dari dalem, “Pak’e, udah jam setengah 2 pagi lho…”

 “Waduhhhh…besok harus masukkkkk…bubar-bubar…”

  

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s